Kanal24, Malang – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dinilai semakin menekan kondisi ekonomi masyarakat, terutama pekerja sektor informal dan mahasiswa yang bergantung pada kendaraan pribadi untuk aktivitas sehari-hari. Di tengah pendapatan yang belum stabil, kebijakan tersebut memicu kekhawatiran akan turunnya daya beli dan meningkatnya beban pengeluaran harian.
Keluhan datang dari para pengemudi ojek online yang merasakan dampak langsung kenaikan harga BBM terhadap penghasilan mereka. Yusro Arodi, salah satu driver ojol di Malang, menilai kebijakan tersebut kurang tepat diterapkan saat kondisi ekonomi masyarakat belum sepenuhnya pulih.
Baca juga:
Ekspor Satu Pintu: Menjaga Devisa Negara atau Menciptakan Monopoli Baru?

“Kalau menurut saya kurang pas, masalahnya pendapatan kita ini kurang. Dampaknya besar, orderan juga enggak seperti kemarin-kemarin,” ujarnya.
Yusro mengaku pendapatannya menurun sejak harga BBM naik. Bahkan, dalam sehari ia hanya memperoleh satu pesanan. Menurutnya, masyarakat kecil menjadi pihak yang paling terdampak karena pengeluaran meningkat sementara pemasukan tidak bertambah.
“Mulai pagi ini baru dapat satu orderan. Kasihan yang kecil-kecil, yang menikmati orang yang punya, menengah ke bawah yang kena,” katanya.
Hal serupa disampaikan pengemudi ojek online lainnya, Dikta Masmada Putra. Ia menilai kenaikan harga BBM membuat aktivitas masyarakat semakin sulit karena kendaraan menjadi kebutuhan utama sehari-hari.
“Kalau tanggapan saya ini sangat mengganggu, sangat menyusahkan masyarakat. Apalagi kita butuh kendaraan untuk ke mana-mana,” ujarnya.

Menurut Dikta, kenaikan BBM juga berpotensi menurunkan daya beli masyarakat. Ia memprediksi sebagian warga akan mulai beralih ke bahan bakar dengan harga lebih murah demi menghemat pengeluaran.
“Nanti bisa saja BBM seperti Pertamax tidak laku, karena penghasilan masyarakat belum tentu tinggi,” jelasnya.
Ia berharap pemerintah dapat mempertimbangkan kembali kebijakan kenaikan harga tersebut agar tidak semakin membebani masyarakat kecil.
“Harapannya BBM bisa diturunkan lagi seperti semula,” tambahnya.
Keresahan yang sama juga dirasakan kalangan mahasiswa. Mahasiswa Universitas Brawijaya, Ramadhan Yasin Sinaga, mengaku terkejut dengan kenaikan harga BBM yang diumumkan secara mendadak. Menurutnya, kenaikan harga Pertamax hingga menyentuh kisaran Rp16 ribu per liter membuat mahasiswa harus lebih selektif dalam mengatur pengeluaran.
“Sebenarnya kaget ya, karena beritanya baru tadi malam. Sekarang kalau harganya naik jadi 16 ribuan, jadi mikir-mikir lagi mau pakai Pertamax,” ujarnya.
Ramadhan menilai kondisi tersebut akan memicu perubahan pola konsumsi BBM di masyarakat. Ia memprediksi pengguna kendaraan akan ramai-ramai beralih ke Pertalite sehingga antrean di SPBU berpotensi semakin panjang.
“Mungkin banyak orang akan beralih ke Pertalite, jadi antrean panjang pasti bakal sering terlihat,” ungkapnya.
Ia berharap pemerintah dapat menjaga harga BBM tetap dalam batas yang terjangkau agar tidak semakin membebani masyarakat, khususnya mahasiswa dan pekerja sektor informal yang sangat bergantung pada kendaraan untuk menunjang aktivitas sehari-hari. (qrn)













