Kanal24, Malang – Apa yang terlintas ketika mendengar kata LEGO? Bagi banyak orang, balok-balok berwarna itu identik dengan permainan anak-anak. Namun di ruang-ruang riset dan inovasi, LEGO justru menjadi media untuk membantu para peneliti memahami persoalan yang rumit, menyatukan berbagai sudut pandang, hingga merancang solusi secara kolaboratif.
Pendekatan tersebut dikenal sebagai LEGO® Serious Play (LSP). Berbeda dengan diskusi atau presentasi pada umumnya, metode ini mengajak setiap peserta membangun model tiga dimensi menggunakan balok LEGO sebagai representasi gagasan, pengalaman, maupun tantangan yang sedang dihadapi. Melalui model tersebut, peserta kemudian menjelaskan makna di balik setiap susunan balok sehingga seluruh anggota kelompok memiliki kesempatan yang sama untuk menyampaikan perspektifnya.
Metode yang kini digunakan di berbagai universitas, organisasi, hingga perusahaan di dunia itu diterapkan dalam Lokalatih Mitra PKR PERINTIS Universitas Brawijaya (UB) yang berlangsung di Gets Hotel Malang pada 15–17 Juli 2026. Selama tiga hari, peserta diajak memetakan persoalan, membangun model bersama, hingga menyusun konsep proyek penelitian transdisipliner menggunakan pendekatan LEGO Serious Play.
Dari Permainan Menjadi Metode Ilmiah
LEGO Serious Play dikembangkan pada akhir 1990-an sebagai metode fasilitasi untuk membantu organisasi menghadapi persoalan yang kompleks. Intinya bukan pada balok LEGOnya, melainkan pada proses “thinking with hands” atau berpikir melalui aktivitas membangun model.

Setiap model yang dibuat peserta menjadi metafora dari suatu kondisi atau persoalan. Ketika peserta menjelaskan model tersebut, mereka tidak hanya menyampaikan pendapat, tetapi juga menghubungkan pengalaman, pengetahuan, hingga hubungan antaraktor dalam sebuah sistem. Cara ini dinilai mampu menghasilkan diskusi yang lebih setara karena setiap peserta memiliki kesempatan yang sama untuk berbicara.
Dalam dunia penelitian, pendekatan seperti ini semakin relevan ketika persoalan yang dibahas tidak memiliki jawaban tunggal dan membutuhkan kolaborasi lintas disiplin ilmu.
Menjawab Tantangan Penelitian Masa Kini
Persoalan pembangunan saat ini tidak lagi dapat diselesaikan oleh satu bidang ilmu saja. Perubahan iklim, pengelolaan sumber daya alam, transformasi digital, kesehatan masyarakat, hingga pemberdayaan ekonomi saling berkaitan dan melibatkan banyak pemangku kepentingan.
Karena itu, pendekatan transdisipliner semakin banyak dikembangkan. Berbeda dengan penelitian multidisiplin yang hanya mempertemukan beberapa disiplin ilmu, penelitian transdisipliner juga melibatkan masyarakat, pemerintah, dunia usaha, maupun komunitas sebagai bagian dari proses penyusunan solusi.
Melalui pendekatan tersebut, penelitian tidak berhenti menghasilkan pengetahuan baru, tetapi juga mendorong lahirnya solusi yang dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.
Belajar Melalui Simulasi Kolaboratif
Dalam lokalatih PKR PERINTIS UB, sebanyak 17 peserta dibagi ke dalam empat kelompok. Mereka mengikuti tiga tahapan utama, yakni memetakan persoalan, membangun model kolektif, dan mengembangkan konsep proyek kolaboratif. Seluruh proses dilakukan menggunakan metode LEGO Serious Play yang difasilitasi oleh Desi Dwi Prianti dari Universitas Brawijaya bersama Elske van de Fliert dari The University of Queensland, Australia, yang telah tersertifikasi sebagai fasilitator International LEGO Serious Play.
Melalui susunan LEGO, peserta tidak hanya menggambarkan objek secara harfiah, tetapi juga mengekspresikan pengalaman, imajinasi, serta pemahaman terhadap persoalan pembangunan yang kompleks. Berbagai isu yang diangkat dalam diskusi meliputi konservasi sumber daya air berbasis citizen science, masyarakat yang berkeadilan dan mandiri energi, pemberdayaan melalui pemetaan aset dan aktor, hingga penguatan komunikasi komunitas berbasis digital.
Mengenal PKR PERINTIS UB
Lokalatih tersebut merupakan bagian dari kegiatan PKR PERINTIS UB, sebuah program yang mendorong pengembangan penelitian transdisipliner melalui kolaborasi lintas keilmuan dan kemitraan internasional.
Untuk memperkaya perspektif peserta, lokalatih juga menghadirkan Loes Witteveen dari Wageningen University & Research yang memperkenalkan konsep Living Labs, yakni pendekatan inovasi terbuka yang menghubungkan penelitian dengan implementasi di lingkungan kehidupan nyata. Selain itu, Adrian Athique dari The University of Queensland membawakan materi mengenai Digital Inclusion, yang menekankan bahwa transformasi digital tidak hanya berkaitan dengan akses teknologi, tetapi juga literasi, keamanan, keadilan, dan keberdayaan masyarakat.
Kombinasi ketiga pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa penelitian masa kini tidak lagi dilakukan secara terpisah di laboratorium atau ruang kelas. Sebaliknya, riset dibangun melalui dialog bersama masyarakat agar solusi yang dihasilkan lebih relevan dan berdampak.
Lokalatih PKR PERINTIS UB menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu lahir dari teknologi yang rumit. Terkadang, balok LEGO yang tampak sederhana justru mampu membuka ruang dialog yang lebih setara, membantu peneliti melihat persoalan dari berbagai sudut pandang, sekaligus memperkuat kolaborasi lintas disiplin.
Di tengah tantangan pembangunan yang semakin kompleks, pendekatan seperti LEGO Serious Play menjadi pengingat bahwa kualitas sebuah penelitian tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan metodenya, tetapi juga oleh kemampuan menghadirkan berbagai perspektif untuk merancang solusi yang dapat diterapkan bersama.(Din)














