Kanal24
No Result
View All Result
  • Berita Terkini
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Login
  • Berita Terkini
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
No Result
View All Result
Kanal24
No Result
View All Result

Kemenkes Dorong Zero New Stunting, Sanitasi Jadi Kunci Cegah Munculnya Kasus Baru

Einid Shandy by Einid Shandy
June 12, 2026
in Pendidikan
0
Kemenkes Dorong Zero New Stunting, Sanitasi Jadi Kunci Cegah Munculnya Kasus Baru

Dakhlan Choeron, SKM, MKM - Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting, Direktorat Gizi dan KIA, Kementerian Kesehatan RI (Awan/Kanal24)

4
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Kanal24, Malang – Upaya menurunkan angka stunting di Indonesia kini tidak hanya berfokus pada penanganan anak yang sudah mengalami stunting, tetapi juga mencegah munculnya kasus baru sejak masa kehamilan hingga usia balita. Untuk mendukung target zero new stunting, Kementerian Kesehatan RI menekankan pentingnya sanitasi yang layak sebagai fondasi terciptanya lingkungan sehat bagi ibu dan anak.

Hal itu disampaikan Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting Direktorat Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Kementerian Kesehatan RI, Dakhlan Choeron, SKM, MKM, dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) “Sustainable Sanitation & Stunting Prevention” yang digelar di Ruang Sidang Lantai 8 Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem Universitas Brawijaya, Kamis (11/06/2026). Forum tersebut mempertemukan peneliti, akademisi, dan pemangku kepentingan bidang kesehatan untuk membahas strategi berkelanjutan dalam pencegahan stunting melalui pendekatan sanitasi dan kesehatan lingkungan.

Baca Juga:
Aplikasi SiCegah Hebat FIKES UB Bantu Edukasi Pencegahan Stunting

Fokus Cegah Munculnya Kasus Baru

Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting Direktorat Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Kementerian Kesehatan RI, Dakhlan Choeron, SKM, MKM, mengatakan bahwa pemerintah saat ini berfokus pada upaya pencegahan agar tidak muncul kasus stunting baru atau zero new stunting.

Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting Direktorat Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Kementerian Kesehatan RI, Dakhlan Choeron, SKM, MKM, (Awan/Kanal24)

Menurutnya, prevalensi stunting nasional saat ini masih berada pada angka 19,8 persen. Jika dikonversikan terhadap jumlah balita di Indonesia, angka tersebut masih mencakup jutaan anak yang mengalami stunting.

“Saat ini kita fokus pada upaya pencegahan agar tidak muncul stunting-stunting baru atau zero new stunting. Prevalensi stunting secara nasional saat ini berada di angka 19,8 persen. Jika dikalikan dengan jumlah sasaran balita, jumlahnya mencapai jutaan anak,” ujarnya.

Dakhlan menjelaskan, perhatian pemerintah kini tidak hanya tertuju pada anak yang sudah mengalami stunting, tetapi juga pada kelompok usia yang masih memiliki peluang besar untuk tumbuh optimal. Pada kelompok bayi usia 0 hingga 11 bulan, angkanya masih berada di kisaran 11 persen sehingga diperlukan intervensi sejak dini agar tidak terjadi peningkatan ketika anak bertambah usia.

Ia menegaskan bahwa pencegahan harus dimulai sejak masa kehamilan. Kesehatan ibu menjadi faktor penting karena akan berpengaruh terhadap kondisi bayi saat lahir dan proses tumbuh kembangnya.

“Intervensi juga dilakukan sejak masa kehamilan agar ibu tetap sehat, bayi lahir sehat, dan tidak berisiko menjadi stunting,” katanya.

Sanitasi Jadi Faktor Penting dalam Pencegahan

Dalam paparannya, Dakhlan menekankan bahwa sanitasi memiliki peran besar dalam menekan risiko stunting. Ia menjelaskan bahwa penyebab langsungnya berkaitan dengan dua faktor utama, yakni asupan gizi dan infeksi.

Asupan gizi dipengaruhi oleh pola makan, pola asuh, kondisi ekonomi keluarga, serta kemampuan masyarakat memperoleh makanan bergizi. Sementara itu, infeksi sangat erat kaitannya dengan kondisi lingkungan tempat tinggal.

“Sanitasi yang buruk dapat memicu infeksi pada balita maupun ibu hamil. Jika ingin balita tetap sehat, maka infeksi harus dicegah,” jelasnya.

Menurut Dakhlan, masih banyak kasus kekurangan gizi yang disertai penyakit infeksi. Kondisi tersebut menyebabkan upaya perbaikan gizi tidak berjalan maksimal apabila penyakit yang menyertai tidak ikut ditangani.

“Jika hanya masalah gizi yang diintervensi sementara penyakitnya tidak ditangani, maka status gizi tidak akan membaik dan anak berisiko tetap mengalami kekurangan gizi,” ujarnya.

Karena itu, upaya peningkatan akses sanitasi yang layak, penyediaan air bersih, dan pengelolaan lingkungan yang sehat perlu berjalan beriringan dengan program pemenuhan gizi masyarakat.

Perubahan Perilaku dan Pemantauan Kesehatan Harus Diperkuat

Selain persoalan sanitasi, Dakhlan menilai tantangan terbesar dalam percepatan penurunan stunting adalah mengubah pola asuh dan perilaku masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Ia mencontohkan kebiasaan sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebersihan lingkungan, serta mengonsumsi air yang aman sebagai langkah penting dalam menciptakan lingkungan yang sehat bagi anak.

“Lingkungan rumah tangga harus mulai menerapkan kebiasaan sehat. Jika keluarga sehat, maka anak-anak yang tumbuh di dalamnya juga akan sehat,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia mendorong masyarakat untuk menerapkan pedoman gizi seimbang, mengonsumsi makanan bergizi dan beragam, serta melakukan aktivitas fisik yang cukup. Pemerintah juga telah menyediakan program cek kesehatan gratis di puskesmas yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk memantau kondisi kesehatan secara berkala.

“Masyarakat disarankan melakukan cek kesehatan minimal satu kali dalam setahun. Saat ini layanan cek kesehatan gratis dapat diakses di puskesmas tanpa harus menunggu hari ulang tahun,” katanya.

Untuk balita, orang tua diimbau rutin membawa anak ke posyandu agar pertumbuhan dan perkembangannya dapat dipantau. Dengan pemantauan berkala, masalah gizi dapat terdeteksi lebih cepat sehingga tenaga kesehatan dapat segera memberikan intervensi yang diperlukan.

“Jika berat badan anak tidak mengalami kenaikan, maka dapat segera terdeteksi adanya masalah gizi dan dilakukan intervensi oleh tenaga kesehatan,” pungkasnya. (wan)

Post Views: 63
Tags: awanDakhlan Choerongizi balitaKANAL24kanal24.co.idKementerian Kesehatankesehatan anakpencegahan stunting.PosyandusanitasiStuntinguniversitas brawijayazero new stunting
Previous Post

Mahasiswa FILKOM UB Pamerkan Inovasi Kendaraan Listrik dan Robot untuk Dukung SDGs

Next Post

UB Soroti Ancaman Mikroplastik di DAS Brantas

Einid Shandy

Einid Shandy

Reporter dan penulis Kanal24

Next Post
UB Soroti Ancaman Mikroplastik di DAS Brantas

UB Soroti Ancaman Mikroplastik di DAS Brantas

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
oval layer

5 Gaya Rambut yang Tepat untuk Pipi Chubby agar Tampil Lebih Menarik

August 25, 2024
ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

August 4, 2023
Tren Rambut Pria 2025: Gaya Modern dan Maskulin

Tren Rambut Pria 2025: Gaya Modern dan Maskulin

February 22, 2025
Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

August 3, 2023
Permainan Interaktif Menjadi Media KKN FP UB Pupuk Minat Baca Anak Desa Kromengan

Permainan Interaktif Menjadi Media KKN FP UB Pupuk Minat Baca Anak Desa Kromengan

39
Pemkot Malang Tingkatkan Sinergi dan Soliditas Demi Keamanan Wilayah

Pemkot Malang Tingkatkan Sinergi dan Soliditas Demi Keamanan Wilayah

8
Budayakan Gaya Hidup Sehat, Fapet UB Gelar Latihan Jalan Nordik

Budayakan Gaya Hidup Sehat, Fapet UB Gelar Latihan Jalan Nordik

7
Manfaat Naik Turun Tangga Setiap Hari Bagi Kesehatan

Manfaat Naik Turun Tangga Setiap Hari Bagi Kesehatan

7
UB Soroti Ancaman Mikroplastik di DAS Brantas

UB Soroti Ancaman Mikroplastik di DAS Brantas

June 12, 2026
Kemenkes Dorong Zero New Stunting, Sanitasi Jadi Kunci Cegah Munculnya Kasus Baru

Kemenkes Dorong Zero New Stunting, Sanitasi Jadi Kunci Cegah Munculnya Kasus Baru

June 12, 2026
Mahasiswa FILKOM UB Pamerkan Inovasi Kendaraan Listrik dan Robot untuk Dukung SDGs

Mahasiswa FILKOM UB Pamerkan Inovasi Kendaraan Listrik dan Robot untuk Dukung SDGs

June 12, 2026
Bank Dunia Ungkap Kelas Menengah Indonesia Menyusut Drastis

Bank Dunia Ungkap Kelas Menengah Indonesia Menyusut Drastis

June 12, 2026

Popular Stories

  • oval layer

    5 Gaya Rambut yang Tepat untuk Pipi Chubby agar Tampil Lebih Menarik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tren Rambut Pria 2025: Gaya Modern dan Maskulin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AYAT-AYAT KREATIVITAS DAN INOVASI PELAYANAN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
UB Radio 107.5 FM
107.5 FM
Tap to Play
  • Berita
  • Tentang Kanal24
  • Layanan
  • Pedoman Media Siber
Copyright Kanal24.com 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Berita Terkiniā€Ž
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan

Copyright Kanal24.com 2025