Kanal24, Malang – Dunia saat ini tidak lagi semata dipisahkan oleh sekat agama, melainkan oleh garis perjuangan antara kekuatan hegemoni global dan pihak-pihak yang berupaya menegakkan keadilan. Dalam kondisi tersebut, umat manusia dituntut untuk tidak membiarkan nurani menjadi tumpul terhadap berbagai tragedi kemanusiaan yang terjadi di berbagai belahan dunia.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Dr. Abdullah Assegaf, S.Sos., M.Hub.Int., Dosen Program Studi Hubungan Internasional FISIP Universitas Brawijaya sekaligus Direktur Iran Corner FISIP UB, dalam forum “Doa untuk Bangsa dan Dunia: Refleksi untuk Tragedi Umat Manusia” yang digelar secara hybrid pada Sabtu (7/3/2026) mulai pukul 16.00 WIB di Aula Allahyarham K.H. Jalaluddin Rakhmat, Bandung, serta diikuti peserta secara daring melalui Zoom. Kegiatan ini diselenggarakan oleh sejumlah organisasi masyarakat sipil seperti IJABI, Nurcholish Madjid Society, Ma’arif Institute, MUHSIN, Kajian Kang Jalal, Komunitas Islam Madani, dan MADDAH.
Baca juga:
Ketahanan Iran Empat Dekade di Tengah Tekanan
Acara tersebut mempertemukan para akademisi, ulama, aktivis kemanusiaan, serta tokoh masyarakat dari berbagai latar belakang untuk menghadirkan ruang refleksi spiritual dan intelektual atas tragedi kemanusiaan global, sekaligus memperkuat solidaritas lintas kelompok dalam merawat nilai keadilan dan perdamaian dunia.
Dunia yang Terbiasa Melihat Kekejaman
Dalam pemaparannya, Abdullah Assegaf menyoroti fenomena global yang menurutnya semakin mengkhawatirkan, yakni ketika masyarakat dunia mulai terbiasa menyaksikan kekerasan dan tragedi kemanusiaan tanpa respons moral yang memadai.
Ia menjelaskan bahwa setiap hari berbagai berita mengenai perang, pembunuhan, dan penderitaan manusia muncul dari berbagai sudut dunia. Namun arus informasi yang cepat membuat tragedi tersebut segera tergantikan oleh berita lain, sehingga perlahan-lahan kepekaan moral publik melemah.
Menurutnya, kondisi tersebut justru menjadi salah satu bentuk ketidakadilan yang paling berbahaya, yakni ketika masyarakat global tidak lagi bereaksi secara moral terhadap penderitaan manusia lain.
Ia menilai persoalan utama menghitung jumlah korban atau pihak yang tertindas dan bagaimana mengenali pola penindasan yang terjadi dalam struktur kekuasaan global.
“Jika ketidakadilan hanya dipandang sebagai peristiwa yang terpisah-pisah, maka orang akan menganggapnya sebagai kejadian biasa. Padahal ketika pola penindasan itu dikenali, kita akan melihat bahwa banyak penderitaan di dunia memiliki akar yang sama,” jelasnya.
Tanggung Jawab Akademisi dan Intelektual
Dalam forum tersebut, Abdullah juga menekankan bahwa para akademisi, pemikir, dan intelektual memiliki tanggung jawab moral yang besar dalam merespons situasi global yang penuh ketegangan dan konflik.
Menurutnya, tugas kaum intelektual menyampaikan simpati kepada para korban konflik dan juga memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai struktur ketidakadilan yang terjadi.
Ia mengingatkan bahwa jika kalangan akademisi memilih diam, maka pengetahuan akan kehilangan tujuan kemanusiaannya.
“Universitas tidak boleh menjadi ruang yang acuh terhadap penderitaan umat manusia. Pengetahuan harus tetap terhubung dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan,” ujarnya.
Dalam perspektif nilai-nilai Islam, ia juga menegaskan bahwa agama tidak pernah mengajarkan sikap pasif terhadap penindasan. Sebaliknya, ajaran agama justru mendorong umat untuk membela mereka yang tertindas dan memperjuangkan keadilan.
Doa sebagai Awal Kesadaran Moral
Selain diskusi intelektual, kegiatan tersebut juga menjadi ruang spiritual melalui doa bersama untuk para korban konflik dan tragedi kemanusiaan di berbagai negara.
Abdullah menjelaskan bahwa doa dalam forum tersebut menjadi ritual simbolik dan bagian dari upaya membangkitkan kesadaran moral masyarakat.
Menurutnya, doa harus mampu menggerakkan hati nurani manusia agar tidak bersikap apatis terhadap penderitaan orang lain.
Ia menegaskan bahwa doa seharusnya menjadi awal dari tindakan moral, yakni kesediaan untuk menyuarakan kebenaran dan menentang ketidakadilan sesuai dengan kemampuan masing-masing.
“Jika kita tidak mengangkat suara untuk kebenaran, maka dunia akan tetap tertidur dalam ketidakpedulian,” ujarnya.
Seruan Solidaritas dan Perdamaian Global
Forum refleksi tersebut juga menjadi momentum bagi berbagai elemen masyarakat sipil untuk menyampaikan keprihatinan terhadap eskalasi konflik global yang dinilai semakin mengkhawatirkan.
Melalui kegiatan ini, para tokoh dan aktivis kemanusiaan menyerukan pentingnya solidaritas global dalam menghadapi berbagai tragedi kemanusiaan yang terjadi di dunia.

Selain Abdullah Assegaf, forum ini juga menghadirkan sejumlah tokoh nasional dan akademisi, di antaranya Dr. Airlangga Pribadi Kusman dari Universitas Airlangga, Andar Nubowo dari Ma’arif Institute, Dr. Dina Yulianti Sulaeman dari Universitas Padjadjaran, Usman Hamid dari Amnesty International, hingga KH. Zuhairi Misrawi yang saat ini menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Tunisia.
Melalui forum ini, para peserta berharap nilai-nilai kemanusiaan, solidaritas, serta komitmen terhadap keadilan dapat terus diperkuat di tengah situasi dunia yang penuh ketegangan geopolitik.
Kegiatan doa dan refleksi tersebut diharapkan menjadi ruang diskusi intelektual dan juga menjadi pengingat bagi masyarakat global bahwa perjuangan untuk keadilan dan martabat manusia harus terus dijaga oleh seluruh elemen masyarakat. (nid)














