Kanal24, Malang — Pengabdian mahasiswa di desa tidak berhenti ketika masa penugasan selesai. Tantangannya justru bagaimana kehadiran mahasiswa meninggalkan sesuatu yang tetap bisa digunakan, dikembangkan, atau dilanjutkan oleh masyarakat setelah mereka kembali ke kampus.
Hal itu menjadi bagian dari penutupan kegiatan Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Universitas Brawijaya Kelompok 63 di Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Setelah 32 hari menjalankan pengabdian, kelompok tersebut menggelar “Malam Puncak Literasi Desa Kemloko” di Balai Desa Kemloko, Rabu (5/8/2026).
Bagi kelompok 63, malam puncak bukan hanya agenda penutup. Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan mahasiswa dengan warga sekaligus menunjukkan sejumlah hasil kegiatan yang telah dikerjakan selama berada di Kemloko.
Baca juga : Galon Bekas Jadi Komposter, MMD UB Ajak PKK di Desa Langlang Olah Sampah Dapur
“Malam puncak tersebut diadakan sebagai acara penutup sekaligus malam perpisahan atau pamitan bersama warga Desa Kemloko,” ungkap Irsyad, Koordinator Desa Kelompok 63.
Antusiasme warga terlihat dari beragam unsur yang hadir. Camat, kepala desa, perwakilan sekolah, RT, RW, pelaku UMKM, hingga warga desa termasuk anak-anak mengikuti kegiatan tersebut. Acara dibuka dengan sambutan, kemudian dilanjutkan dengan berbagai penampilan anak-anak desa dan penyerahan awardee Festival Lomba Literasi.
Anak Desa Mendapat Ruang untuk Tampil
Salah satu bagian kegiatan yang mendapat perhatian adalah penampilan tiga siswi MI Asy-Syafiiyah yang sebelumnya menjadi pemenang “Festival Lomba Bercerita dan Public Speaking”.
Anjali, salah satu penampil, merasa senang karena mendapat kesempatan tampil dalam acara perpisahan bersama kelompok 63. Untuk mempersiapkan penampilan tersebut, para siswi berlatih di posko kelompok selama kurang lebih empat hari.

“Sebelum hari pelaksanaan, mereka diberikan kesempatan untuk berlatih di posko kelompok selama kurang lebih 4 hari untuk dapat tampil maksimal seperti malam ini,” ungkap Irsyad.
Kehadiran anak-anak dalam panggung malam puncak sekaligus menjadi bagian dari kegiatan literasi yang dijalankan kelompok 63. Pengabdian tidak hanya menghadirkan program dari mahasiswa kepada masyarakat, tetapi juga memberi ruang bagi warga, khususnya anak-anak, untuk berpartisipasi dan menunjukkan kemampuan mereka.
Pulang Membawa Kenangan, Meninggalkan Luaran
Selain rangkaian acara, kelompok 63 menyerahkan sejumlah luaran kepada pemerintah desa, pengelola Taman Baca Arkaraka, dan pihak sekolah yang menjadi kolaborator dalam pelaksanaan KKN literasi.
Luaran tersebut berupa booklet UMKM, X banner, serta barang pemberian Perpusnas. Penyerahan dilakukan sebagai kenang-kenangan sekaligus upaya agar hasil pengabdian selama 32 hari dapat memberikan manfaat secara berkepanjangan atau berkelanjutan.
Malam puncak kemudian ditutup dengan penayangan video company profile desa, profil UMKM desa, serta after movie kelompok 63. Ketiga materi tersebut menjadi bagian dari dokumentasi sekaligus produk yang dapat digunakan untuk mengenalkan Desa Kemloko dan aktivitas yang telah dilakukan selama program berlangsung.
Suasana perpisahan terasa ketika warga dan mahasiswa menyadari 32 hari telah berlalu. Naning, pembudidaya ikan koi, menggambarkan kedekatan yang terbangun selama mahasiswa berada di desa.
“Nggak kerasa, rasane baru kemarin datang, nyangkruk bareng di kolam koi, eh, besok wes mbalik,” ujar Naning.

Bagi Zalfa, PIC KKN literasi kelompok 63, malam puncak sekaligus menjadi kesempatan untuk menyampaikan terima kasih dan permohonan maaf kepada pihak desa.
“Kegiatan ini sekaligus menjadi penutup KKN literasi yang memang kebetulan berlokasi di Blitar dan desa kami, panggung kami buat pamit juga mengucapkan banyak terima kasih dan maaf kepada pihak desa,” jelas Zalfa.
Selama 32 hari, kelompok 63 menjalankan pengabdian di bawah arahan Endry Putra, S.I.Kom., M.I.Kom., selaku Dosen Pembimbing Lapangan. Dukungan tersebut turut membantu pelaksanaan berbagai kegiatan kelompok selama berada di Desa Kemloko.
“Beliau banyak memberikan support dalam terlaksananya pengabdian kami di sini,” ungkap Najwa, Wakil Koordinator Desa.
Najwa berharap kontribusi yang diberikan kelompok 63 dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Besar harapan kami dapat memberikan kontribusi yang bermanfaat dan berkelanjutan bagi desa, serta kenang-kenangan yang tak pernah terlupa di benak masyarakat desa,” tutup Najwa.
Sementara bagi Pemerintah Desa Kemloko, kehadiran mahasiswa selama lebih dari satu bulan meninggalkan kesan tersendiri. Kepala Desa Kemloko Miftakhul Choiri menyampaikan pesan kepada mahasiswa agar tetap mengingat desa yang menjadi bagian dari perjalanan pengabdian mereka.
“Selamat melanjutkan kuliah dan aktivitasnya di Malang, jangan sampai lupa Kemloko karena kalian telah menjadi bagian dari Kemloko,” ujar Miftakhul Choiri dalam sambutannya.
Bagi MMD UB Kelompok 63, perpisahan menjadi penanda berakhirnya masa tinggal di Kemloko. Namun, karya yang ditinggalkan—mulai dari kegiatan literasi, penguatan UMKM, hingga berbagai materi komunikasi desa—diharapkan tetap dapat dimanfaatkan masyarakat setelah mahasiswa kembali melanjutkan aktivitas akademiknya.














