Kanal24, Malang – Arus informasi di media sosial bergerak semakin cepat, tetapi tidak selalu diikuti dengan kemampuan memahami secara utuh. Di tengah banjir konten visual dan potongan narasi singkat, ruang publik digital dipenuhi opini yang terbentuk dalam hitungan detik. Tantangannya bukan lagi pada akses informasi, melainkan pada cara masyarakat memprosesnya.
Fenomena ini menjadi sorotan Dr. Hiqma Nur Agustina, yang melihat adanya pergeseran mendasar dalam cara berpikir masyarakat di era digital.
“Banyak orang sekarang itu lebih suka menonton video,” tutur Dr. Hiqma Nur Agustina, akademisi Program Studi D4 Bahasa Inggris untuk Komunikasi Bisnis dan Profesional, Jurusan Administrasi Niaga, Politeknik Negeri Malang.
Menurutnya, dominasi konten visual berdurasi singkat membuat konteks sering kali terpotong. Informasi diterima secara cepat, tetapi tidak selalu dipahami secara utuh. Di titik inilah, persepsi publik mulai terbentuk tanpa landasan yang kuat.
Ketika Membaca Tidak Lagi Jadi Kebiasaan
Hiqma menilai kebiasaan membaca secara mendalam semakin menurun. Ia mencontohkan fenomena sederhana di media sosial, ketika unggahan dengan caption panjang tetap direspons tanpa dibaca hingga tuntas.
“Mereka tidak mau membaca dengan tuntas,” katanya.
Akibatnya, komentar yang muncul sering tidak berkaitan dengan isi sebenarnya. Reaksi hadir lebih cepat daripada pemahaman. Dalam kondisi ini, ruang diskusi berubah menjadi ruang respons instan.
Framing Mengalahkan Fakta
Di sisi lain, cara informasi dikemas turut menentukan arah opini publik. Hiqma menekankan bahwa framing memiliki pengaruh besar dalam membentuk persepsi.
“Framing itu sangat penting,” katanya.
Konten visual yang kuat, ditambah narasi yang berulang, membuat publik cenderung menerima informasi tanpa mempertanyakan. Dalam situasi seperti ini, framing berpotensi lebih dominan dibandingkan fakta yang sebenarnya.
“Kekuatan Netizen” dan Kaburnya Kebenaran
Fenomena lain yang menguat adalah munculnya apa yang disebut sebagai “kekuatan netizen”. Dalam banyak kasus viral, dorongan yang muncul bukan lagi untuk memahami persoalan, melainkan untuk merespons secara kolektif.
“Harusnya kan kita melihat dulu duduk masalahnya,” katanya.
Namun dalam praktiknya, opini publik kerap dibentuk dari potongan informasi yang belum lengkap. Dalam situasi ini, benar dan salah menjadi kabur, karena yang lebih dominan adalah jumlah suara, bukan kualitas informasi.
Ruang Digital Tidak Netral
Hiqma melihat masyarakat bergerak dalam dua pola yang berbeda. Sebagian tetap berhati-hati dalam merespons informasi, sementara sebagian lain cenderung impulsif.
“Ada yang well educated, ada yang minim literasi,” katanya.
Masalahnya, ruang digital mempertemukan keduanya tanpa pembeda. Semua suara muncul dengan bobot yang terlihat setara, sehingga sulit membedakan mana opini berbasis pemahaman dan mana yang sekadar reaksi.
Jejak Digital dan Risiko yang Diabaikan
Di tengah kebebasan berekspresi, ada satu hal yang sering luput dari perhatian: jejak digital. Apa yang ditulis hari ini akan tetap tersimpan dan dapat ditelusuri di masa depan.
“Yang kita tulis itu jadi rekam jejak yang tidak bisa dihapus,” kata Hiqma.
Ia bahkan menyoroti praktik di dunia kerja, di mana perusahaan menelusuri media sosial calon karyawan untuk melihat karakter dan rekam jejaknya.
Perubahan Cara Berkomunikasi
Pergeseran juga terjadi dalam pola komunikasi sehari-hari. Generasi saat ini dinilai lebih cepat dan spontan dalam menyampaikan pesan, termasuk dalam komunikasi formal.
“Dulu kita mau kirim pesan ke dosen itu dipikir berkali-kali,” katanya.
Kini, komunikasi berlangsung lebih instan tanpa banyak pertimbangan. Kecepatan meningkat, tetapi kualitas pesan tidak selalu terjaga.
Perubahan ini berlangsung perlahan, tanpa disadari sebagai krisis besar. Namun dampaknya terasa dalam cara masyarakat memahami, menilai, dan merespons informasi.
Ketika membaca tidak lagi menjadi kebiasaan, ketika visual menggantikan narasi, dan ketika komentar hadir lebih cepat dari pemahaman, yang tergerus bukan sekadar informasi—melainkan cara berpikir itu sendiri.














