Kanal24, Malang – Universitas Brawijaya (UB) melakukan evaluasi terhadap sistem keselamatan lingkungan kampus dan pendampingan mahasiswa menyusul insiden yang menimpa salah satu mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) UB. Evaluasi tersebut mencakup aspek keamanan gedung, layanan kesehatan mental, hingga mekanisme deteksi dini terhadap mahasiswa yang menghadapi persoalan.
Pihak FK UB menyampaikan perkembangan kondisi mahasiswa sekaligus langkah institusi dalam menangani situasi tersebut dalam sebuah forum bersama civitas akademika dan jurnalis. Dr. Hanif, M.Biomed., Sp.An., Ketua Program Studi Profesi Dokter FK UB, menjelaskan bahwa mahasiswa telah mendapatkan penanganan medis di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) dan masih menjalani perawatan lanjutan di ICU.
Baca juga:
FH UB Resmikan Brawijaya Adhyaksa Chamber Perdana
Mahasiswa Jalani Perawatan Lanjutan di ICU
“Mahasiswa telah mendapatkan rangkaian tindakan medis dari tim dokter berbagai spesialis di RSSA. Operasi yang dibutuhkan telah dilakukan dan selesai sekitar pukul 22.00. Setelah itu, mahasiswa menjalani perawatan lanjutan di ICU RSSA,” kata dr. Hanif dalam konferensi pers UB pada Jumat (11/09/2026).

Berdasarkan pemantauan terakhir yang diterima FK UB, kondisi mahasiswa secara umum masih stabil. Namun, dr. Hanif menegaskan bahwa dirinya bukan bagian dari tim medis yang menangani langsung sehingga informasi mengenai kondisi pasien disampaikan secara terbatas.
Pihak keluarga juga telah hadir dan berkomunikasi dengan universitas mengenai tindakan yang telah dilakukan maupun langkah selanjutnya. FK UB masih menunggu perkembangan resmi dari tim dokter yang menangani mahasiswa tersebut.
Di tengah situasi tersebut, universitas meminta dukungan dan doa dari civitas akademika serta masyarakat. Dr. Hanif juga mengingatkan agar informasi yang belum terverifikasi tidak disebarluaskan karena dapat merugikan mahasiswa, keluarga, maupun institusi.
FK UB Pastikan Kondisi Akademik Baik
FK UB juga melakukan penelusuran terhadap kondisi akademik dan keseharian mahasiswa. Berdasarkan keterangan fakultas, mahasiswa yang berada di semester ketiga tersebut menjalani perkuliahan dengan baik dan aktif dalam lingkungan akademik. Ia bahkan terlibat dalam membantu membimbing mahasiswa baru.
Fakultas juga telah melakukan konfirmasi kepada dosen penasihat akademik. Di FK UB, konsultasi dengan dosen penasihat akademik merupakan bagian wajib yang harus dijalani mahasiswa sebagai salah satu mekanisme deteksi dini terhadap persoalan yang mungkin dihadapi.
Dari hasil konsultasi tersebut, mahasiswa dinilai aktif dan tidak ditemukan indikasi persoalan akademik. Fakultas juga membantah kabar yang menyebut mahasiswa mengalami tekanan berat, masalah keluarga, maupun kecenderungan menyendiri selama menjalani perkuliahan.
Penelusuran juga dilakukan terhadap isu yang mengaitkan kejadian dengan kegiatan PK2 Maba. FK UB menyatakan mahasiswa tersebut memang pernah tidak hadir dalam kegiatan PK2 Maba pada tahun sebelumnya. Namun, ketidakhadiran tersebut telah diganti dan mahasiswa dinyatakan lulus sehingga tidak ada kaitan dengan kejadian yang berlangsung.
Dari sisi akademik, mahasiswa juga disebut memiliki perjalanan pendidikan yang baik, termasuk kehadiran dan prestasi. FK UB menyebut mahasiswa tersebut memiliki IPK 3,8. Fakultas tidak menemukan indikasi kesulitan akademik, tekanan dari kakak tingkat, maupun bullying. Sementara persoalan di luar ranah akademik tidak disampaikan karena menyangkut privasi mahasiswa dan keluarga.
Evaluasi Kesehatan Mental dan Keamanan Gedung
Selain kondisi akademik, FK UB menekankan pentingnya memahami bahwa persoalan kesehatan mental tidak selalu terlihat secara kasatmata. Seseorang dapat tetap aktif, ceria, dan mampu berinteraksi dengan lingkungan, tetapi belum tentu terbebas dari beban psikologis.
Karena itu, fakultas menjalankan skrining serta konsultasi sebagai bagian dari deteksi dini. Mahasiswa yang berdasarkan hasil skrining memiliki potensi persoalan kesehatan mental dapat memperoleh pendampingan khusus. Lingkungan pertemanan juga dinilai penting karena mahasiswa menghabiskan banyak waktu bersama teman-temannya dalam keseharian.
Universitas juga melakukan evaluasi terhadap aspek keselamatan gedung, terutama bangunan bertingkat dan akses menuju area tinggi. Evaluasi dilakukan karena sejumlah gedung lama memiliki desain yang belum sepenuhnya mempertimbangkan aspek keselamatan tersebut.
Salah satu langkah yang disiapkan adalah memperketat akses pada jendela atau bukaan tertentu. Bukaan akan diatur agar tetap memungkinkan sirkulasi udara, tetapi tidak dapat dilalui manusia. Evaluasi serupa telah dilakukan di lingkungan FK UB terhadap seluruh gedung yang memiliki akses atau jendela terbuka.
Universitas juga memastikan layanan psikologi dan mekanisme penanganan kekerasan tersedia bagi mahasiswa. Fakultas memiliki layanan pendampingan, sedangkan di tingkat universitas tersedia satuan tugas yang didukung tenaga psikolog untuk menangani kasus yang membutuhkan penanganan khusus.
Untuk aspek kesehatan, UB menyatakan memiliki skema bantuan bagi mahasiswa yang mengalami kecelakaan maupun sakit. Dalam kasus ini, biaya perawatan mahasiswa ditanggung oleh universitas sesuai ketentuan bantuan kesehatan yang berlaku.
Sementara mengenai motif dan penyebab kejadian, FK UB menegaskan bahwa proses tersebut merupakan ranah kepolisian. Hingga keterangan disampaikan, universitas belum menerima hasil resmi terkait motif maupun penyebab kejadian dan memilih menunggu proses penyelidikan aparat.
Melalui evaluasi menyeluruh tersebut, UB berkomitmen memperkuat sistem keselamatan kampus sekaligus meningkatkan pendampingan kesehatan mental mahasiswa. Evaluasi akan dikoordinasikan dengan seluruh fakultas agar upaya pencegahan dan perlindungan mahasiswa dapat berjalan lebih optimal.(ffn)













