Kanal24, Malang – Akademisi Universitas Brawijaya (UB) Indonesia turut ambil bagian dalam forum ilmiah internasional yang digelar Center of the Municipality of Tehran, Selasa (2/6/2026). Forum bertajuk “The Power of People in Iran’s Governance: The Impact of Tehran Gatherings on the Muslim World’s Perception During the Ramadan War” itu membahas kekuatan partisipasi massa dalam membangun ketahanan politik Iran di tengah tekanan geopolitik kawasan.
Kegiatan berlangsung secara hybrid di Communication and International Affairs Center of the Municipality of Tehran pada pukul 10.00–12.00 waktu Tehran. Forum menghadirkan akademisi dan peneliti internasional untuk mendiskusikan hubungan antara masyarakat, negara, agama, dan dinamika politik Asia Barat.
Baca juga:
Webinar Diplomasi Peradaban di Tengah Geopolitik Timur Tengah

Forum Internasional Bahas Ketahanan Politik Iran
Forum ilmiah tersebut diselenggarakan sebagai ruang diskusi akademik untuk memahami bagaimana kekuatan masyarakat, memori sejarah, nilai budaya, dan simbolisme keagamaan berkontribusi terhadap daya tahan suatu negara dalam menghadapi tekanan eksternal.
Diskusi secara khusus menyoroti konteks perang hipotetis antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel pada tahun 2026, serta bagaimana mobilisasi massa di Tehran dan kota-kota Iran lainnya memengaruhi persepsi dunia Muslim terhadap ketahanan nasional Iran.
Para pembicara menilai ketahanan Iran tidak dapat dipahami hanya melalui ukuran material seperti kekuatan militer, kapasitas ekonomi, maupun infrastruktur negara.
Dosen UB Soroti “Anomali Iran”
Salah satu pembicara utama dalam forum tersebut adalah Abdullah S.Sos., M.Hub.Int., Assistant Professor of West Asia Studies dari Universitas Brawijaya. Dalam paparannya, Abdullah menyoroti apa yang ia sebut sebagai “anomali Iran” dalam perspektif hubungan internasional.
Menurutnya, dalam pendekatan realis Barat, tekanan eksternal seperti serangan militer, blokade ekonomi, maupun pembunuhan tokoh penting umumnya diperkirakan dapat melemahkan negara dan memicu fragmentasi internal. Namun dalam kasus Iran, situasi yang muncul justru menunjukkan pola berbeda.
“Tekanan eksternal dalam kasus Iran tidak otomatis memecah masyarakat, tetapi justru memicu mobilisasi sosial dan konsolidasi publik,” jelas Abdullah dalam forum tersebut.
Ia menjelaskan bahwa penderitaan dan tekanan dalam konteks Iran sering dimaknai ulang sebagai bentuk pengorbanan moral dan perjuangan kolektif yang memperkuat solidaritas masyarakat.
Ketahanan Iran Dinilai Tak Hanya Bertumpu pada Militer
Abdullah menilai pendekatan konstruktivis lebih relevan untuk membaca fenomena tersebut. Dalam kerangka itu, Iran disebut menggunakan Paradigma Karbala sebagai lensa historis dan budaya dalam memahami tekanan eksternal.
Menurutnya, faktor historis, budaya, spiritual, dan memori kolektif masyarakat memiliki peran penting dalam membentuk daya tahan politik negara.
Ia juga menilai kehadiran massa di ruang publik tidak dapat dipahami hanya sebagai fenomena spontan. Mobilisasi publik disebut berfungsi sebagai infrastruktur politik non-material yang memperlihatkan dukungan masyarakat sekaligus membangun narasi tandingan terhadap klaim fragmentasi internal Iran.
Akademisi Internasional Bahas Peran Partisipasi Publik
Selain Abdullah, forum juga menghadirkan Dr. Haroon Aziz, Professor of West Asia and Political Studies dari Afrika Selatan. Ia menyoroti bagaimana mobilisasi jutaan warga Iran di ruang publik berhasil membangun atmosfer solidaritas sosial selama periode yang disebut sebagai “perang 40 hari”.
Haroon Aziz menilai pengalaman panjang Iran menghadapi sanksi dan tekanan internasional selama puluhan tahun telah membentuk mental publik yang lebih tahan terhadap tekanan eksternal.
Ia juga menyoroti peran perempuan dalam mobilisasi massa sebagai bagian dari kepemimpinan kolektif di ruang perkotaan. Menurutnya, ruang publik di Iran berkembang bukan hanya sebagai arena demonstrasi politik, tetapi juga ruang sosial dan budaya perlawanan.
Forum ilmiah ini dimoderatori oleh Dr. Mohadeseh Amini dari Islamic Governance Studies Department. Melalui forum tersebut, Center of the Municipality of Tehran menegaskan pentingnya pendekatan multidisipliner dalam membaca dinamika politik Iran dan kawasan Asia Barat. (nid)














