Kanal24, Cagayan De Oro, Filipina – Di tengah meningkatnya tuntutan keberlanjutan industri pangan global, persoalan limbah produksi dan standar sanitasi menjadi isu yang tak lagi bisa dipisahkan dari kesehatan masyarakat. Industri kopi, yang selama ini identik dengan nilai ekonomi tinggi, juga menghadapi tantangan serupa: bagaimana produksi tetap berjalan tanpa meninggalkan beban lingkungan dan risiko kesehatan bagi komunitas pekerjanya. Dalam konteks inilah kolaborasi akademik lintas negara mengambil peran strategis, menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan yang langsung menyentuh masyarakat.
Universitas Brawijaya (UB) melalui Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) dan Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) melaksanakan program pengabdian masyarakat internasional bertajuk “Waste-to-Product Innovation and Sanitation Management in Coffee Manufacturing for Sustainable Community and Human Health Development”. Program ini merupakan bagian dari skema EQUITY yang didanai oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) atas nama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.

Kegiatan tersebut menjadi wujud kolaborasi antara Universitas Brawijaya, University of Science and Technology of Southern Philippines (USTP), serta Kaumahan Coffee Manufacturing. Program berlangsung pada 5–8 Februari 2026 di komunitas petani kopi Kaumahan, Cagayan De Oro, Filipina.
Program ini diketuai oleh Novia Lusiana, S.TP., M.Si., Ph.D., dengan anggota tim Yusron Sugiarto, S.TP., M.Sc., MP., Ph.D., Ni’matul Izza, S.TP., M.T., Ph.D., dan Luhur Akbar Devianto, S.T., M.T., Ph.D. dari FTAB UB , serta Ns. Akhiyan Hadi Susanto, S.Kep., M.Biomed dari Fikes UB.
Sebanyak delapan perwakilan dari USTP bersama 20 petani kopi komunitas Kaumahan Coffee terlibat aktif dalam kegiatan ini. Diskusi interaktif dan praktik langsung menjadi ruang pertukaran pengetahuan sekaligus adaptasi teknologi agar sesuai dengan kebutuhan riil komunitas produksi kopi.

Alih-alih memandang limbah sebagai residu produksi, program ini justru menempatkannya sebagai sumber inovasi. Tim pengabdian memperkenalkan empat topik utama kepada komunitas kopi, yaitu pemanfaatan limbah kopi menjadi briket ramah lingkungan, produksi kompos untuk pertanian berkelanjutan, pengolahan limbah menjadi produk hand sanitizer, serta penguatan manajemen sanitasi pada proses manufaktur kopi. Kegiatan juga dilengkapi edukasi kesehatan masyarakat dan praktik pemeriksaan kesehatan bagi petani guna meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya sanitasi dan keselamatan kerja.
Ketua tim pelaksana, Novia Lusiana, S.TP., M.Si., Ph.D., menegaskan bahwa keberhasilan program tidak diukur dari transfer teknologi semata, tetapi dari kemampuan masyarakat mengadopsi inovasi secara berkelanjutan.
“Kami ingin memastikan bahwa inovasi yang diperkenalkan benar-benar aplikatif dan sesuai dengan kebutuhan komunitas. Limbah kopi yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal kini dapat diolah menjadi produk bernilai tambah seperti briket, kompos, dan hand sanitizer. Lebih dari itu, pendekatan kesehatan masyarakat menjadi bagian penting agar peningkatan produktivitas berjalan seiring dengan peningkatan kualitas hidup petani,” ujarnya.

Pendekatan lintas disiplin yang menggabungkan teknologi pertanian dan kesehatan masyarakat menjadi fondasi utama program ini. Sanitasi produksi tidak lagi dipahami sebagai aspek teknis semata, tetapi sebagai bagian dari ekosistem keberlanjutan yang memengaruhi kualitas produk, keselamatan kerja, hingga kesejahteraan komunitas.
Dekan College of Engineering and Technology USTP, Dr. Maribel Tizo, menyambut kolaborasi ini sebagai bentuk nyata kemitraan global dalam menjawab tantangan lokal.
“Kolaborasi antara USTP dan Universitas Brawijaya merupakan wujud nyata kemitraan global dalam menjawab tantangan lokal. Program ini tidak hanya memperkuat kapasitas teknis komunitas kopi, tetapi juga mempererat hubungan akademik dan riset antara kedua institusi. Kami berharap kerja sama ini dapat berlanjut dalam berbagai program inovasi dan pengembangan masyarakat lainnya,” ungkapnya.
Program ini selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya SDG 03 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 07 (Energi Bersih dan Terjangkau), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).
Lebih dari sekadar agenda pengabdian masyarakat, kolaborasi ini menunjukkan bagaimana perguruan tinggi memainkan peran sebagai jembatan antara riset, inovasi, dan kebutuhan komunitas global. Ketika ilmu pengetahuan diterjemahkan menjadi praktik yang dapat langsung diterapkan, keberlanjutan tidak lagi menjadi konsep abstrak, melainkan kerja nyata yang tumbuh dari komunitas dan diperkuat melalui kemitraan lintas negara.(Din)














