Kanal24, Malang – Konsumsi daging kambing dan domba seringkali dikaitkan dengan kekhawatiran masyarakat terhadap kandungan kolesterol. Padahal, melalui inovasi di bidang nutrisi ternak, kualitas daging sebenarnya dapat ditingkatkan sehingga lebih sehat dan aman dikonsumsi.
Upaya itulah yang menjadi fokus penelitian Tri Ida Wahyu Kustyorini, S.Pt., M.P., IPM., dalam disertasi Program Doktor Ilmu Ternak Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (Fapet UB) yang diuji pada Jumat (6/3/2026). Ia mempresentasikan disertasinya berjudul “Evaluasi Suplementasi Minyak Ikan Lemuru Terproteksi Kalsium Hidroksida dalam Pakan terhadap Produktivitas dan Kualitas Daging Domba.”
Tri Ida menjelaskan, riset tersebut diarahkan untuk menghasilkan produk daging yang memiliki nilai fungsional bagi kesehatan.
“Riset saya fokus pada produk pangan. Implementasinya adalah suplementasi minyak ikan lemuru yang diproteksi kalsium hidroksida dengan harapan dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas daging domba,” ujarnya.
Melalui teknologi pakan tersebut, daging yang dihasilkan diharapkan memiliki kadar kolesterol dan LDL yang lebih rendah, sekaligus meningkatkan kadar HDL yang dikenal sebagai kolesterol baik.
Ia menuturkan, penelitian ini dilatarbelakangi oleh persoalan umum dalam nutrisi ternak ruminansia. Pada ternak seperti domba dan kambing, minyak yang diberikan dalam pakan biasanya mengalami proses biohidrogenasi di dalam rumen sehingga berubah menjadi asam lemak jenuh.
Kondisi ini membuat produk daging yang dihasilkan cenderung memiliki kandungan lemak jenuh lebih tinggi yang berpotensi meningkatkan kadar kolesterol. Karena itu diperlukan teknologi proteksi nutrien agar manfaat minyak ikan tetap optimal hingga terserap oleh tubuh ternak.

Tri Ida berharap inovasi tersebut tidak berhenti pada level penelitian, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk yang mudah diaplikasikan oleh peternak.
“Harapannya nanti bisa diproduksi secara komersial, misalnya dalam bentuk tablet atau serbuk sehingga lebih mudah diberikan kepada ternak oleh para petani peternak,” jelasnya.
Sementara itu promotor disertasi, Prof. Dr. Ir. Hartutik, M.P., IPU., ASEAN Eng., menilai penelitian ini memiliki keunggulan karena menghadirkan pendekatan teknologi pakan untuk menghasilkan produk peternakan yang lebih sehat.
Menurutnya, inovasi tersebut sangat relevan karena daging kambing maupun domba kerap dikaitkan dengan kekhawatiran masyarakat terhadap kolesterol.
“Dengan adanya penelitian ini, daging domba atau kambing yang dikonsumsi masyarakat bisa memiliki kandungan kolesterol lebih rendah sehingga tidak menimbulkan kekhawatiran terhadap risiko penyakit,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa dalam usaha peternakan, pakan merupakan komponen paling krusial karena menyumbang sekitar 70 persen dari total biaya produksi. Oleh karena itu, inovasi teknologi pakan dinilai memiliki kontribusi penting bagi pengembangan sektor peternakan.
Prof. Hartutik juga berharap Tri Ida terus mengembangkan risetnya sebagai akademisi, sehingga dapat memperkuat kapasitas keilmuan di perguruan tinggi serta meningkatkan reputasi institusi melalui kontribusi penelitian di bidang peternakan.(Din/Qrn)














