Kanal24, Malang – Universitas Brawijaya (UB) menegaskan langkah hilirisasi riset dengan meluncurkan BOUMI, brand personal care anak berbasis bahan alami yang dikembangkan dari laboratorium kampus menuju pasar. Produk ini menyasar anak usia 4–14 tahun dan hadir sebagai jawaban atas kebutuhan perawatan kulit anak yang selama ini dinilai belum terlayani secara tepat.
Peluncuran BOUMI bukan sekadar menghadirkan produk baru, melainkan menandai pergeseran peran kampus—dari produsen pengetahuan menjadi aktor dalam ekosistem inovasi yang berdampak langsung ke masyarakat. Model yang digunakan mengusung pendekatan Penta Helix, yang menghubungkan akademisi, industri, komunitas, pemerintah, dan media dalam satu rantai inovasi.
Dalam konteks ini, UB tidak hanya berperan sebagai pusat riset, tetapi juga penggerak hilirisasi melalui kolaborasi strategis dengan industri. Produk BOUMI diproduksi bersama mitra industri kosmetik nasional dengan standar Good Manufacturing Practice (GMP), memastikan kualitasnya mampu bersaing di pasar.
Kepala Institut Atsiri UB, Warsito, menegaskan bahwa kekuatan utama BOUMI terletak pada basis ilmiah yang dibangun dari riset panjang terhadap kekayaan hayati Indonesia.
“Atsiri bukan sekadar wangi — atsiri adalah sains. Dan Boumi membuktikannya.”
Ia menjelaskan bahwa selama ini Indonesia dikenal sebagai produsen besar minyak atsiri, namun sebagian besar masih diekspor dalam bentuk bahan mentah. Melalui BOUMI, UB mencoba mengubah paradigma tersebut dengan menghadirkan produk bernilai tambah tinggi berbasis riset lokal.
Salah satu inovasi yang paling menonjol dalam lini produk ini adalah penggunaan rambut jagung (corn silk) sebagai bahan aktif sunscreen anak. Selama ini, limbah pertanian tersebut tidak memiliki nilai ekonomi signifikan. Namun melalui riset, ditemukan bahwa kandungan ferulic acid dan flavonoid di dalamnya memiliki kemampuan menyerap sinar ultraviolet.
Dosen Teknologi Pertanian UB, Ocha, yang mengembangkan inovasi ini, menegaskan nilai dari pendekatan tersebut.
“Yang selama ini kita buang ternyata menyimpan perlindungan. Itulah esensi inovasi berbasis alam.”
Selain inovasi bahan, BOUMI juga dibangun dengan pendekatan dermatologi pediatrik. Hal ini menjadi penting mengingat karakteristik kulit anak berbeda secara fundamental dibandingkan orang dewasa.

Menurut dr. Sinta dari Program Studi Kesehatan Kulit UB, banyak produk di pasaran belum sepenuhnya dirancang untuk kebutuhan spesifik anak.
“Mayoritas produk kids care di pasar Indonesia masih menggunakan formulasi dewasa dengan sedikit penyesuaian — ini bukan kids care yang sesungguhnya.”
BOUMI hadir dengan formulasi pH seimbang, bebas bahan kimia keras, serta menggunakan emolien yang mendukung perkembangan skin barrier anak. Pendekatan ini tidak hanya berorientasi pada fungsi kosmetik, tetapi juga aspek kesehatan jangka panjang.
Secara produk, BOUMI menghadirkan tujuh lini perawatan yang mencakup kebutuhan sehari-hari anak aktif, mulai dari kebersihan hingga perlindungan kulit. Seluruhnya dirancang dengan pengalaman sensorik yang menyenangkan agar perawatan diri menjadi bagian dari rutinitas yang positif bagi anak.
Dengan peluncuran ini, UB tidak hanya memperkenalkan produk, tetapi juga model baru dalam pengelolaan inovasi kampus—menghubungkan riset, industri, dan pasar dalam satu ekosistem yang berkelanjutan.
BOUMI menjadi bukti bahwa inovasi kampus tidak harus berhenti di jurnal ilmiah, tetapi dapat hadir sebagai solusi nyata yang menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus membuka peluang ekonomi baru.














