Kanal24, Malang – Bullying atau perundungan masih menjadi salah satu masalah serius yang kerap dialami anak-anak, terutama mereka yang berada di usia sekolah. Banyak orang menganggap bullying hanya sebatas ejekan atau candaan antarteman. Padahal, tindakan tersebut dapat berkembang menjadi bentuk kekerasan yang berdampak besar terhadap kesehatan mental, kepercayaan diri, hingga perkembangan sosial anak. Karena itu, penting bagi orangtua dan lingkungan sekitar untuk memahami berbagai bentuk bullying yang mungkin dialami anak.
Bullying tidak selalu tampak secara kasat mata. Ada bentuk perundungan yang meninggalkan luka fisik, tetapi ada pula yang menyerang kondisi psikologis korban secara perlahan. Bahkan, beberapa jenis bullying dapat berlangsung dalam waktu lama tanpa diketahui guru maupun orangtua. Inilah yang membuat kasus perundungan sering terlambat ditangani.
Baca juga:
Jangan Terkecoh Diskon, Dosen FISIP UB Ungkap Cara Belanja yang Lebih Cerdas
Penelitian terhadap lebih dari 95 ribu pelajar menunjukkan bahwa pengalaman bullying memiliki hubungan kuat dengan berbagai masalah psikologis, seperti kecemasan, depresi, gangguan tidur, hingga trauma berkepanjangan. Semakin berat tingkat bullying yang dialami, semakin besar pula risiko gangguan kesehatan mental pada korban.
1. Bullying Verbal: Luka yang Tak Terlihat

Jenis bullying yang paling sering terjadi adalah bullying verbal. Bentuknya berupa ejekan, hinaan, julukan yang merendahkan, hingga kata-kata kasar yang ditujukan kepada korban. Kalimat seperti āsi bodohā, āsi gendutā, atau āsi jelekā sering dianggap candaan biasa, padahal dapat meninggalkan luka emosional yang mendalam.
Anak yang terus-menerus menerima ejekan berisiko kehilangan rasa percaya diri. Mereka menjadi lebih pendiam, mudah tersinggung, bahkan menarik diri dari lingkungan sosial. Karena tidak meninggalkan bekas fisik, bentuk bullying ini sering kali tidak terdeteksi oleh orang dewasa.
2. Bullying Fisik yang Mudah Dikenali

Berbeda dengan bullying verbal, bullying fisik lebih mudah dikenali karena melibatkan tindakan langsung seperti menendang, mendorong, memukul, menjambak, atau bentuk kekerasan fisik lainnya. Korban biasanya mengalami memar, luka, atau kerusakan pada barang-barang miliknya.
Meski terlihat jelas, banyak korban memilih diam karena takut mendapat ancaman lebih lanjut dari pelaku. Di sejumlah pengalaman yang dibagikan pengguna internet, bullying fisik sering disertai tindakan pemalakan, perusakan barang, atau intimidasi kelompok yang membuat korban merasa tidak berdaya.
3. Bullying Sosial yang Menghancurkan Pertemanan
Jenis bullying berikutnya adalah bullying sosial atau relational bullying. Bentuknya tidak berupa kekerasan fisik, melainkan pengucilan, penyebaran rumor, fitnah, atau upaya merusak hubungan sosial korban dengan teman-temannya.
Dampaknya bisa sangat besar karena anak merasa tidak diterima dalam lingkungan pergaulan. Korban sering kali memilih menyendiri, kehilangan semangat berinteraksi, dan mengalami kesulitan membangun hubungan sosial yang sehat. Banyak kasus menunjukkan bahwa pengucilan sosial justru meninggalkan trauma lebih lama dibanding kekerasan fisik.
4. Cyberbullying Meningkat di Era Digital
Perkembangan teknologi membawa tantangan baru berupa cyberbullying atau perundungan di dunia maya. Bentuknya dapat berupa komentar negatif, penghinaan melalui media sosial, penyebaran foto tanpa izin, hingga ancaman melalui pesan pribadi.
Cyberbullying memiliki dampak yang unik karena korban merasa tidak memiliki ruang aman. Jika bullying di sekolah berhenti ketika jam pelajaran selesai, cyberbullying dapat berlangsung selama 24 jam melalui internet. Akibatnya, anak dapat mengalami stres berkepanjangan, rasa takut, hingga gangguan kecemasan.
Orangtua perlu lebih aktif memantau aktivitas digital anak tanpa melanggar privasi mereka. Komunikasi yang terbuka menjadi kunci agar anak berani melaporkan jika mengalami perundungan secara daring.
5. Bullying Seksual yang Harus Diwaspadai
Bentuk bullying lain yang tak kalah berbahaya adalah bullying seksual. Perundungan ini dapat berupa ejekan bernuansa seksual, komentar tidak pantas terhadap tubuh korban, pelecehan verbal, hingga tindakan yang mengarah pada kekerasan seksual.
Korban bullying seksual sering mengalami rasa malu, takut, dan trauma yang mendalam. Jika tidak segera ditangani, dampaknya dapat memengaruhi kesehatan mental serta hubungan sosial korban dalam jangka panjang.
Peran Orangtua dalam Mencegah Bullying
Mencegah bullying bukan hanya tugas sekolah, tetapi juga tanggung jawab keluarga dan masyarakat. Orangtua perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku anak, seperti menjadi lebih pendiam, enggan berangkat sekolah, sering menangis, atau mengalami penurunan prestasi akademik.
Komunikasi yang hangat dan terbuka menjadi langkah penting agar anak merasa aman untuk bercerita. Selain itu, sekolah perlu membangun budaya anti-bullying melalui edukasi, pendampingan psikologis, dan sistem pelaporan yang mudah diakses siswa.
Pada akhirnya, bullying bukan sekadar kenakalan anak-anak. Dampaknya bisa terbawa hingga dewasa dan memengaruhi kualitas hidup korban. Dengan memahami berbagai bentuk bullying sejak dini, orangtua dan lingkungan sekitar dapat membantu menciptakan ruang yang lebih aman bagi tumbuh kembang anak. (cay)













