Kanal24, Malang — Upaya menghadirkan teknologi yang benar-benar menyentuh persoalan sosial terus dipercepat oleh Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB). Melalui Program Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) batch 2, mahasiswa kini tengah menuntaskan pengembangan platform AI untuk sekolah rakyat dan pemetaan kemiskinan yang ditargetkan siap didemonstrasikan akhir Juni 2026.
Workshop 3 AITF yang digelar di Auditorium Algoritma Gedung F FILKOM UB, Senin (8/6/2026), menjadi tahap penting untuk mengukur progres pengembangan dua use case utama tersebut. Program kolaborasi FILKOM UB dan Komdigi ini mendorong mahasiswa mengerjakan proyek AI berbasis kebutuhan nyata masyarakat, bukan sekadar simulasi akademik di ruang kelas.
Baca juga :
Dekan FH UB: Indonesia Tak Kekurangan Ide, yang Kurang Integritas

Mahasiswa Didorong Terlibat dalam Proyek Nyata
Dekan FILKOM UB, Ir. Tri Astoto Kurniawan, S.T., M.T., Ph.D., IPM, menilai workshop ketiga menunjukkan peningkatan signifikan baik dari sisi kualitas produk maupun pemahaman peserta terhadap kebutuhan pengguna.
Menurutnya, evaluasi langsung bersama pihak sekolah rakyat dan Kementerian Sosial menjadi bagian penting agar solusi AI yang dikembangkan benar-benar relevan dan dapat diterapkan.
“Tadi sudah ada produk yang bisa kita evaluasi bersama berkaitan juga dengan kliennya, penggunanya yaitu sekolah rakyat sama Kemensos,” ujarnya.
Tri Astoto menilai keterlibatan mahasiswa dalam proyek berbasis kebutuhan sosial menjadi pengalaman berharga yang sulit diperoleh melalui pembelajaran konvensional. Selain menjadi ajang praktik langsung, proyek tersebut juga berpotensi dikembangkan lebih lanjut menjadi riset hingga tugas akhir mahasiswa.
“Kami berharap bahwa program AITF ini dapat berkelanjutan dan memberikan dampak yang signifikan terutama untuk membantu menyelesaikan permasalahan-permasalahan bangsa dan negara kita,” tuturnya.

Pengembangan AI Sudah Capai 75 Persen
Wakil Dekan Bidang Akademik FILKOM UB, Sabriansyah Rizqika Akbar, S.T., M.Eng., Ph.D., menjelaskan progres pengembangan saat ini telah mencapai sekitar 75 persen dan ditargetkan rampung pada akhir Juni bersamaan dengan Workshop 4 serta graduation day.
Menurutnya, AI untuk sekolah rakyat dirancang menjadi platform pembelajaran yang mampu membantu guru membuat ringkasan materi, menyusun soal, membuat flash deck, hingga membaca profil emosional dan capaian belajar siswa.
“Program AITF KOMDIGI X UB tahun 2026 itu mencoba untuk menyelesaikan dua kasus. Pertama, use case dari sekolah rakyat untuk menambahkan kemudahan proses pembelajaran berbasis AI. Kemudian juga yang mencoba melakukan pemetaan kemiskinan,” jelasnya.
Ia menegaskan pengembangan tersebut sekaligus menjadi langkah membangun kemandirian teknologi nasional agar Indonesia tidak terus bergantung pada model AI luar negeri.
“Kita lebih ingin berdikari di level nasional Indonesia sendiri agar kita tidak terlalu bergantung kepada model-model yang ada saat ini,” katanya.

Ditargetkan Jadi Produk Siap Pakai
Kepala Pusat Pengembangan Talenta Digital, Said Mirza Pahlevi, D.Eng., menyebut solusi AI untuk sekolah rakyat kini sudah memasuki tahap pematangan antarmuka dan fungsi aplikasi. Bahkan, pengembangannya disebut hampir mencapai 80 persen.
“Model AI yang bisa berinteraksi dengan siswa secara personifikasi, dari user interface yang ditayangkan sudah hampir 80 persen selesai dengan target akhir bulan ini bisa dilakukan demonstrasi aplikasinya,” ujarnya.
Said menekankan program AITF tidak hanya membekali mahasiswa dengan kemampuan teknis, tetapi juga menyediakan infrastruktur AI, akses pembelajaran mandiri, hingga pendampingan ahli. Target akhirnya bukan sekadar pelatihan, melainkan menghasilkan minimum viable product (MVP) yang benar-benar dapat digunakan masyarakat.
“Terakhirnya adalah minimum viable product yang bisa digunakan untuk memberikan solusi dari model AI yang dibuat oleh para mahasiswa,” pungkasnya.














