Kanal24
No Result
View All Result
  • Berita Terkini
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Login
  • Berita Terkini
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
No Result
View All Result
Kanal24
No Result
View All Result

Krisis Berpikir di Era Digital: Ketika Narasi Kalah dengan Komentar

Dinia by Dinia
April 27, 2026
in Pendidikan
0
Krisis Berpikir di Era Digital: Ketika Narasi Kalah dengan Komentar

Ilustrasi Opini publik terbentuk dari komentar di media sosial (lifestyle.bisnis)

4
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Kanal24, Malang – Arus informasi di media sosial bergerak semakin cepat, tetapi tidak selalu diikuti dengan kemampuan memahami secara utuh. Di tengah banjir konten visual dan potongan narasi singkat, ruang publik digital dipenuhi opini yang terbentuk dalam hitungan detik. Tantangannya bukan lagi pada akses informasi, melainkan pada cara masyarakat memprosesnya.

Fenomena ini menjadi sorotan Dr. Hiqma Nur Agustina, yang melihat adanya pergeseran mendasar dalam cara berpikir masyarakat di era digital.

“Banyak orang sekarang itu lebih suka menonton video,” tutur Dr. Hiqma Nur Agustina, akademisi Program Studi D4 Bahasa Inggris untuk Komunikasi Bisnis dan Profesional, Jurusan Administrasi Niaga, Politeknik Negeri Malang.

Menurutnya, dominasi konten visual berdurasi singkat membuat konteks sering kali terpotong. Informasi diterima secara cepat, tetapi tidak selalu dipahami secara utuh. Di titik inilah, persepsi publik mulai terbentuk tanpa landasan yang kuat.

Ketika Membaca Tidak Lagi Jadi Kebiasaan

Hiqma menilai kebiasaan membaca secara mendalam semakin menurun. Ia mencontohkan fenomena sederhana di media sosial, ketika unggahan dengan caption panjang tetap direspons tanpa dibaca hingga tuntas.

“Mereka tidak mau membaca dengan tuntas,” katanya.

Akibatnya, komentar yang muncul sering tidak berkaitan dengan isi sebenarnya. Reaksi hadir lebih cepat daripada pemahaman. Dalam kondisi ini, ruang diskusi berubah menjadi ruang respons instan.

Framing Mengalahkan Fakta

Di sisi lain, cara informasi dikemas turut menentukan arah opini publik. Hiqma menekankan bahwa framing memiliki pengaruh besar dalam membentuk persepsi.

“Framing itu sangat penting,” katanya.

Konten visual yang kuat, ditambah narasi yang berulang, membuat publik cenderung menerima informasi tanpa mempertanyakan. Dalam situasi seperti ini, framing berpotensi lebih dominan dibandingkan fakta yang sebenarnya.

“Kekuatan Netizen” dan Kaburnya Kebenaran

Fenomena lain yang menguat adalah munculnya apa yang disebut sebagai “kekuatan netizen”. Dalam banyak kasus viral, dorongan yang muncul bukan lagi untuk memahami persoalan, melainkan untuk merespons secara kolektif.

“Harusnya kan kita melihat dulu duduk masalahnya,” katanya.

Namun dalam praktiknya, opini publik kerap dibentuk dari potongan informasi yang belum lengkap. Dalam situasi ini, benar dan salah menjadi kabur, karena yang lebih dominan adalah jumlah suara, bukan kualitas informasi.

Ruang Digital Tidak Netral

Hiqma melihat masyarakat bergerak dalam dua pola yang berbeda. Sebagian tetap berhati-hati dalam merespons informasi, sementara sebagian lain cenderung impulsif.

“Ada yang well educated, ada yang minim literasi,” katanya.

Masalahnya, ruang digital mempertemukan keduanya tanpa pembeda. Semua suara muncul dengan bobot yang terlihat setara, sehingga sulit membedakan mana opini berbasis pemahaman dan mana yang sekadar reaksi.

Jejak Digital dan Risiko yang Diabaikan

Di tengah kebebasan berekspresi, ada satu hal yang sering luput dari perhatian: jejak digital. Apa yang ditulis hari ini akan tetap tersimpan dan dapat ditelusuri di masa depan.

“Yang kita tulis itu jadi rekam jejak yang tidak bisa dihapus,” kata Hiqma.

Ia bahkan menyoroti praktik di dunia kerja, di mana perusahaan menelusuri media sosial calon karyawan untuk melihat karakter dan rekam jejaknya.

Perubahan Cara Berkomunikasi

Pergeseran juga terjadi dalam pola komunikasi sehari-hari. Generasi saat ini dinilai lebih cepat dan spontan dalam menyampaikan pesan, termasuk dalam komunikasi formal.

“Dulu kita mau kirim pesan ke dosen itu dipikir berkali-kali,” katanya.

Kini, komunikasi berlangsung lebih instan tanpa banyak pertimbangan. Kecepatan meningkat, tetapi kualitas pesan tidak selalu terjaga.

Perubahan ini berlangsung perlahan, tanpa disadari sebagai krisis besar. Namun dampaknya terasa dalam cara masyarakat memahami, menilai, dan merespons informasi.

Ketika membaca tidak lagi menjadi kebiasaan, ketika visual menggantikan narasi, dan ketika komentar hadir lebih cepat dari pemahaman, yang tergerus bukan sekadar informasi—melainkan cara berpikir itu sendiri.

Post Views: 36
Tags: edukasi mediaframing mediaGenerasi Digitaljejak digitalkomunikasi digitalkrisis literasiliterasi digitalmedia sosialnetizen indonesiaperilaku netizensosial media indonesiaUB Malang
Previous Post

Gawat! Rupiah Dekati Rekor Terlemah, Dampak Perang AS-Iran Makin Terasa

Next Post

“Who Knows Where Life Will Take You?” : Gaya Baru dari Reality Club

Dinia

Dinia

Next Post
“Who Knows Where Life Will Take You?” : Gaya Baru dari Reality Club

“Who Knows Where Life Will Take You?” : Gaya Baru dari Reality Club

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
oval layer

5 Gaya Rambut yang Tepat untuk Pipi Chubby agar Tampil Lebih Menarik

August 25, 2024
ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

August 4, 2023
Tren Rambut Pria 2025: Gaya Modern dan Maskulin

Tren Rambut Pria 2025: Gaya Modern dan Maskulin

February 22, 2025
Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

August 3, 2023
Permainan Interaktif Menjadi Media KKN FP UB Pupuk Minat Baca Anak Desa Kromengan

Permainan Interaktif Menjadi Media KKN FP UB Pupuk Minat Baca Anak Desa Kromengan

39
Pemkot Malang Tingkatkan Sinergi dan Soliditas Demi Keamanan Wilayah

Pemkot Malang Tingkatkan Sinergi dan Soliditas Demi Keamanan Wilayah

8
Budayakan Gaya Hidup Sehat, Fapet UB Gelar Latihan Jalan Nordik

Budayakan Gaya Hidup Sehat, Fapet UB Gelar Latihan Jalan Nordik

7
Manfaat Naik Turun Tangga Setiap Hari Bagi Kesehatan

Manfaat Naik Turun Tangga Setiap Hari Bagi Kesehatan

7
“Who Knows Where Life Will Take You?” : Gaya Baru dari Reality Club

“Who Knows Where Life Will Take You?” : Gaya Baru dari Reality Club

April 27, 2026
Krisis Berpikir di Era Digital: Ketika Narasi Kalah dengan Komentar

Krisis Berpikir di Era Digital: Ketika Narasi Kalah dengan Komentar

April 27, 2026
Bansos 2025 Rp504,7 T untuk Rakyat, Bagaimana Rinciannya?

Gawat! Rupiah Dekati Rekor Terlemah, Dampak Perang AS-Iran Makin Terasa

April 27, 2026
FISIP UB Bawa Bahasa Indonesia ke Vietnam, Perkuat Diplomasi Akademik ASEAN

UB dan PLN Gaspol Riset Mobil Hidrogen, Target Net Zero Dipercepat

April 27, 2026

Popular Stories

  • oval layer

    5 Gaya Rambut yang Tepat untuk Pipi Chubby agar Tampil Lebih Menarik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tren Rambut Pria 2025: Gaya Modern dan Maskulin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AYAT-AYAT KREATIVITAS DAN INOVASI PELAYANAN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
UB Radio 107.5 FM
107.5 FM
Tap to Play
  • Berita
  • Tentang Kanal24
  • Layanan
  • Pedoman Media Siber
Copyright Kanal24.com 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Berita Terkini‎
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan

Copyright Kanal24.com 2025