Kanal24, Malang – Ketika nilai tukar rupiah terus tertekan, harga kebutuhan naik, dan ketidakpastian ekonomi global kembali menghantui banyak negara, Indonesia sebenarnya masih menyimpan satu kekuatan besar yang belum sepenuhnya dimanfaatkan: laut dan sektor perikanan.
Sebagai negara maritim dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, Indonesia memiliki sumber daya kelautan yang sangat besar. Namun di tengah tekanan ekonomi hari ini, potensi tersebut dinilai masih belum dikelola secara optimal untuk memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi nasional.
Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menunjukkan nilai ekspor hasil perikanan Indonesia sepanjang 2025 mencapai lebih dari US$6 miliar dengan komoditas utama seperti udang, tuna, cumi, dan rumput laut. Sementara kontribusi sektor kelautan dan perikanan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional terus menunjukkan tren positif, terutama dari subsektor budidaya dan perikanan tangkap.
Namun di balik angka tersebut, tantangan besar masih membayangi: kerusakan ekosistem, ketergantungan pasar ekspor tertentu, hingga belum kuatnya orientasi hilirisasi dan ketahanan pangan domestik.
Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB), Prof. Dr.Sc. Asep Awaludin Prihanto, S.Pi., M.P, menilai situasi ekonomi hari ini seharusnya menjadi momentum bagi Indonesia untuk lebih serius membangun kemandirian pangan berbasis sektor kelautan dan perikanan.
“Saya pikir pada kondisi sekarang ekonomi kita menghadapi tantangan ekonomi dan juga beberapa hal terkait pangan, energi dan banyak hal,” ujarnya.
Menurut Asep, sektor perikanan dan kelautan sebenarnya menawarkan potensi luar biasa bagi Indonesia. Namun potensi tersebut belum sepenuhnya tergarap optimal sehingga banyak sumber daya lokal justru perlahan ditinggalkan.
Laut Indonesia Besar, Tapi Ekosistemnya Mulai Tertekan
Di tengah besarnya potensi laut Indonesia, persoalan ekologi justru menjadi ancaman serius yang sering luput dibahas.
Asep menyoroti mulai rusaknya ekosistem perairan akibat masuknya spesies ikan asing invasif yang mengancam keberadaan ikan lokal Indonesia. Kondisi ini dinilai menjadi persoalan jangka panjang karena menyangkut keberlanjutan sumber pangan nasional.
“Jenis ikan asing invasif ini juga merusak ekosistem asli Indonesia sehingga potensi-potensi lokal, ikan-ikan lokal kita juga mulai menghilang,” katanya.
Menurutnya, Indonesia sebenarnya memiliki peluang besar untuk membangun kemandirian pangan dari sektor kelautan jika pengelolaan sumber daya dilakukan secara serius dan berbasis keahlian.
Asep optimistis dalam satu hingga dua dekade ke depan Indonesia mampu mencapai kemandirian pangan, baik dari sektor kelautan maupun pangan darat, asalkan pengelolaannya benar-benar dilakukan oleh pihak yang memiliki kompetensi di bidang tersebut.

Ekspor Besar, Tapi Produk Berkualitas Justru Jarang Dinikmati Sendiri
Selama ini sektor perikanan Indonesia dikenal kuat di pasar ekspor. Tuna, udang, cumi, hingga rumput laut Indonesia menjadi komoditas bernilai tinggi di pasar internasional.
Namun menurut Asep, orientasi ekspor yang terlalu dominan juga memunculkan pertanyaan besar: apakah hasil terbaik laut Indonesia justru lebih banyak dinikmati negara lain?
Ia menilai produk perikanan berkualitas tinggi seharusnya juga menjadi bagian dari penguatan kualitas pangan masyarakat Indonesia sendiri.
“Saya suatu saat ingin bermimpi bahwa produk potensi pangan kualitas tinggi itu kita nikmati sendiri, kita makan sendiri,” ujarnya.
Menurutnya, produk seperti tuna sebenarnya memiliki nilai ekonomi sangat tinggi bahkan tanpa proses pengolahan rumit. Namun karena produk perikanan bersifat mudah rusak (perishable), proses pengolahan tetap diperlukan untuk menjaga kualitas dan distribusi pasar.
Ia menegaskan persoalan utama bukan terletak pada produk mentah atau olahan, melainkan bagaimana Indonesia mampu menjaga produk terbaiknya tetap memberi manfaat besar bagi masyarakat domestik sekaligus tetap menghasilkan devisa negara.
Ketergantungan Pasar Ekspor Jadi Risiko Baru
Selain persoalan ekologi dan ketahanan pangan, Asep juga menyoroti tantangan lain yang mulai dihadapi sektor perikanan nasional: ketergantungan pada pasar ekspor tertentu.
Menurutnya, selama ini ekspor produk budidaya Indonesia masih sangat bergantung pada pasar Amerika Serikat, terutama untuk komoditas udang. Padahal kondisi geopolitik dan kebijakan perdagangan global bisa sewaktu-waktu berubah dan memukul sektor ekspor nasional.
Ia mencontohkan hambatan ekspor akibat isu residu dan hambatan tarif yang sempat membuat produk budidaya Indonesia mengalami tekanan di pasar internasional.
Karena itu, Asep mendorong pemerintah mulai membuka pasar-pasar baru sekaligus memperluas komoditas budidaya yang dikembangkan Indonesia.
“Ke depan memang kita harus membuat pasar baru, tidak hanya bergantung pada satu pasar perikanan,” katanya.
Ia juga menilai Indonesia perlu mulai memperkuat sektor budidaya laut atau mariculture sebagai arah baru pengembangan perikanan nasional.
Indonesia Dinilai Masih Punya Harapan
Di tengah tekanan ekonomi global yang belum stabil, Asep tetap optimistis Indonesia mampu melewati situasi saat ini.
Menurutnya, Indonesia sudah berkali-kali menghadapi tekanan ekonomi besar dan selalu memiliki kemampuan untuk bangkit kembali.
“Iya, saya pikir kita seringkali mengalami masalah seperti ini dan Indonesia selalu bisa keluar dari kondisi yang tertekan sekalipun,” ujarnya.
Namun optimisme itu tetap datang dengan satu catatan penting: Indonesia tidak bisa terus bergantung pada kekuatan ekonomi lama tanpa mulai serius membangun ketahanan pangan dan pengelolaan sumber daya lautnya sendiri.
Sebab di tengah gejolak ekonomi global hari ini, laut Indonesia sebenarnya masih menyimpan jawaban besar yang belum sepenuhnya dibaca negara ini.(Din)














