Kanal24, Malang – Universitas Brawijaya (UB) menegaskan komitmennya membangun kepemimpinan akademik berbasis riset melalui Forum Strategis Akademik bertajuk “Sinergi Kepemimpinan dalam Membangun Ekosistem Academic Leader” yang digelar di Oryza Room UB Guest House, Kamis (23/4/2026). Forum ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat peran dosen sebagai penggerak utama inovasi sekaligus menjawab tantangan perkembangan ilmu pengetahuan yang kian dinamis.
Sekretaris Universitas Brawijaya, Dr. Tri Wahyu Nugroho, S.P., M.Si., menyebut keberadaan academic leader sebagai kebutuhan mendasar dalam sistem perguruan tinggi.
“Kebutuhan academic leader dalam sebuah ekosistem universitas ini hukumnya wajib, karena menjadi motor penggerak dari organisasi universitas itu sendiri,” ujarnya.
Melalui forum ini, pihak rektorat mengundang seluruh ketua departemen untuk menyamakan persepsi terkait strategi pembentukan pemimpin akademik di berbagai bidang keilmuan.
Baca Juga :
UB Pastikan UTBK 2026 Bersih dari Kecurangan

Menurut Dr. Tri Wahyu Nugroho, tantangan terbesar yang dihadapi saat ini adalah perubahan budaya akademik dari sekadar pengajaran menuju integrasi dengan riset.
“Tantangan terbesar itu shifting culture, pergeseran budaya dari paradigma pengajaran ditambah culture research,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa membangun ekosistem riset tidak cukup hanya dengan aktivitas mengajar, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas disiplin yang kuat dan berkelanjutan.
Lebih lanjut, Dr. Tri Wahyu Nugroho menyoroti pentingnya riset dalam mencegah stagnasi ilmu pengetahuan.
“Kalau tidak ada riset, apalagi kolaborasi, maka ilmu pengetahuan akan mandek. Maka yang diajarkan ke mahasiswa juga akan mandek,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa meningkatnya kebutuhan stakeholder terhadap solusi berbasis ilmu pengetahuan menjadi peluang besar bagi kampus untuk berkontribusi secara nyata di masyarakat.
Di sisi lain, Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi UB, Prof. Dr. Unti Ludigdo, S.E., M.Si., Ak., menekankan bahwa peran ketua departemen sangat krusial dalam mengorkestrasi sumber daya yang ada.
“Peran para academic leader di dalam mengakselerasi pengembangan dan penguatan ekosistem riset dan inovasi itu sangat strategis, terutama pada para ketua departemen,” ujarnya. Menurutnya, mereka menjadi kunci dalam memastikan riset dan inovasi berjalan efektif hingga level paling dasar organisasi.

Untuk mendorong hilirisasi riset, UB melalui Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains dan Teknologi membangun komunikasi intensif dengan industri dan pemerintah.
“Kita berusaha membangun komunikasi intens dengan berbagai pemangku kepentingan, sehingga inovasi dosen sejak awal terkoneksi dengan kebutuhan industri maupun institusi pemerintahan,” jelasnya. Langkah ini diharapkan mampu menjembatani antara gagasan akademik dan kebutuhan riil masyarakat.
Meski demikian, Prof. Dr. Unti Ludigdo mengakui masih terdapat kesenjangan antara riset akademik dan kebutuhan lapangan.
“Sebagian dosen masih berpusat pada persepsi terhadap kebutuhan masyarakat dari jurnal, belum dari kebutuhan nyata yang disuarakan industri maupun pemerintah,” pungkasnya.
Melalui forum ini, UB berharap terbentuk pemahaman yang lebih kuat dalam membangun academic leader yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berdampak luas secara sosial dan industri.(Awn/Ger)














