Kanal24, Malang – Perdebatan mengenai penggunaan analogi Karbala dalam membaca konflik politik Iran mengemuka dalam forum ilmiah internasional yang digelar Center of the Municipality of Tehran, Selasa (2/6/2026). Diskusi tersebut menyoroti sisi kritis penggunaan simbolisme keagamaan dalam konteks geopolitik dan peperangan modern.
Forum bertajuk “The Power of People in Iran’s Governance: The Impact of Tehran Gatherings on the Muslim World’s Perception During the Ramadan War” itu menghadirkan akademisi internasional untuk membahas hubungan antara partisipasi massa, legitimasi politik, dan ketahanan nasional Iran.
Baca juga:
Dosen UB Soroti Paradigma Karbala dalam Forum Internasional Iran
Perdebatan Karbala Mengemuka dalam Forum Tehran
Salah satu sesi paling menarik muncul dalam diskusi tanya jawab ketika peserta forum mempertanyakan risiko penggunaan analogi Karbala dalam konteks konflik kontemporer Iran.
Peserta tersebut menilai narasi pengorbanan dalam tragedi Karbala berpotensi memunculkan mentalitas kekalahan jangka pendek di kalangan angkatan bersenjata maupun masyarakat.
Menurut peserta forum, muncul risiko munculnya keyakinan bahwa kekalahan material dapat diterima selama dianggap sebagai kemenangan moral di masa depan.

Risiko Mentalitas Kekalahan dalam Narasi Perlawanan
Isu tersebut memicu diskusi kritis mengenai batas antara simbolisme ideologis dan kebutuhan mencapai kemenangan konkret dalam realitas geopolitik modern.
Menanggapi pertanyaan itu, Dr. Haroon Aziz, Professor of West Asia and Political Studies dari Afrika Selatan, menjelaskan bahwa nilai-nilai keadilan dalam peristiwa Karbala bersifat universal dan telah menjadi sumber inspirasi berbagai gerakan perjuangan di banyak negara.
Namun forum juga mencatat adanya pandangan kritis dari perspektif hubungan internasional realis yang menilai perjuangan peradaban tidak dapat hanya bergantung pada ideologi semata.
Ideologi dan Kemenangan Nyata dalam Geopolitik Modern
Dalam konteks persaingan global modern, kemenangan konkret di bidang politik, ekonomi, dan keamanan tetap menjadi faktor penting yang tidak bisa diabaikan.
Diskusi tersebut menekankan bahwa perjuangan ideologis tetap harus menghasilkan capaian nyata di lapangan agar mampu bertahan menghadapi tekanan global.
Para peserta forum juga menyoroti pentingnya keseimbangan antara simbolisme perlawanan dan strategi politik realistis dalam menghadapi dinamika konflik modern.
Partisipasi Massa dan Legitimasi Politik Iran
Selain membahas risiko romantisasi perjuangan, forum juga menyoroti hubungan antara ajaran Syiah dan legitimasi pemerintahan di Iran.
Dalam diskusi disebutkan bahwa dalam tradisi politik Syiah, pemerintahan tidak dapat berdiri tanpa kehadiran, kesadaran, dan solidaritas rakyat.
Karena itu, partisipasi massa dinilai memiliki dimensi politik sekaligus spiritual.
Forum juga membahas bagaimana ruang publik di Iran berkembang menjadi arena konsolidasi sosial selama periode konflik. Mobilisasi masyarakat disebut tidak hanya berfungsi sebagai demonstrasi politik, tetapi juga menjadi simbol ketahanan sosial menghadapi tekanan eksternal.
Diskusi ilmiah ini dimoderatori oleh Dr. Mohadeseh Amini dari Islamic Governance Studies Department dan berlangsung secara hybrid di Communication and International Affairs Center of the Municipality of Tehran. (nid)













