Kanal24, Malang – Industri pengolahan tuna Indonesia dinilai memasuki babak baru yang semakin menjanjikan. Tidak lagi sekadar mengandalkan ekspor bahan mentah, sektor ini kini mulai bergerak menuju industri bernilai tambah yang fokus pada inovasi, keberlanjutan, hingga diversifikasi produk turunan berdaya saing tinggi di pasar global.
Nilai ekspor tuna Indonesia pada 2025 bahkan dilaporkan telah melampaui USD 1 miliar atau setara lebih dari Rp17 triliun. Capaian tersebut menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu pemain utama dalam rantai pasok tuna dunia, sekaligus membuka peluang besar bagi penguatan industri pengolahan dalam negeri.
Indonesia Tuna Consortium menilai, pendekatan industri tuna berbasis nilai kini menjadi kebutuhan mendesak di tengah tekanan terhadap stok ikan global. Selama ini, sebagian besar industri masih berfokus pada volume produksi, padahal banyak bagian tuna yang belum dimanfaatkan secara optimal.
Sekitar 40 hingga 50 persen bagian tuna seperti kulit, tulang, hingga sisik disebut masih belum diolah maksimal. Padahal, limbah tersebut memiliki nilai ekonomi tinggi apabila dikembangkan menjadi produk turunan seperti kolagen, gelatin, biopeptida, hingga bahan baku farmasi dan kosmetik.
Potensi pasar produk turunan tuna juga dinilai sangat besar. Pasar global kolagen misalnya diproyeksikan terus tumbuh hingga melampaui USD 9 miliar pada 2030. Kondisi ini membuka peluang hilirisasi industri perikanan nasional agar tidak lagi hanya bergantung pada ekspor ikan segar maupun beku.
Data perdagangan menunjukkan tren ekspor tuna Indonesia mengalami pertumbuhan positif dalam beberapa tahun terakhir. Amerika Serikat, Thailand, dan Jepang menjadi pasar utama ekspor tuna nasional dengan kontribusi signifikan terhadap total nilai perdagangan.
Produk olahan seperti fillet tuna dan makanan siap konsumsi kini mulai mendominasi pasar ekspor. Pergeseran tersebut menjadi sinyal bahwa industri perikanan Indonesia mulai bergerak menuju produk dengan nilai tambah lebih tinggi dan daya saing yang lebih kuat di pasar internasional.
Di sisi lain, meningkatnya permintaan global terhadap produk seafood berkelanjutan turut mendorong pemerintah memperkuat tata kelola sektor perikanan. Regulasi berbasis kuota, pengawasan penangkapan, hingga sertifikasi internasional terus diperkuat demi menjaga keberlanjutan sumber daya laut Indonesia.
Transformasi industri tuna juga didorong pemanfaatan teknologi dan data untuk meningkatkan efisiensi produksi serta kualitas produk ekspor. Langkah ini diyakini dapat memperbesar peluang Indonesia menjadi pusat industri pengolahan tuna terbesar di kawasan Asia Pasifik.
Dengan kekayaan sumber daya laut yang melimpah serta tingginya permintaan pasar global, industri pengolahan tuna dinilai berpotensi menjadi salah satu motor baru pertumbuhan ekonomi nasional, sekaligus menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan nelayan serta pelaku usaha perikanan di daerah. (nid)














