Kanal24
No Result
View All Result
  • Berita Terkini
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Login
  • Berita Terkini
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
No Result
View All Result
Kanal24
No Result
View All Result

Konsentrasi Kekuasaan dan Krisis Check and Balance di Indonesia

Dinia by Dinia
April 22, 2026
in Hukum, Perspektif
0
Konsentrasi Kekuasaan dan Krisis Check and Balance di Indonesia

Dr. Aan Eko Widiarto, S.H., M.Hum. Pakar Hukum Tata Negara dan Dekan Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (Dinia/Kanal24)

21
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Aan Eko Widiarto*

Komposisi politik Indonesia pasca Pemilu 2024 memperlihatkan satu pola yang sulit diabaikan: mayoritas partai politik berada dalam barisan pendukung pemerintah. Ruang oposisi menyempit, kritik di parlemen terdengar makin jarang, dan relasi antara eksekutif dan legislatif bergerak dalam satu arah yang relatif seragam.

Konfigurasi ini menghadirkan konsekuensi serius bagi sistem ketatanegaraan. Fungsi pengawasan yang seharusnya dijalankan legislatif menghadapi tekanan dari kepentingan politik koalisi. Pertanyaan mendasarnya menjadi jelas: ketika kekuasaan terkonsentrasi dalam satu poros, siapa yang menjaga batasnya?

Dalam sistem ketatanegaraan modern, keseimbangan kekuasaan (check and balance) berfungsi sebagai pengaman utama terhadap penyimpangan. Setiap cabang kekuasaan saling mengawasi agar tidak melampaui batas kewenangannya.

Dalam praktik di Indonesia, kecenderungan penguatan eksekutif terlihat semakin nyata. Fenomena ini hadir melalui relasi politik yang cenderung homogen, bukan melalui pelanggaran hukum yang terbuka. Justru karena berlangsung secara halus, situasi ini kerap luput dari perhatian.

Koalisi Politik dan Melemahnya Fungsi DPR

DPR memiliki tiga fungsi utama: legislasi, anggaran, dan pengawasan. Dalam konfigurasi politik yang didominasi koalisi pemerintah, fungsi pengawasan menghadapi tantangan paling besar.

Ketika partai-partai di parlemen berada dalam satu kepentingan politik, kritik terhadap kebijakan pemerintah cenderung melemah. Proses legislasi berjalan lebih cepat, pembahasan anggaran relatif mulus, tetapi ruang koreksi menjadi terbatas.

Pada titik ini, DPR tetap menjalankan fungsi formalnya, namun daya kritisnya menurun. Relasi kekuasaan bergeser dari model pengimbang menjadi kemitraan politik.

Kekuasaan eksekutif dalam sistem presidensial memang dirancang kuat. Presiden memiliki kewenangan luas dalam menjalankan pemerintahan. Kekuatan ini membutuhkan pengimbang agar tetap berada dalam koridor konstitusi.

Ketika fungsi pengawasan melemah, ruang pengambilan keputusan menjadi lebih longgar. Kebijakan dapat berjalan lebih cepat, tetapi kontrol terhadap arah dan dampaknya menjadi terbatas.

Risiko Konsentrasi Kekuasaan

Dalam negara hukum, persoalan tidak selalu terletak pada pelanggaran yang terjadi, tetapi pada terbukanya kemungkinan pelanggaran. Sistem yang tidak memiliki pengimbang yang efektif berpotensi melahirkan keputusan yang tidak teruji secara kritis.

Secara normatif, DPR merupakan representasi rakyat. Namun dalam praktik politik modern, relasi tersebut dipengaruhi oleh struktur partai politik.

Ketika kepentingan partai menjadi dominan, ruang representasi publik ikut terdampak. Aspirasi masyarakat tidak selalu tersalurkan secara utuh dalam proses legislasi maupun pengawasan.

Kondisi ini berisiko menjadi kebiasaan. Konsentrasi kekuasaan dipandang sebagai bagian dari stabilitas politik. Narasi stabilitas sering digunakan untuk menjelaskan mengapa relasi politik yang seragam dianggap perlu.

Padahal, stabilitas yang sehat membutuhkan keseimbangan. Tanpa kontrol yang memadai, stabilitas dapat berubah menjadi stagnasi kritik.

Menjaga Batas dalam Demokrasi

Ketika fungsi pengawasan di parlemen melemah, ruang kontrol bergeser ke masyarakat sipil dan kalangan akademisi. Kritik publik, kajian ilmiah, serta advokasi menjadi bagian dari mekanisme pengawasan di luar struktur formal negara.

Peran ini penting, namun memiliki keterbatasan. Ia tidak memiliki kekuatan formal seperti DPR dalam mengoreksi kebijakan.

Pemulihan fungsi check and balance bergantung pada kesadaran politik yang lebih luas. Fungsi pengawasan membutuhkan komitmen untuk menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan politik jangka pendek.

Demokrasi tidak ditentukan oleh siapa yang berkuasa, tetapi oleh bagaimana kekuasaan itu dijalankan dan dibatasi. Kekuatan eksekutif dapat menjadi instrumen pembangunan, selama berada dalam kerangka pengawasan yang efektif.

Tanpa mekanisme tersebut, arah kebijakan berpotensi ditentukan oleh kekuatan politik semata.

*) Dr. Aan Eko Widiarto, S.H., M.Hum.
Pakar Hukum Tata Negara dan Dekan Fakultas Hukum Universitas Brawijaya

Post Views: 302
Tags: Demokrasi Indonesiadwifungsi abriHukum Tata Negarakekuasaan negaraKonstitusi Indonesiamiliter indonesiaprofesionalisme militerreformasi 1998sipil militerTni
Previous Post

Perang AS-Iran Picu Krisis Bahan Baku Plastik Indonesia

Next Post

Jurus BI Jinakkan Inflasi Usai BBM Naik, Aman atau Alarm?

Dinia

Dinia

Next Post
Jurus BI Jinakkan Inflasi Usai BBM Naik, Aman atau Alarm?

Jurus BI Jinakkan Inflasi Usai BBM Naik, Aman atau Alarm?

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
oval layer

5 Gaya Rambut yang Tepat untuk Pipi Chubby agar Tampil Lebih Menarik

August 25, 2024
ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

August 4, 2023
Tren Rambut Pria 2025: Gaya Modern dan Maskulin

Tren Rambut Pria 2025: Gaya Modern dan Maskulin

February 22, 2025
Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

August 3, 2023
Permainan Interaktif Menjadi Media KKN FP UB Pupuk Minat Baca Anak Desa Kromengan

Permainan Interaktif Menjadi Media KKN FP UB Pupuk Minat Baca Anak Desa Kromengan

39
Pemkot Malang Tingkatkan Sinergi dan Soliditas Demi Keamanan Wilayah

Pemkot Malang Tingkatkan Sinergi dan Soliditas Demi Keamanan Wilayah

8
Budayakan Gaya Hidup Sehat, Fapet UB Gelar Latihan Jalan Nordik

Budayakan Gaya Hidup Sehat, Fapet UB Gelar Latihan Jalan Nordik

7
Manfaat Naik Turun Tangga Setiap Hari Bagi Kesehatan

Manfaat Naik Turun Tangga Setiap Hari Bagi Kesehatan

7
Review Buku Hello Habits: Cara Fumio Sasaki Mengubah Kebiasaan Kecil Jadi Kunci Hidup Lebih Baik

Review Buku Hello Habits: Cara Fumio Sasaki Mengubah Kebiasaan Kecil Jadi Kunci Hidup Lebih Baik

May 14, 2026
Mahasiswa FH UB Dalami Tantangan Hukum Kepabeanan dan Cukai

Mahasiswa FH UB Dalami Tantangan Hukum Kepabeanan dan Cukai

May 13, 2026
FIKES UB Siapkan Perawat Indonesia Bersaing Secara Global

FIKES UB Siapkan Perawat Indonesia Bersaing Secara Global

May 13, 2026
Mahasiswa Psikologi UB Jalani Magang Profesional di BNN Mojokerto

Mahasiswa Psikologi UB Jalani Magang Profesional di BNN Mojokerto

May 13, 2026

Popular Stories

  • oval layer

    5 Gaya Rambut yang Tepat untuk Pipi Chubby agar Tampil Lebih Menarik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tren Rambut Pria 2025: Gaya Modern dan Maskulin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AYAT-AYAT KREATIVITAS DAN INOVASI PELAYANAN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
UB Radio 107.5 FM
107.5 FM
Tap to Play
  • Berita
  • Tentang Kanal24
  • Layanan
  • Pedoman Media Siber
Copyright Kanal24.com 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Berita Terkiniā€Ž
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan

Copyright Kanal24.com 2025