Kanal24, Malang – Lagu dan video musik yang selama ini hanya dianggap hiburan ternyata bisa dibedah sebagai karya seni penuh simbol, sejarah, hingga isu kekuasaan gender. Itulah yang dibahas dalam Guest Lecture Program Studi Seni Rupa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB), Rabu (20/5/2026), saat fenomena Taylor Swift dibawa masuk ke ruang akademik sebagai bahan kajian budaya visual kontemporer.
Kuliah tamu bertajuk The Fate of Ophelia: Art, Power, and the Female Gaze Through Taylor Swift’s The Life of a Show Girl (2025) tersebut menghadirkan Associate Prof. Dr. Roslina Binti Ismail dari Faculty of Creative Arts, Universiti Malaya, Malaysia, sebagai narasumber utama. Kegiatan berlangsung di Hall Lantai 7 Gedung A FIB UB dan menjadi bagian dari penguatan kerja sama akademik antara kedua institusi.
Baca Juga :
Seminar FIA UB Bongkar Peluang Karier Kampus

Dosen Program Studi Seni Rupa FIB UB, Mayang Anggrian, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa tema budaya populer dipilih karena relevan dengan kehidupan mahasiswa sekaligus membuka perspektif baru dalam memahami seni rupa. “Jadi kegiatan ini sebetulnya salah satu kegiatan bentuk penguatan kerja sama yang sudah terlaksana antara prodi seni rupa dengan Faculty of Creative Arts, University Malaya. Dan kebetulan Associate Prof. Dr. Roslina Binti Ismail ini sedang ada kunjungan ke Malang,” ujarnya.
Menurut Mayang, seni rupa saat ini tidak lagi hanya berbicara soal menciptakan karya visual, tetapi juga bagaimana karya tersebut dibaca melalui pendekatan teori, budaya, hingga fenomena sosial yang berkembang. “Hari ini seni rupa tidak hanya berkutat di masalah penciptaan. Ragam perspektif bagaimana ini dipandang dari sudut pandang teori-teori tertentu atau fenomena-fenomena tertentu, itu sangat penting untuk diperkaya,” katanya.

Dalam pemaparannya, Associate Prof. Dr. Roslina Binti Ismail mengungkap alasan memilih video musik Taylor Swift sebagai objek kajian akademik. Ia menyebut Fate of Ophelia memiliki pengaruh global sekaligus kaya akan referensi seni klasik. “Saya memilih Fate of Ophelia karya Taylor Swift karena video musik itu telah ditonton 375 juta kali dan dikenal secara global. Video musik tersebut juga dipenuhi referensi seni dan visual yang bisa kami ekstrak untuk ditunjukkan kepada mahasiswa,” jelasnya.
Roslina juga menyoroti bagaimana karakter Ophelia dari karya Shakespeare direkonstruksi melalui sudut pandang female gaze. “Taylor Swift mengambil narasi tentang rasa sakit, penderitaan, dan kepasifan Ophelia, lalu membuatnya mampu menceritakan kisahnya sendiri. Pada dasarnya Taylor Swift merepresentasikan Ophelia dan memberinya suara. Selama 400 tahun, ia diam,” ujarnya.
Selain membahas teori dan budaya populer, mahasiswa juga diajak lebih kritis dalam membaca karya visual. Roslina menekankan pentingnya melihat video musik atau karya seni sebagai objek analisis, bukan sekadar hiburan. “Lihat komposisinya, warnanya, karakternya, bentuknya, lalu catat. Setelah itu lihat juga bagaimana sudut pandang atau gaze bekerja di dalam karya tersebut,” katanya.
Mayang berharap kuliah tamu ini membuat mahasiswa memiliki perspektif yang lebih luas terhadap budaya populer dan praktik seni kontemporer. “Teman-teman bisa melihat ternyata pandangan yang umumnya seperti ini bisa dikonstruksi seperti ini loh kalau dari sisi budaya populer,” pungkasnya. (Ger)













