Kanal24, Malang – Upaya menurunkan angka stunting di Indonesia kini tidak hanya berfokus pada penanganan anak yang sudah mengalami stunting, tetapi juga mencegah munculnya kasus baru sejak masa kehamilan hingga usia balita. Untuk mendukung target zero new stunting, Kementerian Kesehatan RI menekankan pentingnya sanitasi yang layak sebagai fondasi terciptanya lingkungan sehat bagi ibu dan anak.
Hal itu disampaikan Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting Direktorat Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Kementerian Kesehatan RI, Dakhlan Choeron, SKM, MKM, dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) “Sustainable Sanitation & Stunting Prevention” yang digelar di Ruang Sidang Lantai 8 Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem Universitas Brawijaya, Kamis (11/06/2026). Forum tersebut mempertemukan peneliti, akademisi, dan pemangku kepentingan bidang kesehatan untuk membahas strategi berkelanjutan dalam pencegahan stunting melalui pendekatan sanitasi dan kesehatan lingkungan.
Baca Juga:
Aplikasi SiCegah Hebat FIKES UB Bantu Edukasi Pencegahan Stunting
Fokus Cegah Munculnya Kasus Baru
Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting Direktorat Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Kementerian Kesehatan RI, Dakhlan Choeron, SKM, MKM, mengatakan bahwa pemerintah saat ini berfokus pada upaya pencegahan agar tidak muncul kasus stunting baru atau zero new stunting.

Menurutnya, prevalensi stunting nasional saat ini masih berada pada angka 19,8 persen. Jika dikonversikan terhadap jumlah balita di Indonesia, angka tersebut masih mencakup jutaan anak yang mengalami stunting.
“Saat ini kita fokus pada upaya pencegahan agar tidak muncul stunting-stunting baru atau zero new stunting. Prevalensi stunting secara nasional saat ini berada di angka 19,8 persen. Jika dikalikan dengan jumlah sasaran balita, jumlahnya mencapai jutaan anak,” ujarnya.
Dakhlan menjelaskan, perhatian pemerintah kini tidak hanya tertuju pada anak yang sudah mengalami stunting, tetapi juga pada kelompok usia yang masih memiliki peluang besar untuk tumbuh optimal. Pada kelompok bayi usia 0 hingga 11 bulan, angkanya masih berada di kisaran 11 persen sehingga diperlukan intervensi sejak dini agar tidak terjadi peningkatan ketika anak bertambah usia.
Ia menegaskan bahwa pencegahan harus dimulai sejak masa kehamilan. Kesehatan ibu menjadi faktor penting karena akan berpengaruh terhadap kondisi bayi saat lahir dan proses tumbuh kembangnya.
“Intervensi juga dilakukan sejak masa kehamilan agar ibu tetap sehat, bayi lahir sehat, dan tidak berisiko menjadi stunting,” katanya.
Sanitasi Jadi Faktor Penting dalam Pencegahan
Dalam paparannya, Dakhlan menekankan bahwa sanitasi memiliki peran besar dalam menekan risiko stunting. Ia menjelaskan bahwa penyebab langsungnya berkaitan dengan dua faktor utama, yakni asupan gizi dan infeksi.
Asupan gizi dipengaruhi oleh pola makan, pola asuh, kondisi ekonomi keluarga, serta kemampuan masyarakat memperoleh makanan bergizi. Sementara itu, infeksi sangat erat kaitannya dengan kondisi lingkungan tempat tinggal.
“Sanitasi yang buruk dapat memicu infeksi pada balita maupun ibu hamil. Jika ingin balita tetap sehat, maka infeksi harus dicegah,” jelasnya.
Menurut Dakhlan, masih banyak kasus kekurangan gizi yang disertai penyakit infeksi. Kondisi tersebut menyebabkan upaya perbaikan gizi tidak berjalan maksimal apabila penyakit yang menyertai tidak ikut ditangani.
“Jika hanya masalah gizi yang diintervensi sementara penyakitnya tidak ditangani, maka status gizi tidak akan membaik dan anak berisiko tetap mengalami kekurangan gizi,” ujarnya.
Karena itu, upaya peningkatan akses sanitasi yang layak, penyediaan air bersih, dan pengelolaan lingkungan yang sehat perlu berjalan beriringan dengan program pemenuhan gizi masyarakat.
Perubahan Perilaku dan Pemantauan Kesehatan Harus Diperkuat
Selain persoalan sanitasi, Dakhlan menilai tantangan terbesar dalam percepatan penurunan stunting adalah mengubah pola asuh dan perilaku masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mencontohkan kebiasaan sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebersihan lingkungan, serta mengonsumsi air yang aman sebagai langkah penting dalam menciptakan lingkungan yang sehat bagi anak.
“Lingkungan rumah tangga harus mulai menerapkan kebiasaan sehat. Jika keluarga sehat, maka anak-anak yang tumbuh di dalamnya juga akan sehat,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia mendorong masyarakat untuk menerapkan pedoman gizi seimbang, mengonsumsi makanan bergizi dan beragam, serta melakukan aktivitas fisik yang cukup. Pemerintah juga telah menyediakan program cek kesehatan gratis di puskesmas yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk memantau kondisi kesehatan secara berkala.
“Masyarakat disarankan melakukan cek kesehatan minimal satu kali dalam setahun. Saat ini layanan cek kesehatan gratis dapat diakses di puskesmas tanpa harus menunggu hari ulang tahun,” katanya.
Untuk balita, orang tua diimbau rutin membawa anak ke posyandu agar pertumbuhan dan perkembangannya dapat dipantau. Dengan pemantauan berkala, masalah gizi dapat terdeteksi lebih cepat sehingga tenaga kesehatan dapat segera memberikan intervensi yang diperlukan.
“Jika berat badan anak tidak mengalami kenaikan, maka dapat segera terdeteksi adanya masalah gizi dan dilakukan intervensi oleh tenaga kesehatan,” pungkasnya. (wan)














