Kanal24, Malang – Di tengah lonjakan penggunaan Artificial Intelligence (AI) yang semakin masif, persoalan utama bukan lagi pada akses teknologi, melainkan pada cara manusia menggunakannya. Dalam konteks ini, kampus menjadi ruang krusial untuk membentuk cara berpikir baru agar AI tidak sekadar menjadi alat instan, tetapi solusi strategis.
Hal ini mengemuka dalam kuliah umum bertajuk “NVIDIA Powers The World’s AI. And Yours.” yang digelar Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya. Kegiatan ini menghadirkan Adrian Lesmono, Consumer Business Leader NVIDIA Indonesia, yang menekankan bahwa AI harus dipahami sebagai alat produktivitas, bukan sekadar jalan pintas.
“Masalahnya sekarang, banyak yang pakai AI sebagai shortcut. Mereka tidak lagi menggunakan cara berpikirnya, maunya cepat, copy paste saja,” ujarnya.
Baca juga : Kuliah Umum NVIDIA, Vokasi UB Tancap Gas Kolaborasi AI dengan Industri Global
Menurut Adrian, penggunaan AI yang keliru justru berisiko menurunkan kualitas berpikir, terutama di kalangan mahasiswa yang seharusnya berada pada fase penguatan analisis dan kreativitas.
Ia menjelaskan bahwa pendekatan yang tepat dalam memanfaatkan AI adalah menjadikannya sebagai alat bantu untuk meningkatkan produktivitas. Dalam skema ini, AI digunakan untuk menyederhanakan pekerjaan rutin, sehingga manusia dapat fokus pada analisis dan pengambilan keputusan.
“Kalau digunakan sebagai alat bantu, AI bisa meningkatkan produktivitas. Hal-hal yang rutin bisa dikonsolidasikan dengan cepat dan kita bisa menganalisis lebih akurat,” jelasnya.
Dari Teknologi ke Problem Solving
Lebih jauh, Adrian menekankan bahwa penggunaan AI harus bergeser dari sekadar tools menjadi solusi berbasis masalah. Artinya, bukan AI yang menjadi titik awal, melainkan persoalan yang ingin diselesaikan.
“Sekarang kita harus lihat dulu masalahnya apa, baru pakai AI sebagai solution provider. Bukan sebaliknya,” tegasnya.
Pendekatan ini dinilai lebih relevan di tengah kebutuhan industri yang semakin kompleks. AI tidak lagi hanya digunakan untuk efisiensi, tetapi juga untuk menyelesaikan persoalan nyata, mulai dari optimasi produksi hingga pengembangan konten kreatif.
Sebagai contoh, dalam industri kreatif, AI dapat digunakan untuk mengotomatisasi sebagian proses tanpa menghilangkan orisinalitas karya. Hal ini memungkinkan efisiensi biaya tanpa mengorbankan kualitas.
“Bagian tertentu bisa diotomatisasi dengan AI, tapi tetap menjaga originalitas desain. Jadi lebih efisien dan cost bisa ditekan,” ungkapnya.

Dominasi Teknologi dan Ekosistem NVIDIA
Dalam konteks industri global, NVIDIA saat ini menjadi salah satu pemain utama dalam pengembangan teknologi AI. Adrian menyebut bahwa kekuatan NVIDIA terletak pada efisiensi dan tingkat adopsi yang tinggi di berbagai sektor.
“NVIDIA itu paling efisien dan paling banyak diadopsi oleh industri. Dari game, content creation, sampai AI developer, banyak platform yang support NVIDIA,” jelasnya.
Secara global, dominasi NVIDIA juga terlihat dari penggunaan GPU mereka dalam pengembangan model AI besar, termasuk yang digunakan oleh perusahaan teknologi dunia. Efisiensi performa dan biaya menjadi faktor utama yang mendorong adopsi luas tersebut.
Namun, di balik kemajuan teknologi ini, muncul tantangan baru terkait literasi digital masyarakat. Kemampuan membedakan konten asli dan hasil AI menjadi semakin sulit, seiring meningkatnya kualitas generatif AI.
“Sekarang itu susah membedakan mana yang asli dan AI. Bahkan makin jago kreatornya, makin tidak kelihatan,” ujarnya.
Kampus sebagai Basis Literasi AI
Melihat tantangan tersebut, NVIDIA mulai mengarahkan fokus edukasi ke lingkungan kampus. Mahasiswa dinilai sebagai kelompok strategis karena berada di fase pembentukan pola pikir sekaligus calon pengguna AI di dunia kerja.
“Kita fokus ke kampus karena mahasiswa itu potensinya besar. Mereka akan menggunakan AI secara produktif dan nanti masuk ke industri,” kata Adrian.
Pendekatan ini tidak hanya bertujuan memperkenalkan teknologi, tetapi juga membentuk cara pandang yang lebih kritis terhadap penggunaan AI. Edukasi menjadi kunci untuk memastikan teknologi tidak disalahgunakan atau digunakan secara dangkal.
Ia juga membuka peluang kolaborasi jangka panjang dengan perguruan tinggi, termasuk pengembangan program edukasi, pelatihan, hingga keterlibatan mahasiswa dalam ekosistem teknologi.
“Kami terbuka untuk kolaborasi jangka panjang, baik dalam bentuk edukasi maupun pengembangan mahasiswa,” ujarnya.
Antara Peluang dan Risiko
Perkembangan AI membawa peluang besar sekaligus risiko yang tidak kecil. Di satu sisi, teknologi ini membuka efisiensi dan inovasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun di sisi lain, penggunaan yang tidak tepat justru dapat menurunkan kualitas berpikir dan etika penggunaan teknologi.
Dalam konteks ini, peran pendidikan menjadi sangat penting. Kampus tidak hanya dituntut untuk mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga memastikan mahasiswa memiliki pemahaman yang benar dalam memanfaatkannya.
Kuliah umum ini menjadi salah satu upaya untuk menjembatani kesenjangan tersebut—antara teknologi yang berkembang cepat dan kesiapan manusia dalam menggunakannya secara bijak.
Di tengah era AI, pertanyaan utamanya bukan lagi “apakah kita menggunakan teknologi”, tetapi “bagaimana kita menggunakannya”.(Din/Cay)














