Kanal24, Malang – Dari kebiasaan membakar sampah hingga mulai memilah dari rumah, perubahan perilaku warga Desa Krebet dalam dua tahun terakhir menarik perhatian dalam program kolaborasi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) dengan dukungan riset kesehatan internasional NIHR Inggris atau National Institute for Health and Care Research.
Program berbasis riset internasional ini menempatkan perbaikan kualitas lingkungan sebagai pintu masuk utama untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Pendekatan tersebut dilakukan secara bertahap melalui pendampingan warga dan penguatan kader di tingkat desa.
Sekar Aqila Salsabilla, S.AP., M.AP., menjelaskan bahwa perubahan yang terjadi bukanlah proses instan, melainkan hasil intervensi yang berjalan berkelanjutan selama dua tahun terakhir.
Baca juga:
Tak Sekadar Ikut Tren, Ini Panduan Aman Naik Gunung untuk Pendaki Pemula
“Kolaborasi UB dengan Desa Krebet ini sudah berjalan dua tahun dan memang fokus utamanya adalah pada peningkatan kesehatan masyarakat, utamanya melalui peningkatan kualitas hidup melalui lingkungan yang bersih dan sehat,” ujarnya.
Salah satu fokus utama program adalah perbaikan pengelolaan sampah dan pengurangan polusi udara. Praktik pembakaran sampah yang sebelumnya masih banyak dilakukan warga kini mulai berkurang seiring meningkatnya pemahaman masyarakat.
“Dimulai dari manajemen sampah yang lebih baik sehingga pembakaran sampah dan sampah yang menumpuk itu bisa kami coba untuk reduksi, dan itu akan berdampak pada penurunan polusi udara dan berdampak pada kesehatan yang lebih baik,” jelasnya.
Desa Krebet dipilih sebagai lokasi program karena memiliki potensi sekaligus tantangan. Di satu sisi, desa ini aktif dalam kegiatan kesehatan masyarakat, namun di sisi lain masih menghadapi persoalan pengelolaan sampah dan kualitas udara yang belum optimal.
Kondisi tersebut kemudian menjadi dasar pelaksanaan program UB-CHC berbasis dukungan NIHR, yang menitikberatkan pada perubahan perilaku masyarakat melalui pendekatan komunitas.
Selama dua tahun, program dijalankan melalui pelatihan kader lingkungan dan kader kesehatan. Kader lingkungan difokuskan pada pengelolaan sampah, sementara kader kesehatan dilatih untuk melakukan skrining risiko penyakit paru-paru dan jantung di tingkat masyarakat.
Respon warga dan pemerintah desa terhadap program ini dinilai sangat positif.
“Sejauh ini sangat suportif, kita bisa bekerja sama dan berkolaborasi bersama. Pemerintah desa juga sangat suportif, jadi kegiatan selama ini berjalan lancar,” ujarnya.

Peneliti UB-CHC, Meutia Fildzah Sharfina, S.K.M., M.P.H., menambahkan bahwa perubahan paling terlihat terjadi pada perilaku warga dalam mengelola sampah sehari-hari. Jika sebelumnya banyak warga belum memahami pemilahan sampah, kini kesadaran tersebut mulai tumbuh.
“Dari yang tidak tahu sampah organik dan anorganik, sekarang sudah bisa membedakan dan memahami dampak pembakaran sampah terhadap kesehatan. Akhirnya mereka merubah pola dan perilaku hidupnya,” ungkapnya.
Menurutnya, perubahan ini menjadi indikator awal keberhasilan program intervensi berbasis masyarakat yang dilakukan secara konsisten.
Ke depan, program ini akan memasuki tahap lanjutan berupa pemantauan dan pendampingan masyarakat yang memiliki risiko tinggi penyakit paru-paru dan jantung selama satu tahun ke depan.
“Nanti akan kita lihat perbedaan dari awal dan akhir, seperti apa dampaknya,” tambahnya.
Ia berharap kolaborasi berbasis riset internasional ini tidak berhenti pada pengelolaan sampah saja, tetapi dapat diperluas ke isu kesehatan lingkungan yang lebih luas.
“Harapannya kita bisa berkolaborasi lebih jauh lagi, tidak hanya di pengelolaan sampah, tapi juga terkait polusi udara secara lebih luas, dan apa yang kami berikan bisa berkelanjutan dan bermanfaat untuk masyarakat,” pungkasnya. (qrn)














