Kanal24, Malang – Universitas Brawijaya (UB) melakukan verifikasi data mahasiswa yang terdampak bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT). Langkah ini menjadi bagian penting untuk memastikan mahasiswa yang membutuhkan dukungan dapat terdata dengan tepat, sekaligus mencegah persoalan administrasi yang dapat menghambat proses pemberian bantuan.
Verifikasi data berlangsung pada Jumat (21/8/2026) di Lobby Lantai 1, bagian belakang Gedung Rektorat UB. Dalam proses tersebut, mahasiswa turut membantu pendataan dan verifikasi informasi mahasiswa terdampak. Wakil Presiden Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya 2026 Kafitan Aidil Fitra Sukirman dan Dimas Satya Saputra dari Direktorat Jenderal Kesejahteraan Mahasiswa menjelaskan proses pendataan, bentuk bantuan yang memungkinkan diberikan, serta rencana pendampingan setelah verifikasi.
Baca Juga:
Brawijaya Writers Club Dorong Alumni UB Produktif Berkarya Lewat Literasi
Mahasiswa Ikut Mengawal Data Terdampak
Keterlibatan mahasiswa dalam proses tersebut dilatarbelakangi kebutuhan untuk mengawal kondisi rekan-rekan mahasiswa UB yang terdampak bencana. Kafitan mengatakan mahasiswa berupaya mengambil bagian melalui fungsi advokasi dan koordinasi dengan pihak terkait.

“Kita percaya bahwasanya seminimal-minimalnya kita bantu untuk teman-teman yang masih Brawijaya dulu,” ujar Kafitan.
Menurutnya, upaya tersebut juga dilakukan melalui kolaborasi dengan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM). Kolaborasi diperlukan untuk melihat persoalan yang dihadapi mahasiswa sekaligus mencari bentuk penyelesaian yang dapat diadvokasikan kepada pihak universitas.
Sementara itu, Dimas menjelaskan mahasiswa dalam proses ini berperan terutama pada tahap pendataan dan verifikasi. Informasi yang diperiksa antara lain status mahasiswa yang memiliki beasiswa, bantuan hidup yang diterima, serta nomor rekening yang diperlukan untuk kebutuhan administrasi.
“Ya, sebenarnya sejauh ini kita sebagai mahasiswa hanya membantu sebagai pendataannya saja juga verifikasi,” kata Dimas.
Validasi Data Jadi Perhatian Utama
Ketepatan data menjadi salah satu perhatian dalam proses verifikasi. Dimas menyebut pengecekan dilakukan agar tidak ada mahasiswa terdampak yang terlewat sekaligus memastikan informasi yang disampaikan dapat ditelusuri.
Pengalaman penanganan mahasiswa terdampak banjir Sumatera menjadi salah satu pembelajaran. Dimas mengatakan sebelumnya pernah ditemukan persoalan Nomor Induk Mahasiswa (NIM) yang tidak dapat dilacak sehingga menyulitkan pihak rektorat dalam proses verifikasi.

“Biasanya kalau tahun lalu pada saat Banjir Sumatera itu ada permasalahan di NIM-nya. NIM-nya ternyata tidak bisa dilacak dan itu menyulitkan dari pihak rektorat,” jelasnya.
Karena itu, proses verifikasi kali ini dilakukan dengan lebih cermat. Hingga saat wawancara berlangsung, Dimas mengatakan belum terdapat kendala berarti dalam proses pendataan. Meski demikian, pengecekan tetap dilakukan untuk memastikan data yang terkumpul valid.
Dari sisi bantuan, mahasiswa tidak terlibat dalam penentuan sumber pendanaan. Menurut Dimas, pihak rektorat nantinya dapat bekerja sama dengan mitra, termasuk perusahaan melalui program tanggung jawab sosial atau CSR.
Bentuk dukungan yang memungkinkan diberikan antara lain bantuan biaya hidup maupun pengurangan beban Uang Kuliah Tunggal (UKT). Skema bantuan tersebut nantinya disesuaikan dengan proses yang dilakukan pihak universitas bersama mitra.
Pendampingan Disiapkan Setelah Verifikasi
Pendampingan mahasiswa terdampak tidak berhenti pada proses pendataan. Dimas mengatakan telah dibuat grup koordinasi yang nantinya dapat digunakan untuk melakukan pemantauan dan evaluasi kondisi mahasiswa.
Koordinasi tersebut juga membuka ruang untuk melihat kebutuhan mahasiswa setelah bantuan awal diberikan. Pengalaman penanganan bencana sebelumnya menunjukkan dukungan dapat hadir dalam berbagai bentuk, termasuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari mahasiswa.
“Insyaallah kita mencoba untuk jalankan hal itu lagi kayak gitu,” ujar Dimas.
Selain kebutuhan material, kondisi psikologis mahasiswa juga menjadi perhatian. Mahasiswa yang merasa membutuhkan dukungan dapat diarahkan untuk memperoleh layanan konseling yang tersedia di universitas.
“Dan juga pun berbicara tentang pendampingan psikisnya pun kita juga melihat bagaimana kondisi psikologis dari teman-teman,” katanya.
Dengan demikian, verifikasi data menjadi tahap awal dalam memastikan mahasiswa UB yang terdampak bencana NTT mendapatkan perhatian sesuai kondisi masing-masing. Pendataan yang akurat diharapkan memudahkan proses bantuan sekaligus menjadi dasar untuk pendampingan lanjutan.
Upaya tersebut menunjukkan bahwa penanganan mahasiswa terdampak tidak hanya berfokus pada bantuan finansial, tetapi juga mencakup validasi data, koordinasi, pemantauan kondisi, hingga akses terhadap dukungan psikologis. (ndr)















Comments 1