Kanal24, Malang – Cahaya digital bergerak di atas bangunan dan objek bersejarah Museum Brawijaya. Perpaduan warna, garis, dan animasi menghadirkan cara baru dalam menikmati ruang sejarah melalui karya New Media Art.
Eksplorasi tersebut hadir dalam kegiatan Visual Bombing New Media Art di Halaman Museum Brawijaya, Jalan Ijen Boulevard, Malang, Selasa (22/9/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian DIPA Media Art Globalizing untuk mengaktivasi ruang publik melalui teknologi proyeksi visual.
Baca Juga:
Dua Mobil APATTE62 Brawijaya Siap Berlaga di KMHE 2026
Museum Brawijaya Jadi Kanvas Digital
Visual Director DIPA, Danar Tri, menjelaskan Visual Bombing menjadi bagian dari upaya mengembangkan ekosistem media art di Kota Malang. Dalam kegiatan tersebut, peserta mengeksplorasi lingkungan museum dan menjadikannya sebagai medium karya.
Menurut Danar, pendekatan ini berbeda dengan video mapping yang umumnya dikemas sebagai pertunjukan. Visual Bombing lebih menekankan respons langsung terhadap karakter ruang.

“Kalau video mapping kita melakukan projection ke gedung kemudian memutar konten-konten khusus yang kemudian itu jadi show. Saat ini menjadi ruang ekspresi,” ujarnya.
Peserta merespons sejumlah objek di lingkungan Museum Brawijaya, termasuk bangunan dan tank. Proyeksi visual disesuaikan dengan bentuk serta karakter objek yang menjadi bidang karya.
Dengan pendekatan tersebut, teknologi tidak hanya menjadi pelengkap pertunjukan. Ruang museum justru menjadi bagian dari proses penciptaan karya.
Pertemukan Teknologi dengan Sejarah
Visual Bombing juga membawa narasi sejarah ke dalam karya visual. Salah satu konten yang ditampilkan mengangkat sosok Hamid Rusdi sebagai bagian dari narasi sejarah Kota Malang.
Danar mengatakan narasi tersebut dipadukan dengan gaya desain kekinian. Pendekatan ini dilakukan agar pesan sejarah tetap dapat disampaikan melalui karya yang memiliki nilai artistik.
“Yang banyak dipakai teman-teman sebenarnya narasi-narasi untuk mengkampanyekan Hamid Rusdi. Kita pakai konten-konten Hamid Rusdi, tapi supaya tetap terlihat punya nilai seni, itu dikombinasikan dengan gaya-gaya desain yang kekinian,” jelasnya.
Menurut Danar, pertemuan benda bersejarah dengan teknologi modern dapat menjadi pemantik rasa ingin tahu generasi muda. Teknologi digunakan untuk membuat masyarakat kembali memperhatikan objek sejarah melalui pendekatan visual.
“Teknologi saat ini bisa menjadi pemantik untuk benda-benda peninggalan sehingga generasi muda tumbuh rasa penasaran,” katanya.
Rasa ingin tahu tersebut diharapkan mendorong masyarakat mencari informasi lebih jauh mengenai sejarah dan peninggalan yang ada di Museum Brawijaya.
Dorong Regenerasi Talenta Media Art
Selain mengaktivasi ruang publik, Visual Bombing diarahkan menjadi ruang ekspresi bagi talenta muda. Peserta dapat berasal dari mahasiswa, komunitas, maupun masyarakat yang memiliki ketertarikan terhadap media art.
Danar menyebut regenerasi menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan media art di Kota Malang. Talenta muda perlu mendapat ruang untuk bereksperimen dengan teknologi sekaligus mengembangkan kemampuan visual.
“Kalau kita lebih sebenarnya fokusnya lebih talent muda. Entah itu dari masyarakat, entah itu mahasiswa atau komunitas,” tuturnya.
Menurutnya, perkembangan media art membutuhkan talenta baru yang mampu menggabungkan kreativitas dengan teknologi. Eksplorasi ruang publik menjadi salah satu cara untuk memberikan pengalaman berkarya secara langsung.
Museum sebagai Ruang Kolaborasi
Kehadiran Visual Bombing juga mendapat respons positif dari pihak Museum Brawijaya. Wakil Kepala Bintaljarahdam V Brawijaya, Letkol. Inf. Riduwan S.Ag., mengatakan museum terbuka terhadap kolaborasi yang dapat memperkuat fungsi edukasi.

“Karena memang Museum Brawijaya ini tujuannya pada intinya edukasi. Jadi, semua orang bisa masuk, semua kalangan bisa masuk ke sini,” ungkapnya.
Menurut Riduwan, Museum Brawijaya selama ini telah menjalin kerja sama dengan sejumlah institusi pendidikan di Malang. Kolaborasi dengan pelaku seni dan komunitas kreatif dapat menjadi bentuk pengembangan ruang museum.
Ia berharap kegiatan seperti Visual Bombing dapat berlanjut dan membuka lebih banyak kesempatan bagi generasi muda untuk berkreativitas di lingkungan museum.
“Dan kami juga sangat mendukung apabila kerja sama ini bisa berlanjut ke depan,” pungkasnya.
Melalui Visual Bombing New Media Art, teknologi proyeksi menjadi medium untuk merespons ruang sekaligus menghadirkan narasi sejarah dalam bentuk visual. Aktivasi ini juga membuka ruang bagi talenta muda untuk mengeksplorasi perkembangan media art di Kota Malang. (ndr)














