Oleh: Ustadz Akhmad Muwafik Saleh
Sejak detak jantung pertama peradaban, ada satu kanker sunyi yang tidak membutuhkan senjata untuk membinasakan: ressentiment (iri, dengki, hasad). Berbagai konflik dan perseteruan yang terjadi dalam hubungan antar manusia, dari character assassination, incarceration (pemenjaraan seseorang), hingga pembunuhan dan perang, sering kali bermula dari sikap iri, dengki, dan hasad terhadap orang lain atas kebaikan, keunggulan, dan keberhasilan yang diperolehnya.
Apabila kita membedah anatomi konflik dan perseteruan dalam realitas kehidupan antar manusia, hal ini bahkan mungkin bermula jauh sebelum manusia diciptakan. Yaitu ketika Allah Sang Pencipta berencana menciptakan makhluk baru di muka bumi yang berjenis manusia. Allah swt menyampaikannya kepada para malaikat.
Saat itu ternyata ada dari kalangan merekaājin yang ahli ibadah selama ribuan tahun dan dimasukkan dalam kalangan malaikat, bernama Azazilāyang mengungkapkan sikap kritis dan kekhawatirannya atas penciptaan makhluk baru yang kelak disebut manusia, yang dimungkinkan akan menciptakan pertumpahan darah kembali sebagaimana makhluk sebelumnya, yaitu jin.
Sikap kritis itu akhirnya berujung pada penolakan dan pembangkangan untuk tunduk pada perintah Allah swt. Mereka membanggakan diri atas peribadatannya selama itu, bertasbih dan mensucikan Allah swt.
Penolakan untuk tunduk atas perintah Allah swt untuk bersujud kepada ciptaan baru dari jenis manusia yang diberi nama Adam didasarkan atas rasa cemburu, iri, dan dengki yang kemudian melahirkan kesombongan diri (superiority), dengan mengatakan, āAku lebih baik dari Adam. Aku dicipta dari api, sementara Adam tercipta dari tanah.ā
Sikap iblis ini yang disebut existential friction, sebuah gesekan eksistensial, yaitu konflik yang muncul karena merasa keberadaan pihak lain dianggap mengancam eksistensi dirinya.
Atas keberanian sikap penolakannya tersebut, ia mendapatkan gelar baru: āIblisā. Perilaku pembangkangannya disebut sebagai āsetanā, yang menjadikannya terkutuk (ar-rajim) dan dikeluarkan dari kenikmatan surga.
Hal ini melahirkan sikap hostility bias atau interpersonal conflict persistence, yaitu kecenderungan menyimpan perasaan negatif dan niat membalas dalam jangka panjang yang terus berlanjut dalam perjalanan kehidupan.
Hal ini dideklarasikan oleh setan, Iblis, di hadapan Allah sesaat setelah ia dikeluarkan dari surga, sebagaimana diabadikan dalam firman Allah swt dalam Al-Qurāan surat Al-Hijr ayat 28ā40. Dalam ayat tersebut dinyatakan:
{ ŁŁŲ§ŁŁ Ų±ŁŲØŁŁ ŲØŁŁ ŁŲ¢ Ų£ŁŲŗŪ”ŁŁŁŪ”ŲŖŁŁŁŁ ŁŁŲ£ŁŲ²ŁŁŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŁ Ū” ŁŁŁ Ł±ŁŪ”Ų£ŁŲ±Ū”Ų¶Ł ŁŁŁŁŲ£ŁŲŗŪ”ŁŁŁŁŁŁŁŁŁŁ Ū” Ų£ŁŲ¬Ū”Ł ŁŲ¹ŁŁŁŁ }
Ia (Iblis) berkata,
āTuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan menjadikan kejahatan terasa indah bagi mereka di bumi dan aku akan menyesatkan mereka semuanya.ā
(QS. Al-Hijr: 39)
Inilah ādendam kesumatā tertua dalam sejarah kehidupan yang kemudian dimanifestasikan dalam kehidupan manusia pertama di bumi.
Kisah Habil dan Qabil (anak Nabi Adam) adalah manifestasi dari The Malign Vow (sumpah jahat) setan Iblis tersebut yang meniupkan rasa iri dengki ke dalam hati Qabil sehingga ia tega membunuh adiknya, Habil. Inilah sejarah pembunuhan pertama di muka bumi.
Iri dengki, hasad, dendam kesumat, dan fitnah ibarat setali tiga uang yang menjadi sumber utama berbagai pertikaian, permusuhan, hingga pembunuhan yang terjadi di muka bumi. Api purba ini terus membakar kehidupan manusia hingga garis finis eksistensi kita saat ini, demi satu hal: rusaknya harmoni kehidupan manusia.
Coba kita perhatikan banyak pertikaian yang terjadi. Semua sering kali bersumber dari iri dengkiāpenyakit hati tertua yang sangat mematikan. Berbagai kasus perselisihan, baik di tingkat nasional (antar kelompok kepentingan), lokal, internasional antar bangsa, maupun dalam hubungan antar pribadi, apabila dicermati dengan baik akan bermuara pada penyakit hati ini: iri dengki.
Iri dengki sering kali disebabkan oleh kebencian dan permusuhan, ambisi dan keserakahan, kurangnya keimanan, serta pengaruh lingkungan (snowball effect dari iri dengki orang lain).
Iri dengki adalah muara yang melahirkan tindakan hasud melalui jalan fitnah dan mengakibatkan pertikaian hingga pembunuhan bahkan peperangan. Ia ibarat kanker ganas dan akut yang dapat menyebar tanpa kendali, merusak jaringan sehat di sekitarnya hingga berujung pada kematian.
Inilah yang disebut malignansi, sebuah istilah medis yang tepat untuk menggambarkan bahaya sifat iri dengki.
Argumentasinya adalah bahwa iri dengki merupakan emosi yang paling āsunyiā namun paling korosif. Ia adalah polusi mental ketika seseorang tidak lagi fokus pada apa yang ia miliki, melainkan terobsesi pada kebahagiaan orang lain yang ingin ia tiadakan.
Ketika iri telah mengeras, ia bermutasi menjadi hasud. Jika iri masih berupa perasaan, maka hasud adalah tekad. Ia adalah keinginan aktif untuk melihat nikmat orang lain dicabut.
Hasud adalah fase ketika seseorang mulai menyusun The Dark Agenda. Ia tidak lagi diam, tetapi mulai mencari celah untuk meruntuhkan singgasana orang lain. Ini adalah tahap perencanaan dalam kejahatan moral.
Fitnah yang berhasil akan menciptakan polarisasi. Lalu terjadilah pertikaian. Di sinilah mulai retak pondasi hubungan kemanusiaan dan nilai-nilai moral.
Ketika dua pihak tidak lagi melihat kebenaran, melainkan hanya melihat āmusuhā, maka kedamaian resmi mati.
Ujung dari semua itu adalah hilangnya modalitas kebahagiaan dari orang laināhasrat untuk melihat lawannya sengsara atau menderita. Apakah itu berupa hilangnya jabatan, pengaruh, kekayaan, dan berbagai modalitas signifikan lainnya.
Bentuknya bisa berupa penurunan jabatan, PHK, jatuh miskin, berakhir di sel penjara, hingga pembunuhan. Naudzubillahi min dzalik.
Dampak iri dengki sangat destruktif, tidak hanya bagi individu tetapi juga menjadi wabah sosial yang menyebabkan disintegrasi sosial.
Orang yang dahulu dipandang baik bisa berubah menjadi buruk (character assassination). Reputasi yang sebelumnya baik dapat mengalami reputational erosion sehingga tidak lagi dipercaya. Orang yang sebelumnya bergerak tulus menjadi dicurigai. Mereka yang dahulu penuh semangat dapat menjadi patah semangat dan kehilangan peluang kariernya.
Dampak iri dengki sangat destruktif, baik bagi individu maupun kolektivitas sosial.
Karena itu Rasulullah saw memperingatkan dengan keras bahwa siapa saja yang menanam bibit iri dengki dalam hatinya akan menuai akibat berupa hangusnya amal kebaikan.
Beliau bersabda:
āŲ„ŁŁŁŁŲ§ŁŁŁ Ł ŁŁŲ§ŁŁŲŁŲ³ŁŲÆŁŲ ŁŁŲ„ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŲŁŲ³ŁŲÆŁ ŁŁŲ£ŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŲŁŲ³ŁŁŁŲ§ŲŖŁ ŁŁŁ ŁŲ§ ŲŖŁŲ£ŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŲ§Ų±Ł Ų§ŁŁŲŁŲ·ŁŲØŁā
āJauhilah oleh kalian sifat dengki, karena sesungguhnya dengki itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.ā
(HR. Abu Dawud)
Puasa Ramadhan sejatinya ingin mengikis rasa iri dalam hati, membersihkan residu kebencian dan dendam agar manusia menjadi pribadi The Luminous Interior, yaitu jiwa yang bercahaya dari dalam.
Pribadi yang bersih hati, berpikir positif, dan menebarkan kedamaian kepada sesama. Pribadi yang memiliki hati samuderaāsiap menampung segala arus kehidupan dengan kedamaian.
āJadilah hati samudera yang menampung segala arus tanpa kehilangan jati diri, karena hanya jiwa yang kerdil yang membiarkan setitik hasud bermutasi menjadi badai kehancuran.ā
*) Dr. Akhmad Muwafik Saleh, S.Sos., M.Si
Penulis adalah Ketua Pusat Pengembangan Kepribadian Universitas Brawijaya, Pengasuh Asrama Karakter Pesantren Mahasiswa Tanwir al Afkar Malang














