Kanal24, Malang – Dunia kerja bergerak lebih cepat dibanding ruang kelas. Banyak kampus mulai menghadapi tantangan yang sama: bagaimana membuat pembelajaran tetap relevan dengan kebutuhan industri yang terus berubah.
Perkembangan artificial intelligence (AI), industri digital, hingga teknologi immersive membuat pendidikan vokasi dituntut bergerak lebih adaptif. Dunia industri kini tidak hanya mencari lulusan dengan ijazah, tetapi juga pengalaman proyek nyata, kemampuan komunikasi global, hingga kesiapan menghadapi ritme kerja profesional.
Situasi itu yang coba dijawab Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya (UB) melalui kerja sama dengan perusahaan teknologi kreatif asal Singapura, FXMedia Singapore, dalam Seminar Industri Design Management Summit: Crafting the Future yang digelar di Auditorium Medcom UB, Rabu (20/5/2026).
Baca Juga :
Mahasiswa UB Diajak Upgrade Skill Lewat Djarum Beasiswa Plus 2026
Dekan Fakultas Vokasi UB, Mukhammad Kholid Mawardi, mengatakan kolaborasi tersebut menjadi bagian dari penguatan kompetensi mahasiswa agar sesuai dengan kebutuhan industri global.
Menurutnya, kerja sama dengan FXMedia tidak berhenti pada seminar atau kuliah tamu, tetapi juga melibatkan mahasiswa secara langsung dalam proyek industri kreatif digital.
“Mahasiswa kami dilibatkan dalam projek-projek yang dikerjakan oleh FX Media,” ujarnya.
Ia menjelaskan pelibatan mahasiswa dalam proyek industri menjadi cara penting untuk mempertemukan pembelajaran kampus dengan kebutuhan dunia kerja nyata.
“Nah, pelibatan mahasiswa dalam pengembangan produksi FX Media ini bisa membantu mahasiswa mengembangkan kompetensi dan sekaligus memberikan sinyal kepada industri bahwasanya apa yang dipelajari mahasiswa desain khususnya adalah sesuai dengan kebutuhan industri,” katanya.
Pendidikan Vokasi Dinilai Harus Dekat dengan Industri
Ketua pelaksana kegiatan, Kristanto Adi Nugroho, mengatakan seminar tersebut memang dirancang untuk mempersiapkan mahasiswa vokasi menghadapi dunia industri yang terus berubah cepat.
“Kegiatan hari ini memang bertujuan untuk mempersiapkan terutama bagi mahasiswa vokasi yang mereka harus siap terjun di dunia industri,” ujarnya.
Menurut Kristanto, salah satu tantangan terbesar dunia industri kreatif saat ini adalah bagaimana memahami kebutuhan klien dan membangun empati dalam proses desain.
“Maka dari itu penting sekali untuk mempelajari bagaimana manajemen di dalam sebuah desain, bagaimana kita bisa masuk atau kita bisa mengerti. Terutama di dalam design thinking adalah empati,” katanya.

Ia menilai pendidikan vokasi memiliki kekuatan utama pada kolaborasi langsung dengan dunia industri. Karena itu, mahasiswa perlu mendapatkan pengalaman dari praktisi yang benar-benar menghadapi tantangan industri setiap hari.
“Industri di dunia vokasi sudah merupakan link and match,” ujarnya.
Sementara itu, Founder dan CEO FXMedia Singapore, Hoon Leong Mark Wong, mengaku kerja sama dengan UB terus berkembang sejak dimulai pada 2021.
Menurutnya, performa mahasiswa dan alumni UB yang bekerja di perusahaan mereka dinilai sangat baik.
“Kami sudah merekrut staf penuh waktu dari UB dan performanya sangat baik,” katanya.
Selain membuka peluang magang, FXMedia juga berencana memperluas operasional dan pencarian talenta kreatif di Malang.
Kampus Mulai Diukur dari Lulusannya
Rektor UB, Widodo, menilai perguruan tinggi saat ini memang harus memiliki jejaring kuat dengan industri agar lulusan lebih siap menghadapi dunia kerja.
“Hari ini Fakultas Vokasi melakukan kerja sama dengan FX Media Singapura dan harapan ke depan kerja sama ini akan meningkatkan kualitas pembelajaran sehingga mahasiswa bisa magang,” ujarnya.
Menurut Widodo, kolaborasi internasional juga membuka peluang riset bersama, pengembangan produk, hingga kesempatan kerja bagi mahasiswa di perusahaan luar negeri.

“Mahasiswa juga berpeluang untuk bekerja di FX Media Singapura sehingga kedua belah pihak dapat saling menguntungkan,” katanya.
Bagi Fakultas Vokasi UB, kerja sama tersebut menjadi bagian dari arah baru pendidikan vokasi yang lebih dekat dengan kebutuhan industri.
Mawardi menyebut FXMedia juga akan terlibat dalam penguatan kurikulum agar kompetensi lulusan memiliki standar internasional.
“Karena ketika berbicara tentang pendidikan vokasi, kita berbicara tentang bagaimana pendidikan dapat memenuhi kebutuhan industri,” ujarnya.
Ia menambahkan beberapa alumni UB selama ini sudah direkrut menjadi desainer di perusahaan FXMedia Singapore. Hal tersebut dinilai menjadi indikator bahwa kompetensi mahasiswa mulai sesuai dengan kebutuhan industri kreatif global.
Di tengah perubahan teknologi dan dunia kerja yang bergerak cepat, pendidikan vokasi pun mulai menghadapi ukuran keberhasilan yang baru. Kampus tidak lagi hanya dinilai dari gedung, laboratorium, atau jumlah mahasiswa, tetapi dari seberapa jauh lulusannya mampu masuk dan bertahan di dunia industri.
Pendidikan vokasi hari ini akhirnya tidak lagi hanya bicara ruang praktik dan teori di kelas, tetapi tentang bagaimana mahasiswa benar-benar dipersiapkan menghadapi dunia kerja global yang terus berubah.(Din/Cay)














