Kanal24, Malang – Potensi panas bumi Gunung Ungaran, Jawa Tengah, mulai diarahkan untuk mendukung tambahan pasokan listrik rendah emisi. Pemerintah menyiapkan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Ungaran dengan kapasitas sekitar 55 megawatt (MW).
Meski demikian, pembangkit tersebut belum masuk tahap konstruksi maupun pengeboran. Hingga September 2026, pengembangan masih berada pada tahap perencanaan, studi kelayakan, dan eksplorasi. Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, PLTP Gunung Ungaran ditargetkan beroperasi pada 2031.
Baca juga:
Ketika Ka’bah berpindah ke hati
Pengembangan Masih Tahap Kajian
Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Gunung Ungaran mencakup wilayah Kabupaten Semarang dan Kabupaten Kendal. Pemerintah menegaskan proses pengembangan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan aspek teknis, keselamatan, lingkungan, perizinan, serta kondisi sosial masyarakat.
Tahapan tersebut diperlukan untuk memastikan potensi panas bumi di bawah permukaan benar-benar layak dikembangkan. Kajian geologi dan geofisika akan menjadi dasar untuk menentukan karakteristik reservoir serta lokasi yang memungkinkan digunakan untuk pengeboran eksplorasi.
Pemerintah juga menegaskan titik pengeboran nantinya tidak ditentukan hanya berdasarkan posisi sumber panas bumi yang terlihat di permukaan. Dengan teknologi directional drilling, pengeboran dapat diarahkan menuju target reservoir dari titik tertentu sesuai hasil kajian teknis.
Artinya, kapasitas 55 MW yang saat ini disebutkan masih merupakan rencana pengembangan. Besaran kapasitas dan kelayakan proyek tetap bergantung pada hasil eksplorasi serta penelitian yang dilakukan pada tahap berikutnya.
Kondisi tersebut penting karena pengembangan panas bumi membutuhkan kepastian mengenai karakter reservoir sebelum pembangkit dapat dibangun. Pemerintah dan PLN masih harus memastikan sumber panas bumi memiliki potensi yang memadai untuk mendukung pembangkitan listrik secara komersial.
Panas bumi sendiri memiliki karakter sebagai sumber energi yang dapat digunakan untuk pembangkit base load. Berbeda dengan sumber energi yang sangat bergantung pada kondisi cuaca, pembangkit panas bumi dapat menghasilkan listrik secara lebih stabil selama sumber panas dan fasilitas pembangkit tersedia.
Jika terealisasi sesuai rencana, kapasitas 55 MW dari Gunung Ungaran dapat menambah pasokan listrik di Jawa Tengah sekaligus memperluas pemanfaatan energi terbarukan.
Gedong Songo Jadi Perhatian
Pengembangan PLTP Gunung Ungaran juga mendapat perhatian karena wilayahnya berada di sekitar kawasan yang memiliki nilai lingkungan dan budaya.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah Candi Gedong Songo. Pemerintah menegaskan pelestarian kawasan cagar budaya tersebut harus menjadi bagian dari setiap tahapan pengembangan proyek.
Kementerian ESDM menyatakan pengembangan panas bumi harus mengacu pada ketentuan zonasi dan prinsip pelestarian kawasan cagar budaya. Kajian sosial juga diperlukan untuk memetakan kondisi masyarakat serta para pemangku kepentingan di sekitar wilayah kerja.
PLN kemudian menegaskan bahwa rencana titik pengeboran PLTP Gunung Ungaran tidak berada di area Candi Gedong Songo. PLN juga menyebut proyek tersebut masih dalam tahap perencanaan dan studi kelayakan sehingga belum memasuki konstruksi maupun pengeboran.
Selain aspek cagar budaya, kebutuhan air dan potensi dampak terhadap lingkungan serta masyarakat juga menjadi bagian dari kajian sebelum proyek memasuki tahapan berikutnya.
Pemerintah menyebut penggunaan lahan untuk fasilitas PLTP nantinya hanya sebagian kecil dari keseluruhan wilayah kerja. Dari total wilayah kerja panas bumi, lahan yang digunakan untuk fasilitas pembangkit berkapasitas 55 MW diperkirakan kurang dari satu persen. Namun, lokasi dan kebutuhan lahan tetap akan ditentukan berdasarkan kajian teknis, kondisi lapangan, tata ruang, serta persyaratan lingkungan.
Dengan demikian, pembahasan mengenai PLTP Gunung Ungaran tidak hanya berkaitan dengan berapa besar listrik yang dapat dihasilkan. Lokasi pembangunan, keselamatan, lingkungan, serta keberadaan kawasan cagar budaya juga menjadi bagian yang harus dipastikan sebelum proyek berjalan.
Potensi Listrik Dorong Ekonomi
Selain menambah pasokan listrik, pengembangan panas bumi Gunung Ungaran juga diharapkan memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi di wilayah sekitar.
Pasokan listrik yang stabil dapat mendukung kegiatan masyarakat dan dunia usaha. Industri, perdagangan, jasa, hingga usaha skala kecil membutuhkan energi yang andal untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.
Pengembangan energi terbarukan juga berpotensi menciptakan aktivitas ekonomi baru selama proses pembangunan dan pengoperasian pembangkit. Kebutuhan tenaga kerja, jasa pendukung, logistik, serta berbagai kebutuhan operasional dapat menjadi bagian dari rantai ekonomi proyek.
Namun, manfaat ekonomi tersebut tetap perlu berjalan beriringan dengan kepentingan masyarakat dan perlindungan lingkungan. Pengembangan energi tidak cukup hanya diukur dari tambahan megawatt yang masuk ke sistem kelistrikan.
Keterlibatan masyarakat sekitar menjadi salah satu bagian penting dalam proses tersebut. Pemetaan sosial diperlukan agar pemerintah dan pengembang memahami kondisi masyarakat serta potensi dampak yang muncul selama pengembangan proyek.
Di sisi lain, panas bumi menjadi salah satu sumber energi yang masih memiliki ruang pengembangan besar di Indonesia. Potensi panas bumi nasional jauh lebih besar dibandingkan kapasitas pembangkit yang telah terpasang.
Gunung Ungaran menjadi salah satu wilayah yang kembali masuk dalam agenda pengembangan tersebut. Namun, perjalanan menuju pembangkit yang benar-benar menghasilkan listrik masih membutuhkan sejumlah tahapan.
Studi kelayakan, eksplorasi, perizinan, kajian lingkungan, dan penentuan lokasi fasilitas harus diselesaikan sebelum pembangunan dimulai.
Jika seluruh proses berjalan sesuai rencana, PLTP Gunung Ungaran ditargetkan mulai beroperasi pada 2031 dengan kapasitas sekitar 55 MW. Kehadirannya nantinya diharapkan dapat menambah pasokan listrik sekaligus memperluas penggunaan energi terbarukan di Jawa Tengah.
Untuk saat ini, angka 55 MW masih menjadi target pengembangan, bukan kapasitas listrik yang sudah tersedia. Kepastian mengenai potensi dan kelayakan pembangkit akan ditentukan melalui proses eksplorasi dan kajian yang masih berlangsung. (ern)













