Kanal24
No Result
View All Result
  • Berita Terkini
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Login
  • Berita Terkini
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
No Result
View All Result
Kanal24
No Result
View All Result

Kenapa Perempuan Sering Merasa Bersalah?

Einid Shandy by Einid Shandy
May 10, 2026
in Gaya Hidup
0
Kenapa Perempuan Sering Merasa Bersalah?
7
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Kanal24, Malang – Kenapa perempuan sering merasa bersalah menjadi pertanyaan yang diam-diam dialami banyak orang, tetapi jarang dibicarakan secara terbuka. Perasaan ini muncul bukan hanya saat melakukan kesalahan, melainkan bahkan ketika perempuan sedang berusaha memberi ruang untuk dirinya sendiri.

Saat memilih istirahat setelah lelah bekerja, muncul rasa tidak nyaman karena merasa tidak produktif. Saat menolak permintaan orang lain, hati dipenuhi pikiran bahwa dirinya jahat. Bahkan ketika perempuan mencoba mengejar karier, menikmati waktu sendirian, atau sekadar ingin tenang tanpa gangguan, rasa bersalah sering datang tanpa diundang.

Fenomena perempuan dan rasa bersalah ini bukan hal sepele. Dalam psikologi, kondisi tersebut berkaitan erat dengan tekanan peran sosial yang sudah lama melekat pada perempuan. Sejak kecil, banyak perempuan tumbuh dengan tuntutan untuk menjadi sosok yang sabar, penurut, penuh perhatian, dan selalu mengutamakan kebutuhan orang lain dibanding kebutuhan pribadi.

Baca juga:
Salah Perawatan Bisa Parah, Ini Pantangan Campak

Akibatnya, ketika perempuan mulai mencoba memprioritaskan diri sendiri, batinnya justru menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang salah.

Perempuan dan Rasa Bersalah Berasal dari Ekspektasi yang Menumpuk

Rasa bersalah yang dialami perempuan umumnya tidak datang dari satu sumber. Ia tumbuh dari ekspektasi yang menumpuk selama bertahun-tahun. Perempuan dituntut mampu menjalankan banyak peran sekaligus: berhasil dalam pekerjaan, hadir untuk keluarga, menjadi pasangan yang pengertian, anak yang membanggakan, dan tetap terlihat kuat meski sedang lelah.

Saat satu saja peran itu dirasa kurang maksimal, perempuan cenderung menyalahkan dirinya sendiri. Perasaan tidak pernah cukup inilah yang membuat banyak perempuan hidup dalam tekanan batin tanpa henti.

Mereka merasa bersalah ketika belum bisa membahagiakan orang tua. Bersalah ketika tidak punya cukup waktu untuk pasangan. Bersalah saat meninggalkan anak demi pekerjaan. Bersalah ketika menolak ajakan teman karena ingin sendiri. Pada akhirnya, perempuan seperti hidup di antara banyak tuntutan yang semuanya meminta dipenuhi bersamaan.

Psikolog menyebut kondisi ini sebagai internalisasi tuntutan sosial, yaitu saat standar dari lingkungan berubah menjadi suara batin yang terus menilai diri sendiri. Inilah yang membuat perempuan sulit merasa lega meskipun sebenarnya sudah berusaha sangat keras.

Kenapa Perempuan Sering Merasa Bersalah Saat Istirahat?

Salah satu bentuk paling nyata dari masalah ini adalah rasa bersalah saat istirahat. Banyak perempuan merasa tidak benar-benar bisa menikmati waktu tenang. Ketika tubuh mencoba berhenti, pikiran justru sibuk memikirkan pekerjaan rumah, target karier, tanggung jawab keluarga, hingga pesan yang belum dibalas.

Ada semacam keyakinan tidak sadar bahwa perempuan baru dianggap bernilai jika terus bergerak dan terus berguna bagi orang lain. Karena itulah, ketika memilih tidur lebih lama, rebahan, atau menolak aktivitas tambahan, rasa bersalah perlahan muncul.

Padahal tubuh manusia membutuhkan jeda. Namun perempuan sering merasa bahwa beristirahat sama dengan menjadi malas. Pikiran seperti ini muncul karena selama ini pengorbanan sering dianggap sebagai ukuran kebaikan seorang perempuan.

Semakin ia mengabaikan diri sendiri, semakin ia dipuji sebagai sosok yang kuat. Sebaliknya, saat mulai menjaga dirinya, ia malah merasa sedang berbuat salah.

Memilih Diri Sendiri Sering Membuat Perempuan Tidak Enak Hati

Masalah lain yang membuat perempuan dan rasa bersalah sulit dipisahkan adalah kebiasaan untuk menyenangkan semua orang. Banyak perempuan merasa tidak enak jika harus berkata tidak, membuat batasan, atau menolak tanggung jawab tambahan.

Ada ketakutan akan dinilai berubah, dinilai egois, atau dianggap tidak peduli. Karena itulah, perempuan sering memaksakan diri untuk tetap hadir meski sebenarnya kelelahan.

Dalam jangka panjang, kondisi ini membuat perempuan kehilangan ruang untuk mendengarkan kebutuhannya sendiri. Semua energi habis untuk memastikan orang lain nyaman, sementara dirinya terus menunda tenang.

Tak sedikit perempuan yang akhirnya merasa marah pada diri sendiri, mudah menangis, kehilangan motivasi, bahkan merasa hidupnya penuh tekanan tanpa tahu harus mengadu ke mana.

Cara Mengatasi Rasa Bersalah Berlebihan pada Perempuan

Mengatasi rasa bersalah berlebihan bukan berarti perempuan harus berubah menjadi cuek. Yang perlu dilakukan adalah belajar memahami bahwa tidak semua rasa tidak enak menandakan dirinya salah.

Kadang rasa bersalah muncul hanya karena perempuan sedang melakukan hal baru yang belum terbiasa, yaitu membuat batasan sehat untuk dirinya sendiri.

Belajar istirahat tanpa merasa malas, belajar menolak tanpa merasa jahat, dan belajar memilih kebahagiaan pribadi tanpa takut dihakimi merupakan proses penting agar kesehatan mental tetap terjaga.

Perempuan juga perlu menyadari bahwa dirinya tidak ditugaskan untuk menyelamatkan semua orang. Tidak semua masalah harus dipikul sendiri. Tidak semua orang harus puas dengan setiap keputusan yang diambil.

Semakin cepat perempuan menerima bahwa dirinya juga manusia dengan keterbatasan, semakin mudah pula ia melepaskan tekanan batin yang selama ini menumpuk.

Perempuan Tidak Harus Selalu Kuat Setiap Saat

Pada akhirnya, kenapa perempuan sering merasa bersalah berakar pada satu hal yang sama: perempuan terlalu lama diajarkan untuk merasa bertanggung jawab atas kenyamanan semua orang.

Padahal, memilih diri sendiri bukan tindakan egois. Menjaga kesehatan mental bukan bentuk kelemahan. Dan beristirahat bukan berarti gagal menjadi perempuan hebat.

Ada kalanya perempuan memang perlu berhenti meminta maaf hanya karena ingin hidup lebih tenang.

Sebab perempuan tidak harus selalu kuat setiap saat. Kadang yang paling dibutuhkan hanyalah menerima bahwa dirinya sudah cukup, tanpa harus mengorbankan diri terus-menerus. (nid)

Post Views: 162
Tags: KANAL24kanal24.co.idkenapa perempuan sering merasa bersalahkesehatan mental perempuanperempuan dan ekspektasiperempuan merasa bersalahpsikologi perempuanrasa bersalah perempuanuniversitas brawijaya
Previous Post

Malang Mulai “Menyala”, Media Art Didorong Jadi Identitas Baru Kota

Next Post

Latihan Simpel Ini Diam Diam Ubah Cara Kamu Berlari

Einid Shandy

Einid Shandy

Reporter dan penulis Kanal24

Next Post
Latihan Simpel Ini Diam Diam Ubah Cara Kamu Berlari

Latihan Simpel Ini Diam Diam Ubah Cara Kamu Berlari

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
oval layer

5 Gaya Rambut yang Tepat untuk Pipi Chubby agar Tampil Lebih Menarik

August 25, 2024
ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

August 4, 2023
Tren Rambut Pria 2025: Gaya Modern dan Maskulin

Tren Rambut Pria 2025: Gaya Modern dan Maskulin

February 22, 2025
Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

August 3, 2023
Permainan Interaktif Menjadi Media KKN FP UB Pupuk Minat Baca Anak Desa Kromengan

Permainan Interaktif Menjadi Media KKN FP UB Pupuk Minat Baca Anak Desa Kromengan

39
Pemkot Malang Tingkatkan Sinergi dan Soliditas Demi Keamanan Wilayah

Pemkot Malang Tingkatkan Sinergi dan Soliditas Demi Keamanan Wilayah

8
Budayakan Gaya Hidup Sehat, Fapet UB Gelar Latihan Jalan Nordik

Budayakan Gaya Hidup Sehat, Fapet UB Gelar Latihan Jalan Nordik

7
Manfaat Naik Turun Tangga Setiap Hari Bagi Kesehatan

Manfaat Naik Turun Tangga Setiap Hari Bagi Kesehatan

7
CEO FIN Komodo Ajak Kampus Kurangi Ketergantungan Teknologi Impor

CEO FIN Komodo Ajak Kampus Kurangi Ketergantungan Teknologi Impor

June 9, 2026
Presiden Sudah Punya Menteri, Mengapa Masih Membutuhkan Penasihat?

Presiden Sudah Punya Menteri, Mengapa Masih Membutuhkan Penasihat?

June 9, 2026
Tak Cukup Terbit di Jurnal, FT UB Dorong Inovasi Tembus Industri

Tak Cukup Terbit di Jurnal, FT UB Dorong Inovasi Tembus Industri

June 9, 2026
Workshop 3 AITF: Proyek AI Mahasiswa untuk Pendidikan Nasional

Workshop 3 AITF: Proyek AI Mahasiswa untuk Pendidikan Nasional

June 9, 2026

Popular Stories

  • oval layer

    5 Gaya Rambut yang Tepat untuk Pipi Chubby agar Tampil Lebih Menarik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tren Rambut Pria 2025: Gaya Modern dan Maskulin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AYAT-AYAT KREATIVITAS DAN INOVASI PELAYANAN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
UB Radio 107.5 FM
107.5 FM
Tap to Play
  • Berita
  • Tentang Kanal24
  • Layanan
  • Pedoman Media Siber
Copyright Kanal24.com 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Berita Terkini‎
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan

Copyright Kanal24.com 2025