Kanal24, Malang – Permasalahan kesehatan mental di kalangan mahasiswa semakin kompleks seiring meningkatnya tekanan akademik dan dinamika sosial. Hal ini mengemuka dalam kegiatan Sosialisasi Penguatan Mental Health Mahasiswa dalam Menghadapi Hidup yang diselenggarakan Universitas Brawijaya di Gedung Widyaloka, Selasa (07/04/2026).
Kepala Subdirektorat Konseling, Pencegahan Kekerasan Seksual dan Perundungan Direktorat Kemahasiswaan UB, Ulifa Rahma, S.Psi., M.Psi., mengungkapkan bahwa terdapat berbagai faktor yang memengaruhi kondisi mental mahasiswa.
“Faktor keluarga menjadi salah satu penyebab terbesar, seperti pola komunikasi yang kurang baik dan tekanan dari lingkungan keluarga. Selain itu, masalah relasi juga sering muncul,” kata Ulifa.
Baca juga:
Lulusan UB Kini Diburu Pasar Global: Tembus Top 600 Dunia!
Ia menjelaskan, mahasiswa berada pada fase perkembangan yang membutuhkan keterikatan sosial. Namun, relasi dengan teman, pasangan, maupun dosen kerap menjadi sumber tekanan tersendiri.
Selain itu, masalah akademik seperti kesulitan manajemen waktu dan ketidaksesuaian dengan jurusan juga menjadi pemicu stres. Ditambah lagi dengan gaya hidup modern seperti FOMO (fear of missing out) yang memperburuk kondisi psikologis mahasiswa.
Program Resiliensi dan Intervensi
Untuk menjawab tantangan tersebut, UB menghadirkan dua program utama, yakni Kampus Sehat Mental dan program intervensi serta pendampingan.
“Program Kampus Sehat Mental berfokus pada psikoedukasi, seperti manajemen stres, penyesuaian diri, dan penguatan resiliensi mahasiswa,” jelas Ulifa.
Program ini melibatkan berbagai pihak, termasuk dosen penasihat akademik, orang tua, serta agen perubahan dari organisasi kemahasiswaan dan komunitas kampus.
Sementara itu, program intervensi dilakukan melalui pelatihan peer konselor di tingkat universitas dan fakultas, serta pelatihan bagi dosen agar mampu memberikan pendampingan awal kepada mahasiswa.

Layanan Konseling Berlapis
UB juga menyediakan layanan konseling yang terstruktur dan berlapis. Pada tahap awal, mahasiswa dapat mengakses layanan pencegahan melalui webinar, podcast, dan edukasi kesehatan mental.
Selanjutnya, tersedia layanan pendampingan melalui dosen, peer konselor, hingga figur pendamping seperti Sahabat Kampus. Jika diperlukan, mahasiswa dapat mengakses layanan profesional.
“Kami menyediakan layanan psikolog klinis, pendidikan, industri, hingga psikiater. Bahkan ada layanan konsultasi hukum untuk kasus tertentu seperti kekerasan seksual,” ujarnya.
Layanan ini dapat diakses secara langsung maupun daring, baik untuk individu, kelompok, maupun keluarga.
Pentingnya Kesadaran Diri
Ulifa menekankan bahwa langkah awal menjaga kesehatan mental adalah dengan mengenali diri sendiri. Mahasiswa perlu memahami kelebihan, kekurangan, serta tantangan yang dihadapi.
Selain itu, kemampuan mengelola emosi dan memiliki resiliensi menjadi kunci dalam menghadapi tekanan. Mahasiswa juga didorong untuk memiliki literasi kesehatan mental agar mengetahui kapan harus melakukan self-help dan kapan harus mencari bantuan profesional.
“Yang terpenting adalah tidak merasa sendiri dan berani mencari bantuan ketika dibutuhkan,” tegasnya.
Melalui berbagai program dan layanan yang disediakan, UB berharap mahasiswa dapat lebih siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan, baik di dalam maupun di luar kampus, dengan kondisi mental yang lebih sehat dan stabil. (nid/cay)














