Kanal24, Malang – Sampah plastik masih menjadi persoalan besar di banyak kota, termasuk di lingkungan kampus. Botol minuman sekali pakai, kemasan makanan, hingga limbah harian terus bertambah seiring aktivitas mahasiswa yang semakin padat. Di tengah situasi itu, kampus mulai didorong ikut mengambil peran lebih nyata dalam membangun budaya pengelolaan sampah dan keberlanjutan lingkungan.
Universitas Brawijaya melihat persoalan tersebut sebagai tantangan yang perlu dijawab bersama. Melalui kerja sama dengan PT. LYB Asia Pacific, UB mulai mendorong pengembangan ekonomi sirkular berbasis teknologi dan edukasi lingkungan di kawasan kampus. Program ini diarahkan agar isu sustainability hadir dalam kebiasaan sehari-hari mahasiswa dan sivitas akademika.
Penandatanganan kerja sama strategis dengan PT. LYB Asia Pacific ini digelar di Ruang Jamuan Lantai 6 Gedung Rektorat UB, Selasa (19/5/2026). Kolaborasi ini difokuskan pada pengembangan ekonomi sirkular, pengelolaan sampah plastik, serta penguatan peran kampus dalam mendorong keberlanjutan lingkungan.
Rektor UB, Prof. Widodo menegaskan bahwa sinergi antara kampus dan industri menjadi langkah krusial dalam menghadapi tantangan lingkungan global.
“Ini adalah bagian penting bagi Universitas Brawijaya untuk bisa bekerja sama dengan industri. Hari ini kita bekerja sama dengan LYB khususnya untuk mengembangkan economic circular yang ada di Universitas Brawijaya,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa kerja sama ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran sivitas akademika terhadap isu lingkungan dan ekonomi sirkular.
Lebih lanjut, Prof. Widodo menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mendukung program sustainability. “Sustainability ini melibatkan banyak stakeholder karena kompleksitas yang ada, sehingga semua potensi harus dikembangkan secara bersama-sama,” katanya. Ia berharap kerja sama ini tidak hanya berhenti pada program ekonomi sirkular, tetapi juga berlanjut ke riset dan pengembangan produk ramah lingkungan.
Sementara itu Kepala UPT UB Green Campus, Prof. Sri Suhartini menjelaskan bahwa implementasi kerja sama ini akan diwujudkan melalui introduksi teknologi reverse vending machine berbasis Internet of Things (IoT).
“Kami akan mengimplementasikan reverse vending machine yang mengintegrasikan digitalisasi untuk pemilahan botol plastik, sehingga memudahkan proses recycling,” jelasnya. Selain itu, program ini juga mencakup kampanye perubahan perilaku dalam memilah sampah serta kegiatan edukatif seperti workshop dan kuliah tamu.

Dari pihak industri, VP APAC APS sekaligus President Commissioner PT. LYB Asia Pacific, Rolf R van Beeck, menyebut UB sebagai mitra strategis karena kesamaan visi dalam ekonomi sirkular.
“Ini adalah universitas terbesar dengan 70.000 mahasiswa, dan itu adalah 70.000 future leaders. Cara berpikir UB tentang circular economy sangat sejalan dengan perusahaan kami,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa LYB akan mendukung melalui transfer pengetahuan, pengembangan model bisnis baru, hingga kolaborasi riset untuk meningkatkan daur ulang plastik.
Sementara itu, President Director PT. LYB Asia Pacific, Rakhma Febriani, menilai kampus memiliki peran penting dalam membentuk agen perubahan.

“Kalau para mahasiswa sudah dibekali pengetahuan mengenai circular economy dan sustainability, maka mereka akan menjadi agent terhadap perubahan di lingkungan,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa dukungan LYB tidak hanya berupa pendanaan, tetapi juga knowledge sharing dan program berkelanjutan yang melibatkan mahasiswa dan dosen.
Melalui kolaborasi ini, UB menargetkan terciptanya kampus ramah lingkungan yang mampu mengolah sampah plastik menjadi produk bernilai ekonomi seperti bioproducts dan biofuels. Program ini juga diharapkan dapat direplikasi ke komunitas yang lebih luas sebagai solusi konkret terhadap persoalan sampah plastik di Indonesia. (Qrn)














