Kanal24, Malang – Menjelang Iduladha 2026, ancaman penyakit hewan menular kembali menghantui masyarakat. Mulai dari PMK, LSD, hingga temuan cacing hati pada sapi menjadi risiko serius yang bisa berdampak langsung pada keamanan daging kurban yang dikonsumsi warga. Di tengah tingginya mobilitas distribusi hewan kurban, pengawasan kesehatan hewan pun menjadi sorotan penting agar ibadah kurban tetap aman dan layak.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Universitas Brawijaya (UB) menerjunkan ratusan mahasiswa dan puluhan dosen dalam Tim Kesehatan Pemeriksa Hewan Kurban Iduladha 2026. Tim ini disiapkan untuk mengawal pemeriksaan hewan kurban di berbagai daerah guna mencegah penularan penyakit sekaligus memastikan daging yang beredar aman dikonsumsi masyarakat.
Pelepasan tim dilakukan pada Senin (25/5/2026) di Aula Lantai 3 Ruang 308 Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UB Kampus Dieng. Kegiatan ini melibatkan sekitar 960 mahasiswa dan 41 dosen yang akan diterjunkan ke berbagai wilayah di Jawa Timur hingga luar provinsi.

UB Sebut Iduladha Jadi Momentum Pengabdian Kampus untuk Masyarakat
Rektor UB, Prof. Widodo, menegaskan pelaksanaan Iduladha bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga momentum kolaborasi seluruh elemen masyarakat, termasuk perguruan tinggi.
“Pelaksanaan Hari Iduladha ini adalah perayaan kita semua, sehingga semua orang terlibat, baik mahasiswa maupun masyarakat luas. Perguruan tinggi juga harus hadir untuk membantu agar pelaksanaan kurban menjadi lebih baik dan lebih khidmat,” ujarnya.
Menurut Widodo, keterlibatan Fakultas Kedokteran Hewan UB menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan masyarakat dari ancaman penyakit zoonosis atau penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia.
“Fakultas Kedokteran Hewan memiliki tugas untuk memastikan masyarakat terhindar dari penyakit menular dari hewan ke manusia, sekaligus menjaga mutu hewan kurban dan kesejahteraan hewan,” katanya.
Ia juga menyebut kegiatan ini menjadi bentuk living laboratory bagi mahasiswa karena memberikan pengalaman langsung di lapangan sekaligus manfaat nyata bagi masyarakat.
Sebar ke Malang Raya hingga Luar Jawa Timur

Dekan FKH UB, drh. Dyah Ayu Oktavianie, menjelaskan jumlah personel pemeriksa hewan kurban tahun ini relatif stabil karena didukung sekitar 900 mahasiswa aktif, baik sarjana maupun profesi dokter hewan.
“Kami memiliki sekitar 800 mahasiswa sarjana dan 100 mahasiswa profesi. Ada juga tambahan dosen baru yang memperkuat tim pemeriksa,” jelasnya.
Wilayah penugasan tim meliputi Malang Raya, Sidoarjo, Lamongan, Mojokerto, hingga sejumlah daerah di luar Jawa Timur seperti Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Pengawasan dilakukan bersama dinas terkait untuk memastikan pemeriksaan berjalan optimal dan terkoordinasi.
“Kami selalu berkoordinasi dengan dinas sebagai otoritas veteriner agar pemeriksaan hewan kurban berjalan aman dan terkendali,” ujarnya.
Waspadai PMK, LSD, hingga Cacing Hati pada Sapi

Ketua Pelaksana kegiatan, drh. Yulinar Risky Karaman, mengungkapkan tim akan melakukan dua tahapan pemeriksaan, yakni antemortem sebelum penyembelihan dan postmortem setelah hewan dipotong.
“Pemeriksaan antemortem dilakukan sebelum penyembelihan untuk memastikan hewan sehat dan memenuhi syarat. Setelah itu, postmortem dilakukan dengan memeriksa organ-organ untuk memastikan daging layak konsumsi,” jelasnya.
Ia menyebut beberapa temuan yang paling sering dijumpai di lapangan adalah cacing hati pada sapi, serta penyakit mulut dan kuku (PMK) dan Lumpy Skin Disease (LSD).
“Kami akan memastikan apakah daging layak dikonsumsi atau harus dieliminasi. Jika ditemukan ketidaksesuaian, kami akan merekomendasikan penukaran hewan kepada panitia,” tegasnya.
Melalui program ini, UB berharap kualitas pelaksanaan kurban semakin baik sekaligus memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah dalam menjaga kesehatan hewan, keamanan pangan, dan keselamatan masyarakat selama Iduladha. (qrn)














