Kanal24, Malang – Karya desain dan ilustrasi kini tidak lagi harus berhenti di atas kertas, layar komputer, atau media dua dimensi. Perkembangan media art membuka ruang baru bagi kreator untuk membawa karya ke ruang yang lebih besar, salah satunya melalui video mapping yang dapat mengubah gedung dan ruang publik menjadi media ekspresi visual.
Peluang tersebut mulai diperkenalkan kepada mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) melalui Workshop Video Mapping yang digelar di Gazebo Raden Wijaya UB, Jumat (7/8/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari kolaborasi Tim GUB Media Art, MMAC, dan UB Medcom bersama ekosistem DIPA MediaArt.
Ketua Ekosistem DIPA MediaArt, Danar Tri Yudistira, menegaskan bahwa video mapping dalam kegiatan tersebut tidak ditempatkan sebagai keterampilan yang wajib dikuasai mahasiswa. Sebaliknya, medium ini diperkenalkan sebagai salah satu pintu masuk untuk memahami perkembangan media art.
Baca juga:
5 Trik Memilih Outfit agar Tubuh Terlihat Lebih Proporsional
“Video mapping itu adalah salah satu medium dalam media art yang sedang kita kembangkan ke ekosistem ini. Jadi sebenarnya tidak melulu tentang video mapping, tetapi video mapping menjadi medium dasar,” jelas Danar.

Video Mapping Bukan Sekadar Teknik Visual
Menurut Danar, masih ada anggapan bahwa video mapping merupakan teknologi yang rumit dan hanya dapat dikerjakan oleh orang dengan keahlian tertentu. Padahal, video mapping dapat menjadi platform bagi berbagai bidang kreatif, mulai dari desain, animasi, pemrograman hingga seni visual.
Karena itu, mahasiswa tidak diarahkan untuk sekadar menjadi seorang video mapping artist. Mereka justru didorong memahami bagaimana medium tersebut dapat digunakan untuk memperluas karya yang sudah mereka miliki.
“Video mapping itu bukan sesuatu yang harus dipelajari mahasiswa, tetapi penting untuk dikenali. Ini bisa menjadi medium bagi desainer, animator, programmer, maupun visual artist,” ujar Danar.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya DIPA MediaArt membangun ekosistem kreatif yang mempertemukan berbagai kompetensi. Ketika mahasiswa dari bidang berbeda saling mengenal dan memahami medium yang sama, peluang kolaborasi pun semakin terbuka.
Dari Galeri hingga Industri Kreatif
Perkembangan video mapping juga tidak lagi terbatas pada pertunjukan visual. Menurut Danar, teknologi tersebut telah digunakan dalam berbagai kebutuhan, seperti galeri, wahana wisata, media pembelajaran hingga simulator.
Dalam industri kreatif, video mapping juga dapat menciptakan pengalaman baru bagi pengunjung. Misalnya, desain visual yang dibuat kreator dapat diterapkan pada ruang komersial seperti kafe atau sektor food and beverage untuk menghadirkan pengalaman visual yang berbeda.
“Secara industri sekarang cukup berkembang dan diimplementasikan ke banyak bidang, mulai dari industri kreatif, pendidikan, simulator, bahkan bisa diterapkan pada sektor F&B,” katanya.
Hal tersebut menunjukkan bahwa peluang media art tidak hanya berada pada ruang seni, tetapi juga dapat berkembang menjadi produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi.
Karya Mahasiswa Bisa Menembus Ruang yang Lebih Besar
Dosen Vokasi sekaligus peneliti DIPA MediaArt, Dimas Fakhruddin, S.ST., M.Ds., melihat kegiatan tersebut sebagai momentum untuk membuka perspektif baru bagi mahasiswa.

Menurutnya, karya desain maupun ilustrasi tidak harus berhenti sebagai karya statis. Dengan perkembangan teknologi media art, karya dapat diolah menjadi visual dinamis dan ditampilkan pada bidang yang jauh lebih besar.
“Karya desain ataupun ilustrasi tidak hanya berhenti sebagai karya statis saja, tetapi juga bisa menjadi karya dinamis yang mampu ditampilkan di media yang sangat besar seperti video mapping di berbagai macam gedung,” ujar Dimas.
Ia berharap rangkaian kegiatan DIPA MediaArt dapat menjadi pemantik bagi mahasiswa UB untuk semakin berani mengeksplorasi bidang kreatif, khususnya video mapping, motion graphic, desain, dan ilustrasi.
Menurutnya, UB memiliki talenta mahasiswa yang potensial untuk dikembangkan menjadi bagian dari industri kreatif.
Gazebo Raden Wijaya Jadi Ruang Eksperimen
Setelah workshop, eksplorasi media art dilanjutkan melalui kegiatan light bombing atau light drop bombing pada malam hari di Gazebo Raden Wijaya UB.
Tim DIPA MediaArt memanfaatkan kawasan tersebut sebagai ruang eksperimen untuk mengeksplorasi bagaimana video mapping dapat berinteraksi dengan arsitektur dan ruang di sekitarnya.
Tim DIPA MediaArt, Johan Fahrizal, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian program yang akan berlanjut hingga agenda utama pada September mendatang.
“Di Gazebo Raden Wijaya sekarang sedang dilaksanakan light bombing, di mana kami mengeksplor area tersebut sebagai media untuk video mapping,” jelas Johan.
Eksperimen ruang tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa media art tidak harus berlangsung di ruang pamer konvensional. Bangunan, ruang publik, dan lingkungan sekitar dapat menjadi bagian dari karya.
Festival Video Mapping Digelar September
Rangkaian DIPA MediaArt tidak berhenti pada workshop dan eksperimen visual. Agenda yang lebih besar akan digelar melalui festival video mapping pada September 2026 di Universitas Brawijaya.
Dalam festival tersebut, mahasiswa UB akan dilibatkan dalam kompetisi pembuatan konten yang nantinya ditampilkan melalui platform video mapping dan media art.
Keterlibatan mahasiswa diharapkan dapat menjadi ruang untuk menguji kreativitas sekaligus mempertemukan talenta muda dengan pelaku industri kreatif.

Dorong Ekosistem Media Art Malang
Johan mengatakan pengembangan media art di UB juga memiliki konteks yang lebih luas karena berkaitan dengan posisi Kota Malang sebagai creative city of Media Arts.
Karena itu, kegiatan DIPA MediaArt diarahkan tidak hanya untuk mengenalkan teknologi kepada mahasiswa, tetapi juga membangun jejaring antarkreator, akademisi, mahasiswa, dan pelaku industri.
“Harapannya ekosistem media art terutama ini dapat tumbuh sehingga dapat berjejaring, tumbuh bersama, dan menopang industri kreatif di Kota Malang,” kata Johan.
Danar menambahkan, target utama program tersebut bukan membuat seluruh mahasiswa mampu menguasai video mapping. Hal yang lebih penting adalah terbentuknya ekosistem yang saling mengenal, terhubung, dan mampu menghasilkan kolaborasi baru.
Menurutnya, mahasiswa memiliki perspektif dan ide yang dapat memperkaya perkembangan industri kreatif. Di sisi lain, pelaku industri juga dapat membuka akses pengalaman, jejaring, bahkan peluang kerja bagi talenta muda.
“Kami tidak harus membuat semua orang bisa video mapping. Yang paling penting adalah terbentuk ekosistem, saling kenal, saling terhubung, lalu ada kolaborasi-kolaborasi,” pungkas Danar. (nid/ern)














