Kanal24, Malang – Lapangan Rektorat Universitas Brawijaya berubah menjadi ruang berkumpul yang berbeda pada Jumat sore (22/5/2026). Mahasiswa duduk santai di hamparan rumput, alunan musik dari homeband UB terdengar mengisi suasana, sementara di sela pertunjukan, pesan tentang Green Campus terus disampaikan kepada publik kampus.
Kegiatan bertajuk Menjemput Senja itu menjadi bagian dari rangkaian Car Free Day (CFD) Universitas Brawijaya yang digelar untuk memperkuat kampanye kampus hijau. Tidak menggunakan pendekatan formal seperti seminar atau sosialisasi di ruang kelas, UB memilih menghadirkan edukasi lingkungan melalui ruang interaksi yang lebih santai dan dekat dengan mahasiswa.
Kepala Divisi Hukum UB, Haru Permadi, mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk ikut menyemarakkan sekaligus mendukung gerakan Green Campus yang saat ini terus diperkuat Universitas Brawijaya.
“Kegiatan ini tujuannya sebenarnya adalah turut menyemarakkan dan menyukseskan Car Free Day di Universitas Brawijaya. Kampanye utamanya terkait dengan Green Campus,” ujarnya.

Menurut Haru, konsep edukasi dibuat lebih ringan agar pesan lingkungan lebih mudah diterima mahasiswa. Karena itu, acara dikemas melalui pertunjukan musik, ruang berkumpul terbuka, hingga sosialisasi santai di tengah suasana sore kampus.
“Untuk pemantik supaya mahasiswa ke sini, kita sediakan hiburan seperti ini,” katanya.
Green Campus Ingin Menjadi Budaya Kampus
Dalam kegiatan tersebut, kampanye Green Campus juga diisi sosialisasi mengenai pengelolaan sampah dan perubahan perilaku ramah lingkungan di lingkungan kampus. Ketua UPT Green Campus UB, Prof. Neneng, turut menyampaikan ajakan kepada mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan untuk mulai membangun kebiasaan memilah sampah dan menjaga lingkungan kampus.
Menurut Haru, sasaran utama kegiatan memang ditujukan kepada seluruh warga UB, mulai mahasiswa hingga tenaga kependidikan, agar konsep keberlanjutan tidak berhenti sebagai program administratif kampus semata.
“Harapannya konsep Green Campus ini diterapkan oleh mahasiswa, dosen, maupun tendik,” ujarnya.
Ia menjelaskan Menjemput Senja sendiri sudah memasuki pelaksanaan ketiga. Pada penyelenggaraan sebelumnya, kegiatan sempat mengangkat tema kode etik mahasiswa sebelum akhirnya kembali difokuskan pada isu Green Campus.
“Kenapa dua kali mengangkat Green Campus? Karena ini semata-mata untuk mensosialisasikan supaya konsep Green Campus melekat pada jiwa warga Universitas Brawijaya,” katanya.
Pendekatan seperti ini mulai menjadi cara baru kampus membangun komunikasi kepada generasi muda. Di tengah budaya digital dan perubahan pola interaksi mahasiswa, ruang-ruang santai berbasis komunitas dinilai lebih efektif untuk menyampaikan pesan sosial dibanding pendekatan formal yang kaku.
Melalui Menjemput Senja, UB mencoba membangun gerakan lingkungan dengan pendekatan yang lebih dekat, lebih cair, dan lebih mudah diterima mahasiswa.
“Harapannya nilai-nilai Green Campus yang disosialisasikan diterima, diresapi dengan baik, dan diterapkan oleh seluruh warga Universitas Brawijaya,” ujar Haru.














