Kanal24
No Result
View All Result
  • Berita Terkini
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Login
  • Berita Terkini
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
No Result
View All Result
Kanal24
No Result
View All Result

Darurat Numerasi: Mengapa Matematika Jadi Momok bagi Siswa Indonesia? 

Einid Shandy by Einid Shandy
June 4, 2026
in Pendidikan, Sekolah
0
Darurat Numerasi: Mengapa Matematika Jadi Momok bagi Siswa Indonesia? 

Darurat Numerasi: Mengapa Matematika Jadi Momok bagi Siswa Indonesia? 

2
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Kanal24, Malang – Rendahnya nilai matematika dalam Tes Kemampuan Akademik (TKA) kembali memunculkan alarm lama tentang kualitas numerasi siswa Indonesia. Persoalan ini bukan sekadar soal kemampuan berhitung, melainkan berkaitan dengan budaya belajar, metode pengajaran, hingga kesiapan sumber daya manusia Indonesia menghadapi era teknologi dan ekonomi digital.

Di banyak sekolah, matematika masih menjadi pelajaran yang paling ditakuti siswa. Rasa cemas ketika menghadapi angka, takut salah menjawab soal, hingga anggapan bahwa matematika hanya untuk “anak pintar” telah menjadi pengalaman umum di ruang-ruang kelas. Situasi tersebut dinilai turut memengaruhi rendahnya kemampuan numerasi pelajar Indonesia dalam berbagai asesmen pendidikan.

Baca juga:
BPJS Ketenagakerjaan Bidik UB Jadi Role Model Perlindungan Jaminan Sosial di Kampus

Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kemampuan matematika siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Kondisi ini kembali menjadi sorotan setelah hasil TKA memperlihatkan banyak siswa mengalami kesulitan menyelesaikan soal matematika dasar maupun berbasis penalaran.

Matematika Sudah Dianggap Sulit Sejak Dini

Banyak anak mulai memandang matematika sebagai pelajaran menakutkan sejak jenjang sekolah dasar. Tidak sedikit siswa tumbuh dengan stigma bahwa matematika adalah pelajaran paling sulit dan penuh tekanan.

Budaya takut salah dalam proses belajar dinilai menjadi salah satu penyebab utama. Di ruang kelas, siswa sering kali lebih fokus mencari jawaban benar dibanding memahami proses berpikir di balik sebuah soal. Akibatnya, matematika dipahami sebagai kumpulan rumus yang harus dihafal, bukan alat untuk melatih logika dan pemecahan masalah.

Fenomena tersebut diperparah dengan tekanan akademik yang masih menempatkan nilai sebagai tujuan utama pembelajaran. Banyak siswa akhirnya belajar matematika demi mengerjakan ujian, bukan memahami konsep secara mendalam.

Di sisi lain, tidak sedikit orang tua secara tidak sadar ikut membangun ketakutan terhadap matematika. Kalimat seperti “dari dulu matematika memang susah” atau “ayah dulu juga tidak bisa matematika” kerap terdengar dalam keseharian dan memengaruhi kepercayaan diri anak.

Belajar Rumus, Bukan Cara Bernalar

Rendahnya kemampuan numerasi juga dinilai berkaitan dengan metode pembelajaran yang terlalu berorientasi pada hafalan. Siswa terbiasa mengikuti contoh soal yang sama persis dengan penjelasan guru, tetapi kesulitan ketika konteks soal sedikit diubah.

Dalam banyak kasus, siswa mampu mengerjakan soal rutin, namun mengalami kesulitan saat dihadapkan pada soal berbasis penalaran atau problem solving. Padahal, kemampuan berpikir logis dan analitis menjadi inti utama pembelajaran matematika modern.

Kondisi ini terlihat dalam berbagai asesmen internasional yang menilai kemampuan siswa memahami persoalan sehari-hari menggunakan pendekatan matematika. Ketika soal tidak lagi berbentuk hafalan rumus, banyak siswa kehilangan arah dalam mencari solusi.

Kemampuan berpikir kritis tersebut sebenarnya semakin penting di tengah perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (AI), hingga ekonomi digital yang menuntut kemampuan analisis dan penyelesaian masalah.

Guru dan Kurikulum Sama-Sama Tertekan

Persoalan numerasi tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada siswa. Guru juga menghadapi tantangan besar dalam proses pembelajaran matematika di sekolah.

Perubahan kurikulum yang terus terjadi dalam beberapa tahun terakhir membuat banyak guru harus beradaptasi dengan cepat. Di sisi lain, target materi yang padat sering kali membuat pembelajaran lebih berfokus pada penyelesaian silabus dibanding pendalaman konsep.

Jumlah siswa yang besar di dalam kelas turut menyulitkan guru memberikan perhatian personal kepada murid yang tertinggal. Akibatnya, siswa yang sejak awal kesulitan memahami matematika semakin kehilangan rasa percaya diri.

Selain itu, beban administrasi yang tinggi membuat sebagian tenaga pendidik kesulitan mengembangkan metode belajar yang lebih kreatif dan interaktif. Pembelajaran akhirnya kembali pada pola lama: ceramah, contoh soal, lalu latihan berulang.

Ketimpangan Pendidikan Perparah Krisis Numerasi

Masalah numerasi di Indonesia juga tidak lepas dari ketimpangan kualitas pendidikan antarwilayah. Akses terhadap guru berkualitas, fasilitas belajar, internet, hingga pendampingan belajar tambahan masih belum merata.

Siswa di daerah perkotaan umumnya memiliki akses lebih besar terhadap les privat, bimbingan belajar, maupun platform pembelajaran digital. Sementara di banyak daerah lain, keterbatasan fasilitas pendidikan membuat proses belajar matematika berjalan jauh lebih sulit.

Kondisi tersebut menyebabkan kemampuan numerasi siswa sangat dipengaruhi latar belakang ekonomi keluarga dan lingkungan belajar. Akibatnya, kesenjangan pendidikan semakin melebar.

Alarm untuk Masa Depan SDM Indonesia

Rendahnya kemampuan matematika tidak hanya berdampak pada dunia pendidikan, tetapi juga berpotensi mempengaruhi daya saing Indonesia di masa depan. Di tengah ambisi memperkuat sektor teknologi, industri digital, dan pengembangan SDM berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics), kemampuan numerasi menjadi fondasi penting yang tidak bisa diabaikan.

Ketika negara-negara lain berlomba memperkuat pendidikan sains dan matematika, lemahnya numerasi dapat menjadi hambatan serius bagi Indonesia dalam menghadapi persaingan global.

Karena itu, pembelajaran matematika dinilai perlu diarahkan kembali sebagai alat untuk melatih logika, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis, bukan sekadar pelajaran menghafal rumus demi mengejar nilai ujian. (nid)

Post Views: 34
Tags: KANAL24kanal24.co.idkemampuan numerasikrisis numerasikualitas pendidikan Indonesiakurikulum pendidikanmath anxietynilai matematika siswanumerasi Indonesiapembelajaran matematikaPendidikan Indonesiapendidikan STEMPISA Indonesiareformasi pendidikanSDM IndonesiaSekolahsiswa takut matematikaTKA matematikauniversitas brawijaya
Previous Post

Rupiah Tembus Rp18.019 per Dolar AS, Alarm Baru Ekonomi Indonesia?

Einid Shandy

Einid Shandy

Reporter dan penulis Kanal24

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
oval layer

5 Gaya Rambut yang Tepat untuk Pipi Chubby agar Tampil Lebih Menarik

August 25, 2024
ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

August 4, 2023
Tren Rambut Pria 2025: Gaya Modern dan Maskulin

Tren Rambut Pria 2025: Gaya Modern dan Maskulin

February 22, 2025
Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

August 3, 2023
Permainan Interaktif Menjadi Media KKN FP UB Pupuk Minat Baca Anak Desa Kromengan

Permainan Interaktif Menjadi Media KKN FP UB Pupuk Minat Baca Anak Desa Kromengan

39
Pemkot Malang Tingkatkan Sinergi dan Soliditas Demi Keamanan Wilayah

Pemkot Malang Tingkatkan Sinergi dan Soliditas Demi Keamanan Wilayah

8
Budayakan Gaya Hidup Sehat, Fapet UB Gelar Latihan Jalan Nordik

Budayakan Gaya Hidup Sehat, Fapet UB Gelar Latihan Jalan Nordik

7
Manfaat Naik Turun Tangga Setiap Hari Bagi Kesehatan

Manfaat Naik Turun Tangga Setiap Hari Bagi Kesehatan

7
Darurat Numerasi: Mengapa Matematika Jadi Momok bagi Siswa Indonesia? 

Darurat Numerasi: Mengapa Matematika Jadi Momok bagi Siswa Indonesia? 

June 4, 2026
Rupiah Tembus Rp18.019 per Dolar AS, Alarm Baru Ekonomi Indonesia?

Rupiah Tembus Rp18.019 per Dolar AS, Alarm Baru Ekonomi Indonesia?

June 4, 2026
Forum Tehran Bahas Risiko Romantisasi Karbala dalam Konflik Politik Iran

Forum Tehran Bahas Risiko Romantisasi Karbala dalam Konflik Politik Iran

June 4, 2026
Tak Cukup Menghafal Pasal, FH UB Bekali Mahasiswa Memahami Praktik Hukum Bisnis

Tak Cukup Menghafal Pasal, FH UB Bekali Mahasiswa Memahami Praktik Hukum Bisnis

June 4, 2026

Popular Stories

  • oval layer

    5 Gaya Rambut yang Tepat untuk Pipi Chubby agar Tampil Lebih Menarik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tren Rambut Pria 2025: Gaya Modern dan Maskulin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AYAT-AYAT KREATIVITAS DAN INOVASI PELAYANAN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
UB Radio 107.5 FM
107.5 FM
Tap to Play
  • Berita
  • Tentang Kanal24
  • Layanan
  • Pedoman Media Siber
Copyright Kanal24.com 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Berita Terkini‎
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan

Copyright Kanal24.com 2025