Kanal24, Malang – Pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam pengelolaan jaringan digital perguruan tinggi semakin dibutuhkan seiring meningkatnya kompleksitas operasional dan ancaman keamanan siber. Namun, penggunaan layanan AI publik juga menghadirkan tantangan tersendiri, terutama terkait perlindungan data dan informasi sensitif institusi.
Menjawab tantangan tersebut, Universitas Brawijaya (UB) mendorong pengembangan LLMNetOps (Strengthening Network Operations with Privacy-First AI). Inisiatif ini diarahkan untuk memperkuat pengetahuan dan kemampuan pengelola jaringan perguruan tinggi melalui pemanfaatan teknologi Large Language Model (LLM) yang dioperasikan secara lokal.
Pengembangan proyek tersebut dibahas dalam workshop bertajuk LLMNetOps: Strengthening Network Operations with Privacy-First AI yang berlangsung di Ballroom Lantai 3 Ijen Suites Resort & Convention Malang, Jumat (06/11/2026). Kegiatan ini menghadirkan akademisi, praktisi teknologi informasi, serta pemangku kepentingan untuk membahas penerapan AI dalam mendukung operasional jaringan dan keamanan digital perguruan tinggi.
Baca juga:
Akademisi Akita University Tekankan Motivasi dalam Pembelajaran Bahasa

Pustadin Kemendiktisaintek (Puguh/Kanal24)
Associate Professor Fakultas Ilmu Komputer UB sekaligus Ketua Departemen Teknik Informatika, Dr. Achmad Basuki, S.T., M.MG., Ph.D., menjelaskan bahwa LLMNetOps berupaya mengintegrasikan dan mengembangkan berbagai pengetahuan serta teknologi yang telah tersedia untuk membantu para pengelola jaringan atau network operators di lingkungan perguruan tinggi.
Menurutnya, salah satu persoalan utama dalam pemanfaatan AI publik adalah potensi terbukanya informasi yang dimasukkan pengguna kepada penyedia layanan. Padahal, pengelolaan jaringan kampus kerap bersinggungan dengan informasi internal dan data yang bersifat konfidensial.
“Karena menggunakan model AI yang ada di publik, kita punya risiko data-data kita bisa terbaca oleh penyedia publik tersebut. Sehingga kita berinisiatif bagaimana cara mengelola LLM ini. Kita hosting sendiri dan menjaga data-data kita sehingga privasi kita lebih terjaga,” jelas Achmad.
Ia menambahkan, penggunaan AI lokal menjadi salah satu pendekatan untuk membantu perguruan tinggi memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan tanpa mengabaikan aspek perlindungan informasi. Terlebih, operasional jaringan semakin kompleks dan membutuhkan kecepatan dalam mengidentifikasi serta menangani berbagai permasalahan teknis.
Achmad menilai AI dapat membantu mempercepat proses penanganan masalah jaringan. Namun, penerapannya tetap membutuhkan strategi yang tepat, terutama dalam menentukan jenis data yang dapat diproses menggunakan model lokal maupun layanan AI publik.
Ia mengakui model AI publik atau frontier models umumnya menawarkan kemampuan yang lebih maju. Karena itu, perguruan tinggi perlu memahami karakteristik masing-masing model dan memilah informasi berdasarkan tingkat sensitivitasnya.
“Tidak bisa dipungkiri model-model di publik itu biasanya lebih canggih dan memberikan hasil yang lebih baik. Jadi kita butuh strategi untuk melakukan hal itu,” ujarnya.
Ancaman Kebocoran Data dan Pentingnya Kesadaran Pengguna
Achmad juga mengingatkan bahwa risiko kebocoran informasi berkaitan dengan sistem teknologi dan juga kebiasaan pengguna dalam berinteraksi dengan layanan AI. Informasi pribadi, kredensial, hingga dokumen internal yang dimasukkan ke dalam platform digital berpotensi menimbulkan persoalan apabila tidak dikelola secara hati-hati.
Ia mencontohkan, informasi seperti nomor seri perangkat lunak, nama pengguna, kata sandi, hingga sertifikat digital merupakan jenis data yang harus mendapatkan perlindungan khusus. Karena itu, pengguna perlu memahami batasan informasi yang aman untuk dibagikan melalui layanan AI.
Menurutnya, tantangan tersebut semakin relevan bagi perguruan tinggi karena aktivitas operasional jaringan melibatkan berbagai informasi internal yang tidak seluruhnya dapat dibuka kepada pihak eksternal.
Melalui workshop LLMNetOps, peserta mendapatkan pemahaman konseptual dan pengalaman teknis melalui pendekatan hands-on. Materi dirancang dalam empat hingga lima sesi yang mencakup pemanfaatan AI secara umum, keamanan siber, serta penerapannya untuk mendukung operasional perkantoran di lingkungan kampus.

IDREN Dorong Kolaborasi dan Kemandirian Teknologi
Dari perspektif jejaring perguruan tinggi, Widyawan, S.T., M.Sc., Ph.D. dari Indonesia Research and Education Network (IDREN) menilai pengembangan LLMNetOps memiliki relevansi penting bagi penguatan kolaborasi antarkampus.
Menurutnya, IDREN merupakan komunitas yang menghubungkan para pengelola teknologi informasi perguruan tinggi. Jejaring tersebut menjadi modal penting untuk membangun kerja sama dalam menghadapi ancaman keamanan siber yang dialami satu institusi dan berpotensi berdampak pada banyak perguruan tinggi.
Ia menekankan bahwa ancaman keamanan digital dapat berasal dari dalam maupun luar institusi. Oleh karena itu, penanganannya membutuhkan kesadaran bersama, pertukaran pengetahuan, serta kolaborasi antarpengelola jaringan.
“Kita berkumpul di sini untuk berkolaborasi menangani atau berusaha mengatasi ancaman itu. Ancaman keamanan siber merupakan ancaman bersama, satu kampus, hingga beberapa kampus atau bahkan institusi lainnya,” ungkap Widyawan.
Lebih jauh, ia berharap pengembangan teknologi seperti LLMNetOps dapat mendorong perguruan tinggi Indonesia menjadi pengguna teknologi dari luar negeri, serta mampu menghasilkan inovasi sendiri.
Menurutnya, kemampuan menciptakan teknologi memiliki keterkaitan dengan kemandirian ekonomi sekaligus kedaulatan teknologi nasional.
“Kita tidak hanya menjadi konsumen, hanya membeli atau memakai teknologi luar negeri, tetapi harusnya bisa menciptakan. Itu memengaruhi banyak hal, mulai dari kemandirian teknologi, ekonomi, hingga kedaulatan,” tegasnya.
Widyawan juga mengingatkan bahwa perlindungan data merupakan tanggung jawab bersama. Selain penguatan teknologi pada penyedia layanan digital, pusat data, dan server, faktor manusia menjadi aspek yang tidak kalah penting.
Ia menilai pengguna masih menjadi salah satu titik rentan dalam keamanan informasi, terutama ketika berhadapan dengan praktik social engineering. Karena itu, peningkatan kesadaran dan pembaruan pengetahuan mengenai keamanan digital harus dilakukan secara berkelanjutan.
Kemendiktisaintek Apresiasi Inisiatif UB
Dukungan terhadap pengembangan teknologi AI secara mandiri juga disampaikan Kepala Bidang Tata Kelola SPBE dan Transformasi Digital Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pustadin) Kemendiktisaintek, Dr. Didi Rustam.
Ia mengapresiasi inisiatif UB melalui pengembangan LLMNetOps yang dinilai dapat menjadi pemicu bagi perguruan tinggi lain untuk mengembangkan proyek serupa.
Menurut Didi, Indonesia memiliki sumber daya manusia, institusi pendidikan, dan potensi akademik yang besar untuk menghasilkan inovasi teknologi. Potensi tersebut perlu dioptimalkan agar perguruan tinggi menjadi pengguna dan juga berkontribusi dalam menciptakan teknologi AI.
“Saya mengapresiasi inisiatif LLMNetOps Project kepada Pak Achmad Basuki dan tim yang telah menginisiasi kegiatan ini. Mudah-mudahan menjadi pemicu bagi perguruan tinggi lain untuk melaksanakan hal serupa,” ujarnya.
Ia menilai pengembangan teknologi semacam ini memang tidak mudah. Namun, langkah yang dilakukan UB dapat menjadi contoh bagi institusi pendidikan tinggi lainnya untuk mulai membangun kapasitas teknologi secara mandiri, bahkan mengembangkan inovasi yang lebih maju.
Dari sisi kementerian, Didi berharap kegiatan tersebut dapat memperluas pemahaman komunitas perguruan tinggi mengenai penerapan LLMNetOps sehingga teknologi yang dikembangkan tidak berhenti pada tahap pengenalan, tetapi dapat diterapkan dalam lingkungan institusi masing-masing.
“Harapannya teman-teman memahami dengan baik bagaimana LLMNetOps ini bisa diterapkan di komunitas dan perguruan tinggi kita,” tambahnya.
Melalui LLMNetOps, UB berupaya mempertemukan kebutuhan penguatan operasional jaringan, perlindungan data, dan pengembangan kapasitas teknologi AI di lingkungan pendidikan tinggi. Kolaborasi antara akademisi, komunitas jaringan pendidikan, dan pemerintah diharapkan dapat mempercepat pemanfaatan AI yang efisien dan juga memperhatikan keamanan serta kedaulatan data institusi. (nid)













