Kanal24, Malang – Upaya pencegahan stunting terus dikembangkan melalui pendekatan berbasis teknologi dan edukasi masyarakat. Salah satu inovasi tersebut hadir dari Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Brawijaya (FIKES UB) melalui aplikasi SiCegah Hebat yang dirancang untuk membantu ibu balita dan kader kesehatan memahami pola pengasuhan serta pemenuhan gizi anak secara lebih mudah dan interaktif.
Aplikasi bernama SiCegah Hebat atau “Sahabat Ibu Cegah Stunting untuk Generasi Hebat” tersebut dikembangkan oleh tim ahli gizi FIKES UB dan kini sudah dapat diunduh secara gratis melalui Google Play Store. Ketua Departemen Gizi FIKES UB, Dr. Nurul Muslihah, S.P., M.Kes., menjelaskan bahwa aplikasi ini lahir dari hasil kajian lapangan yang dilakukan selama tiga tahun.
Menurutnya, banyak kader kesehatan yang masih merasa kurang percaya diri saat memberikan edukasi kepada masyarakat. Karena itu, dibutuhkan media pendukung yang mudah digunakan dan mampu menyampaikan pesan secara persuasif.
Baca juga:
Alumni FIA UB Bongkar Luasnya Peluang Karier Mahasiswa

“Berdasarkan hasil kajian kami, bentuk edukasi berbasis video dinilai lebih membantu proses penyampaian informasi kepada masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, aplikasi tersebut dirancang tidak hanya untuk memberikan informasi, tetapi juga meningkatkan motivasi ibu balita dalam menerapkan pola asuh dan pemenuhan gizi yang tepat bagi anak.
Saat ini, aplikasi SiCegah Hebat memiliki empat video utama yang membahas berbagai aspek pencegahan stunting. Materi pertama membahas pembentukan generasi sehat bebas stunting, dilanjutkan dengan edukasi mengenai pemberian asupan makanan yang baik untuk pertumbuhan optimal anak.
Video ketiga membahas pola pengasuhan positif, termasuk tantangan kebiasaan “gerakan tutup mulut” ketika orang tua memberikan makanan hanya agar anak tidak menangis tanpa memperhatikan kebutuhan gizinya. Sementara video keempat membahas gizi prakonsepsi yang nantinya masih akan terus dikembangkan.
Nurul menyebut aplikasi ini ditujukan untuk membantu ibu balita memahami berbagai persoalan terkait tumbuh kembang anak sekaligus mempermudah kader kesehatan saat melakukan edukasi di lapangan.
Saat ini, implementasi aplikasi masih difokuskan di Kabupaten Malang melalui kerja sama dengan DP2KB dan tim pendamping keluarga. Ke depan, FIKES UB juga berencana berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan agar aplikasi tersebut dapat dimanfaatkan lebih luas oleh kader posyandu di berbagai daerah.
Selain itu, pengembangan aplikasi masih terus dilakukan, termasuk penambahan video edukasi baru berbasis hasil kajian dan analisis kebutuhan masyarakat.
“Bagaimana cara menyampaikan edukasi tanpa terkesan menggurui tetapi membuat masyarakat sadar, itu yang terus kami kembangkan,” katanya. (nid/cay)














