Kanal24, Malang – Tingginya penggunaan layanan keuangan digital ternyata belum sejalan dengan pemahaman masyarakat dalam mengelola uang. Kesenjangan ini jadi sorotan dalam program “Kelola Modal Cerdas, Usaha Tancap Gas (Generasi Djempolan)” yang digelar oleh Kredivo di Ballroom Malang Creative Center, Kamis (23/4/2026).
Kegiatan ini menyasar pelaku UMKM dan generasi muda yang kini makin akrab dengan kredit digital, namun belum sepenuhnya memahami cara mengelolanya secara bijak.
Baca juga :
Jurus BI Jinakkan Inflasi Usai BBM Naik, Aman atau Alarm?

AVP Brand Marketing Kredivo, Tubagus Aditya, mengungkapkan masih adanya jurang lebar antara literasi dan inklusi keuangan di Indonesia. Banyak masyarakat yang sudah menggunakan layanan keuangan, tetapi belum memahami risikonya.
“Yang terjadi sekarang itu orang pakai dulu, tapi belum tentu paham cara mengelolanya,” ujarnya.
Kondisi ini dinilai berisiko, terutama bagi pelaku UMKM yang mengandalkan arus kas untuk menjaga kelangsungan usaha. Tanpa pemahaman yang cukup, akses keuangan justru bisa menjadi bumerang.
Malang dipilih karena dikenal sebagai salah satu kota dengan aktivitas UMKM yang tinggi. Selain itu, generasi muda juga menjadi target utama karena semakin banyak yang mulai merintis usaha sejak dini.
Program Generasi Djempolan sendiri telah berjalan sejak 2020 dan menjangkau lebih dari 24 kota di Indonesia dengan total ribuan peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari pelaku usaha hingga mahasiswa.
Dalam sesi edukasi, perencana keuangan sekaligus Co-Founder temandiskusi.official, Nurfitria Pratiwi, menyoroti kesalahan klasik yang masih sering terjadi di kalangan pelaku usaha: mencampur uang pribadi dan bisnis.
“Ini yang paling sering terjadi. Uang usaha dan pribadi dicampur, akhirnya enggak pernah tahu sebenarnya untung atau cuma mutar uang,” tegasnya.
Menurutnya, kebiasaan tersebut membuat pelaku UMKM kehilangan kontrol atas kondisi keuangan. Padahal, pemisahan rekening dan pengelolaan arus kas yang disiplin adalah fondasi utama bisnis yang sehat.
Ia juga mengingatkan agar setiap pemasukan tidak langsung digunakan tanpa perhitungan yang jelas. “Uang masuk itu harus dihitung dulu, bukan langsung dipakai,” tambahnya.
Di sisi lain, penggunaan kredit digital juga perlu diarahkan ke aktivitas produktif. Akses pembiayaan seharusnya dimanfaatkan untuk memperbesar kapasitas usaha, bukan sekadar memenuhi kebutuhan konsumtif.
“Kalau digunakan dengan bijak, kredit digital bisa mendorong produktivitas dan membantu bisnis berkembang,” jelas Tubagus.
Melalui program ini, Kredivo mendorong pelaku UMKM dan generasi muda untuk tidak hanya menjadi pengguna layanan keuangan digital, tetapi juga mampu mengelolanya secara cerdas. Sebab, bisnis yang terlihat ramai belum tentu benar-benar menghasilkan keuntungan jika keuangannya tidak tertata. (qrn)














