Kanal24, Malang – Kanal24, Malang – Reformasi birokrasi di perguruan tinggi kini tidak lagi hanya diukur dari banyaknya sistem digital atau administrasi yang tertata rapi. Kampus juga dituntut membangun budaya pelayanan yang bersih, transparan, dan mampu menjawab kebutuhan publik secara cepat dan profesional. Di tengah tuntutan tata kelola pendidikan tinggi yang semakin terbuka, integritas menjadi fondasi penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap institusi pendidikan.
Kesadaran itulah yang terus diperkuat Universitas Brawijaya (UB) melalui pembangunan Zona Integritas (ZI) di seluruh unit kerja kampus. Komitmen tersebut ditegaskan dalam Workshop Evaluasi Pembangunan ZI Tahun 2026 dan Strategi Pembangunan ZI UB Tahun 2027 yang digelar Satuan Reformasi Birokrasi Universitas Brawijaya (SRB UB) di UB Guest House, Jumat (22/5/2026). Forum tersebut menjadi ruang evaluasi sekaligus penyusunan langkah strategis untuk memperkuat budaya kerja berintegritas dan pelayanan publik yang lebih berkualitas di lingkungan kampus.
Workshop tersebut dihadiri pimpinan universitas, perwakilan fakultas, hingga unit kerja di lingkungan UB. Dalam forum itu, evaluasi pembangunan Zona Integritas selama tiga tahun terakhir menjadi fokus utama pembahasan. Selain membahas capaian, kegiatan ini juga diarahkan untuk memperkuat budaya kerja yang berintegritas dan bebas dari praktik gratifikasi di lingkungan perguruan tinggi.
Baca juga:
FTP UB Jalani Verifikasi Zona Integritas WBBM
Ketua Satuan Reformasi Birokrasi Universitas Brawijaya, Dr. Ngesti Dwi Prasetyo, S.H., M.Hum., mengatakan pembangunan Zona Integritas di UB telah berjalan sejak 2023 secara menyeluruh di seluruh unit kerja. Menurutnya, terdapat dua fokus besar yang menjadi prioritas, yakni pembenahan tata kelola birokrasi dan transformasi budaya kerja di lingkungan kampus.

“Bagaimana kemudian UB bisa melakukan pelayanan yang prima dan bersih dalam menjalankan birokrasi. Kemudian yang kedua adalah bagaimana transformasi budaya kerja, utamanya komitmen terhadap pengendalian gratifikasi dan integritas,” ujar Dr. Ngesti Dwi Prasetyo.
Ia menjelaskan, pembangunan Zona Integritas tidak hanya berfokus pada administrasi, tetapi juga perubahan pola pikir seluruh sivitas akademika. Integritas dan kompetensi disebut menjadi fondasi utama agar reformasi birokrasi benar-benar berdampak terhadap kualitas pelayanan universitas kepada masyarakat. Menurutnya, perubahan budaya kerja menjadi kunci agar semangat reformasi dapat berjalan secara berkelanjutan.
Selama proses pembangunan ZI, UB juga mencatat sejumlah capaian penting. Salah satunya integrasi layanan melalui Unit Layanan Terpadu dan Pusat Layanan Terpadu yang kini semakin mempermudah akses pelayanan publik di lingkungan kampus. Selain itu, Fakultas Teknologi Pertanian yang kini berubah menjadi Fakultas Teknologi Pertanian dan Agroindustri (FTAB) berhasil mempertahankan predikat Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) dari Kementerian PANRB.
“Secara keseluruhan UB menuju perkembangan tata kelola dan perubahan reformasi birokrasi yang lebih baik,” jelasnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., menegaskan bahwa reformasi birokrasi harus berjalan seiring dengan perubahan zaman. Ia menilai transformasi pelayanan tidak cukup hanya melalui sistem, tetapi juga harus dimulai dari perubahan pola pikir sumber daya manusia di lingkungan kampus.
“Kita ingin transform mindset untuk bisa melayani dengan baik, melayani dengan bersih. Dari mindset itu nantinya akan terimplementasi menjadi budaya pelayanan yang baik dan bersih,” kata Prof. Widodo.
Melalui workshop tersebut, UB menargetkan semakin banyak unit kerja mampu meraih predikat WBK maupun WBBM pada tahun mendatang. Universitas juga ingin memastikan reformasi birokrasi tidak berhenti sebagai program administratif, tetapi menjadi budaya kerja yang mampu memperkuat kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan tinggi. (cay)














