Kanal24, Malang – Universitas Brawijaya menorehkan capaian penting di tingkat internasional melalui kiprah dosennya dalam pengembangan riset berkelanjutan. Di tengah kebutuhan global akan energi terbarukan dan pengelolaan limbah yang ramah lingkungan, inovasi berbasis bioteknologi menjadi salah satu jawaban strategis yang terus dikembangkan perguruan tinggi. Upaya tersebut mendorong lahirnya kolaborasi riset lintas negara yang berfokus pada pemanfaatan sumber daya hayati lokal untuk mendukung transisi energi berkelanjutan.
Dosen Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Brawijaya, Prof. Agustin Krisna Wardani, STP., M.Si., Ph.D., meraih grant perdana dari Jepang melalui skema Research and Development Program for Promoting Innovative Energy and Environmental Technologies Through International Collaboration (RDIC). Program ini didanai oleh New Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO) dan menjadikan Universitas Brawijaya sebagai perguruan tinggi pertama di Indonesia yang lolos pendanaan dalam skema tersebut. Grant ini diperoleh melalui kolaborasi riset internasional bersama Setsuro Tech Inc. dan Tokushima University, Jepang.
Baca juga:
Pelantikan Ormawa FH UB Teguhkan Spirit Mahasiswa

Kolaborasi Internasional Berbasis Inovasi
Selain sebagai peneliti utama, Prof. Agustin juga menjabat sebagai Ketua Pusat Inovasi Biosains Universitas Brawijaya, yang selama ini berperan aktif dalam pengembangan riset bioteknologi dan bioekonomi. Kolaborasi dengan Setsuro Tech Inc. dan Tokushima University menjadi kekuatan utama riset ini, mengingat kedua mitra tersebut memiliki keunggulan dalam rekayasa mikroorganisme berbasis teknologi CRISPR/Cas serta pengembangan proses bioindustri skala lanjut.
Kolaborasi internasional ini tidak hanya memperkuat kualitas riset, tetapi juga membuka akses pada transfer pengetahuan, teknologi mutakhir, serta jejaring global yang relevan dengan pengembangan energi terbarukan dan lingkungan berkelanjutan.
Limbah Sawit sebagai Sumber Energi Baru
Prof. Agustin menjelaskan bahwa ketertarikannya pada pengembangan bioetanol generasi kedua berangkat dari potensi besar Indonesia sebagai negara agraris dengan ketersediaan biomassa yang melimpah, khususnya limbah lignoselulosa dari sektor pertanian dan agroindustri.
“Alasan utama saya menekuni riset bioetanol generasi kedua adalah ketersediaan biomassa yang melimpah, khususnya dari limbah pertanian dan residu agroindustri yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal dan masih bernilai tambah rendah,” ungkapnya.
Riset ini berfokus pada pemanfaatan limbah industri kelapa sawit sebagai bahan baku bioetanol generasi kedua. Berbeda dengan bioetanol generasi pertama yang masih bersaing dengan bahan pangan, pendekatan ini dinilai lebih berkelanjutan karena menggunakan bahan baku non-pangan dan mendukung sistem energi terbarukan.
Bioteknologi Modern dan Bioekonomi Sirkular
Pengembangan bioetanol generasi kedua dalam riset ini mengandalkan pendekatan bioteknologi modern, mulai dari rekayasa mikroba berbasis genome editing, optimasi enzim lignoselulolitik, hingga integrasi proses fermentasi yang efisien.
“Melalui rekayasa mikroba berbasis genome editing, optimasi enzim lignoselulolitik, serta integrasi proses fermentasi yang efisien, riset ini diarahkan untuk menghasilkan bioetanol yang efisien, ekonomis, dan ramah lingkungan,” jelas Prof. Agustin.
Secara konseptual, riset ini berada dalam kerangka bioteknologi dan bioekonomi sirkular, yang bertujuan mengonversi biomassa bernilai rendah menjadi produk energi bernilai tinggi. Inovasi ini diharapkan mampu menjawab persoalan limbah dan emisi karbon sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
“Dengan mengubah biomassa bernilai rendah menjadi produk energi bernilai tinggi, riset ini tidak hanya memperkuat ketahanan energi dan keberlanjutan lingkungan, tetapi juga membuka peluang hilirisasi bioteknologi yang aplikatif dan berdaya saing,” tambahnya.
Dampak Strategis bagi Universitas Brawijaya
Dari sisi institusional, Prof. Agustin menilai riset ini memiliki dampak strategis bagi Universitas Brawijaya dalam memperkuat posisinya sebagai pusat unggulan riset bioteknologi dan bioekonomi berbasis sumber daya hayati lokal.
Luaran riset yang ditargetkan meliputi publikasi ilmiah bereputasi internasional, paten dan paten sederhana, hingga pengembangan prototipe teknologi siap hilirisasi yang dapat meningkatkan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) Universitas Brawijaya. Selain itu, kolaborasi dengan industri agro-energi, pemerintah, dan mitra internasional diharapkan mampu memperluas jejaring riset strategis dan memperkuat rekam jejak UB dalam riset terapan berdampak nyata.
Keberhasilan perolehan grant NEDO ini juga didukung oleh kesiapan kelembagaan Universitas Brawijaya, termasuk ketersediaan Laboratorium Riset Terpadu (LRT), Laboratorium Bioteknologi, serta dukungan tata kelola riset, pendampingan administrasi dan legal, serta penguatan kapasitas peneliti.
Sebagai Ketua Pusat Inovasi Biosains UB, Prof. Agustin berharap Universitas Brawijaya semakin memantapkan perannya sebagai research university berkelas global.
“Ke depan, UB diharapkan tidak hanya menjadi pengikut arus riset global, tetapi mampu menjadi knowledge leader yang menghasilkan inovasi berdampak, khususnya dalam isu ketahanan energi, keberlanjutan lingkungan, dan transisi energi,” pungkasnya. (nid)














