Kanal24, Malang– Kenaikan harga BBM nonsubsidi mulai memicu kekhawatiran pasar. Namun Bank Indonesia (BI) langsung tancap gas dengan sejumlah strategi untuk meredam potensi lonjakan inflasi yang bisa menjalar ke berbagai sektor.
Deputi Gubernur BI, Ricky Perdana Gozali, memastikan inflasi hingga Maret 2026 masih terkendali di level 3,48 persen (year on year), tetap berada dalam target 2,5±1 persen. Angka ini menjadi sinyal awal bahwa tekanan harga masih dalam batas aman.
Meski demikian, BI tidak menutup mata terhadap potensi risiko ke depan. Kenaikan harga energi global, gangguan rantai pasok, hingga ancaman cuaca ekstrem seperti El Nino disebut bisa menjadi pemicu kenaikan harga barang dan jasa.
BI menilai dampak langsung kenaikan BBM nonsubsidi terhadap inflasi relatif kecil. Tambahan inflasi diperkirakan hanya sekitar 0,04 persen, mengingat konsumennya didominasi kelompok menengah atas dengan daya beli kuat.
Untuk mengantisipasi tekanan tersebut, BI mengandalkan penguatan sinergi dengan pemerintah pusat dan daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi. Selain itu, seluruh kantor perwakilan BI di daerah dioptimalkan untuk memantau pergerakan harga secara real time agar respons kebijakan lebih cepat dan tepat sasaran.
Tak hanya itu, BI juga fokus menjaga stabilitas ekspektasi inflasi dan memastikan pasokan pangan tetap terjaga. Langkah ini dinilai krusial agar kenaikan harga energi tidak merembet luas ke kebutuhan pokok masyarakat.
Dengan kombinasi strategi tersebut, BI optimistis inflasi sepanjang 2026 tetap terkendali. Namun, dinamika global yang belum stabil membuat kewaspadaan tetap jadi kunci. (nid)













