Kanal24, Malang – Upaya meningkatkan kesadaran gizi anak tak selalu harus dilakukan di ruang kelas. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Bioindustri, Pertanian, dan Kehutanan (FBiPK) Universitas Brawijaya (UB) menghadirkan Gerobak Gizi Keliling, program edukasi berbasis pangan lokal yang menyasar anak-anak dan masyarakat di tiga kelurahan di Kota Malang.
Program yang menjadi bagian dari Kampung Lingkar Kampus (KLK) ini resmi dimulai di Musholla Nurul Hidayah, Kelurahan Ketawanggede, Jumat (17/7/2026). Selama delapan pekan ke depan, mahasiswa tidak hanya membagikan makanan bergizi, tetapi juga mendampingi masyarakat agar lebih memahami pentingnya pola makan sehat dengan memanfaatkan bahan pangan lokal.
Baca juga:
FBiPK UB Turun ke Kampung, Warga Belajar Barista hingga Kelola Sampah
Mahasiswa Wujudkan Pengabdian Lewat Edukasi Gizi

Presiden BEM FBiPK UB, Naufal Syahfahlevie Samosir, mengatakan Gerobak Gizi Keliling merupakan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.
“Ini merupakan implementasi dari poin ketiga Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian kepada masyarakat. Melalui Program Kampung Lingkar Kampus, kami bersama fakultas hadir mendampingi masyarakat melalui berbagai kegiatan yang bermanfaat,” ujarnya.
Menurut Naufal, program tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemenuhan gizi sejak usia dini sekaligus mendorong lahirnya generasi yang lebih sehat menuju Indonesia Emas 2045.
Berangkat dari Kebutuhan Nyata Masyarakat
Sebelum program dijalankan, tim mahasiswa terlebih dahulu melakukan pemetaan kebutuhan di Kelurahan Sumbersari, Penanggungan, dan Ketawanggede. Hasil identifikasi tersebut menjadi dasar penyusunan materi edukasi maupun jenis makanan yang dibagikan kepada masyarakat.
“Kami benar-benar mendengarkan apa yang dibutuhkan masyarakat, mulai dari kebutuhan gizi hingga edukasi yang diperlukan. Karena itu, makanan yang dibagikan disesuaikan dengan kebutuhan anak-anak sekaligus mengenalkan pangan lokal yang mudah diperoleh masyarakat,” jelas Naufal.
Selain membagikan makanan bergizi, mahasiswa juga mengajak masyarakat mengenali potensi pangan lokal sebagai sumber nutrisi yang sehat, terjangkau, dan mudah diolah dalam kehidupan sehari-hari.

Pendampingan Delapan Pekan untuk Perubahan Berkelanjutan
Naufal mengakui tantangan terbesar program ini bukan sekadar membagikan makanan, melainkan membangun kebiasaan hidup sehat di tengah masyarakat, terutama pada anak-anak.
“Karena sasaran utamanya adalah anak-anak, pendekatan yang dilakukan harus lebih komunikatif dan menyenangkan agar pesan tentang pentingnya gizi dapat diterima dengan baik,” katanya.
Program Gerobak Gizi Keliling akan berlangsung selama delapan minggu di tiga kelurahan. Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, tim akan melakukan monitoring dan evaluasi untuk mengukur dampak program sekaligus menentukan bentuk pendampingan lanjutan yang masih dibutuhkan masyarakat.
“Harapannya, selama delapan minggu ini ada perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat. Setelah program selesai, kami akan melakukan evaluasi untuk melihat tindak lanjut yang masih diperlukan,” tutup Naufal. (gal)














