Kanal24, Malang – Di tengah derasnya arus informasi mengenai konflik Palestina yang kerap diwarnai berbagai perspektif dan narasi yang saling bertentangan, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghadirkan kajian berbasis riset, kemanusiaan, dan fakta akademik. Melalui kolaborasi internasional, kampus dapat menjadi ruang strategis untuk memperkuat pemahaman yang objektif sekaligus mendorong solidaritas global terhadap isu-isu kemanusiaan.
Komitmen tersebut diperkuat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) melalui agenda diskusi internasional dan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) bersama The Global Workers Coalition for Support of Al-Quds and Palestine. Kegiatan berlangsung pada Kamis (18/6/2026) di Ruang Rapat 7.1 C Gedung C FISIP UB, Malang.
Baca juga:
Dari Perpustakaan ke Information Science, PSIP FIA UB Siapkan Transformasi Prodi

Kerja Sama Akademik dan Solidaritas Global
Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan sambutan dari Dekan FISIP UB, Dr. Ahmad Imron Rozuli, S.E., M.Si. Selanjutnya dilakukan penandatanganan nota kesepahaman sebagai simbol komitmen kedua pihak dalam memperkuat kerja sama akademik, pengembangan kajian, serta solidaritas kemanusiaan di tingkat internasional.
Penandatanganan MoU tersebut juga disertai prosesi pertukaran vandel dan cendera mata sebagai bentuk penghormatan serta penguatan hubungan kelembagaan antara FISIP UB dan jaringan organisasi internasional yang berfokus pada isu Palestina.
Bahas Konflik Palestina dan Peran Advokasi Internasional
Sesi pemaparan menghadirkan Dr. Khalil Al Zayyan, President of Canaan Strategic Studies sekaligus Deputy Head of Global Coalition for Support Al-Quds and Palestine.
Dalam paparannya, ia menjelaskan mandat organisasi, berbagai program advokasi internasional, serta upaya yang dilakukan untuk mendukung pekerja dan warga sipil Palestina yang terdampak konflik. Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas negara dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan di tengah dinamika geopolitik Timur Tengah yang terus berkembang.
Diskusi berlangsung interaktif dengan melibatkan dosen, mahasiswa, dan sivitas akademika FISIP UB. Berbagai isu mulai dari kondisi terkini Palestina, tantangan diplomasi internasional, hingga peran akademisi dalam membangun pemahaman yang lebih berimbang menjadi topik pembahasan dalam forum tersebut.

Dorong Kontra-Narasi dan Produksi Pengetahuan Objektif
Melalui kemitraan ini, FISIP UB melihat peluang besar untuk memperluas kolaborasi internasional dalam bidang penelitian, publikasi ilmiah, seminar, hingga pengembangan pusat kajian yang berfokus pada isu Timur Tengah dan kemanusiaan global.
Kerja sama tersebut juga diharapkan mampu mendorong lahirnya kontra-narasi berbasis data dan kajian akademik terhadap berbagai informasi yang berkembang terkait konflik Palestina. Produksi pengetahuan yang objektif dinilai penting untuk memperkaya diskursus publik sekaligus memberikan perspektif yang lebih komprehensif mengenai berbagai persoalan di kawasan Timur Tengah.
Langkah ini sejalan dengan komitmen Universitas Brawijaya yang selama ini aktif mendukung berbagai kegiatan kemanusiaan dan pengembangan kajian Timur Tengah melalui UB Solidarity Palestine, Brawijaya Institute for Islamic Civilization and Middle East Studies, serta Iran Corner.
Perkuat Peran FISIP UB dalam Isu Keadilan Global
Turut hadir dalam delegasi internasional tersebut Mr. Osama Mosab Marei selaku Global Coalition Secretary dan Ms. Zainab Bulge sebagai Assistant Secretary General for Asia Pacific Affairs.

Roadshow Akademik dan Penguatan Jejaring Internasional
Dalam rangka memperluas jejaring akademik dan diplomasi pengetahuan, salah satu dosen Hubungan Internasional Universitas Brawijaya, Abdullah S.Sos., M.Hub.Int., Assistant Professor of West Asia Studies, turut melakukan rangkaian roadshow ke sejumlah perguruan tinggi di Jawa Timur, di antaranya Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang, Universitas Islam Raden Rahmat (Unira), Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, serta Universitas Islam Internasional Dalwa.
Dalam kegiatan tersebut, Abdullah yang juga merupakan representatif Canaan Strategic Studies Indonesia menyampaikan bahwa keterlibatan akademisi Universitas Brawijaya dalam jejaring internasional merupakan bagian dari penguatan kapasitas keilmuan yang telah terhubung dengan diskursus global, khususnya kajian kawasan Timur Tengah dan isu ketenagakerjaan internasional.
Ia juga menambahkan bahwa kolaborasi yang terjalin dengan berbagai mitra, termasuk Dr. Khalil Al Zayyan, menunjukkan semakin menguatnya posisi akademisi Indonesia dalam percakapan akademik global terkait isu-isu kemanusiaan dan solidaritas pekerja internasional.
Melalui penandatanganan nota kesepahaman ini, FISIP Universitas Brawijaya kembali menegaskan posisinya sebagai institusi akademik yang tidak hanya berfokus pada pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga aktif berkontribusi dalam isu-isu keadilan global melalui pendekatan keilmuan sosial, politik, diplomasi, serta solidaritas internasional.
Kemitraan ini diharapkan menjadi fondasi bagi lahirnya berbagai program kolaboratif yang dapat memperkuat peran akademisi Indonesia dalam membangun dialog, memperluas jejaring internasional, dan menghadirkan solusi berbasis pengetahuan terhadap berbagai tantangan kemanusiaan dunia. (nid)














