Kanal24, Malang – Krisis lingkungan hari ini tidak lagi terasa jauh dari kehidupan kampus. Persoalan sampah plastik, polusi kendaraan, hingga berkurangnya ruang hijau mulai menjadi tantangan yang dihadapi banyak perguruan tinggi di tengah pertumbuhan jumlah mahasiswa dan aktivitas akademik yang terus meningkat.
Karena itu, gerakan keberlanjutan kini tidak cukup hanya berhenti pada slogan atau kampanye simbolik. Dibutuhkan kolaborasi nyata yang melibatkan kampus, industri, hingga masyarakat untuk membangun perubahan perilaku dan budaya ramah lingkungan secara berkelanjutan.
Hal itu terlihat dalam Launching Car Free Day (CFD) Universitas Brawijaya, Jumat (22/5/2026), yang tidak hanya menjadi kampanye pengurangan kendaraan bermotor di lingkungan kampus, tetapi juga memperlihatkan sinergi besar penguatan Green Campus melalui donasi pohon langka, teknologi pengelolaan sampah, hingga media edukasi digital untuk generasi muda.

Salah satu dukungan datang dari PT LyondellBasell Indonesia melalui program “Advancing Good”. Perusahaan tersebut bekerja sama dengan UPT Green Campus UB menghadirkan reverse vending machine untuk pengelolaan sampah botol plastik di kawasan kampus. Mesin itu memungkinkan mahasiswa menukarkan botol plastik bekas menjadi poin kredit sekaligus membangun budaya daur ulang sejak dini.
Baca juga:
FXMedia Singapura Rekrut Alumni UB, Vokasi Perkuat Kurikulum Industri
Presiden Direktur PT LyondellBasell Indonesia, Rakhma Febriani, mengatakan kerja sama tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam membangun kesadaran lingkungan di kalangan mahasiswa.
“Yang paling penting adalah bagaimana budaya itu bisa diterapkan di kalangan mahasiswa. Jadi setelah mengonsumsi sesuatu, mereka tahu sampahnya harus diapakan dan tidak dibuang sembarangan,” ujarnya.

Menurut Rakhma, program tersebut tidak berhenti pada pemilahan sampah, tetapi juga berlanjut hingga proses pengolahan berikutnya sebagai bagian dari circular economy. Ia berharap mahasiswa tidak hanya mengejar insentif dari mesin tersebut, tetapi juga memahami pentingnya menjaga lingkungan untuk masa depan.
Selain dukungan industri, UB juga menerima donasi 63 pohon langka dunia dari keluarga Irjen Pol (P) Drs. Bambang Widaryatmo, mantan Kapolwil Malang. Pohon-pohon tersebut ditanam di beberapa kawasan UB, termasuk UB Veteran dan UB Kediri, untuk memperkuat biodiversitas kampus.
Kepala LabTEVA Fakultas Vokasi UB, Susenohaji, S.E., M.Si., mengatakan pihaknya bersama UPT Green Campus mengembangkan program Digitree sebagai media edukasi digital berbasis storytelling dan animasi untuk mengenalkan pohon langka kepada generasi muda.
“Digitree bukan hanya menjadikan pohon sebagai fungsi ekologis, tetapi juga fungsi edukasi, rekreasi, dan partisipasi,” jelasnya.
Menurutnya, pendekatan digital dipilih karena lebih dekat dengan karakter generasi Z yang cenderung tertarik pada visual, animasi, dan cerita interaktif dibandingkan teks panjang. Melalui konsep tersebut, mahasiswa diharapkan lebih tertarik mempelajari konservasi lingkungan dan ikut berpartisipasi dalam pelestarian biodiversitas.
Ketua UPT Green Campus UB, Prof. Sri Suhartini, STP., M.Env.Mgt., Ph.D., menambahkan donasi pohon langka menjadi langkah penting dalam memperkuat identitas Universitas Brawijaya sebagai kampus berkelanjutan di tingkat nasional maupun global.
“Harapannya UB tidak hanya menjadi kampus berkelanjutan, tetapi juga kampus yang berkontribusi menjaga plasma nutfah dan biodiversitas dunia,” katanya.
Melalui sinergi antara kampus, industri, dan masyarakat tersebut, UB menunjukkan bahwa gerakan lingkungan membutuhkan kolaborasi banyak pihak agar mampu memberikan dampak jangka panjang bagi keberlanjutan. (cay)













