Kanal24, Malang – Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap keamanan dan kehalalan pangan, tantangan industri saat ini tidak lagi sekadar menghasilkan produk yang halal. Konsumen semakin menuntut transparansi: bagaimana produk diproses, disimpan, didistribusikan, hingga sampai ke tangan mereka. Dalam rantai pasok pangan yang semakin panjang dan kompleks, memastikan status halal sekaligus menjaga kualitas produk secara konsisten menjadi tantangan yang tidak mudah diawasi secara real time.
Kondisi tersebut mendorong perlunya inovasi teknologi yang mampu menjamin ketertelusuran produk pangan dari hulu hingga hilir. Menjawab kebutuhan tersebut, tim peneliti Universitas Brawijaya (UB) mengembangkan inovasi Radio Frequency Identification–Halalan Thoyyiban Assurance System (RFID-HTAS) untuk meningkatkan transparansi dalam rantai dingin pangan. Teknologi ini dikembangkan dari riset dan publikasi tim peneliti yang memiliki pengalaman sebagai asesor dan auditor halal serta keamanan pangan.
Menariknya, inovasi ini lahir dari kolaborasi lintas disiplin ilmu. Tim RFID-HTAS diketuai oleh Prof. Dr. Sucipto dari Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) UB. Tim ini juga melibatkan Dr. Eng. Herman Tolle dari Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) UB, Aunur R. Mulyarto, S.TP., M.Sc., Prof. Dr. Siti Asmaul Mustaniroh dari FTAB UB, Cries Avian, S.T., M.T., Ph.D. dari Fakultas Teknik (FT) UB, serta Mahmuddin Ridlo sebagai mahasiswa doktoral FTAB UB. Pengembangan teknologi ini turut didukung mahasiswa Ade Surya Ananda dan Azka Robby Fuady dari FTAB UB serta Joe Christian Yuka dan Muhammad Irsyad Fariz dari Fakultas Teknik UB.

Menjawab Tantangan Ketertelusuran Pangan Modern
Salah satu persoalan utama dalam industri pangan adalah memastikan produk tetap memenuhi standar halal dan thoyyib sepanjang proses produksi, penyimpanan, hingga distribusi.
Dalam praktiknya, pengawasan rantai dingin pangan sering dilakukan secara terpisah dan belum terintegrasi secara menyeluruh. Padahal perubahan suhu selama penyimpanan maupun distribusi dapat memengaruhi kualitas, keamanan, bahkan kelayakan produk untuk dikonsumsi.
RFID-HTAS dirancang untuk menjawab kebutuhan tersebut melalui sistem pemantauan real time yang memungkinkan seluruh proses rantai dingin pangan dipantau secara lebih transparan. Teknologi ini mampu menjamin aspek halal dan thoyyib secara real time dengan sistem yang lebih efisien sesuai kebutuhan konsumen saat ini.
Dari Produksi Hingga Konsumen
Implementasi RFID-HTAS telah diuji coba pada UD Dhaden Kurnia Abadi dan PT Akademi Laut Selatan di Kepanjen, Kabupaten Malang sebagai penerima manfaat. Teknologi ini memungkinkan pemantauan rantai dingin pangan sejak tahap produksi hingga produk diterima konsumen.
Uji coba lapangan dilakukan pada usaha fillet patin milik UD Dhaden Kurnia Abadi pada 16 Juni 2026. Hasil pengujian menunjukkan perangkat dan sistem website yang dikembangkan dapat terintegrasi dan berfungsi secara normal.
Tim peneliti mencatat masih terdapat beberapa kendala pada integrasi backend karena sistem masih menggunakan server UB yang mengalami gangguan ketika diakses di luar jangkauan jaringan kampus. Meski demikian, secara keseluruhan prototipe berhasil beroperasi sesuai rancangan dan siap memasuki tahap pengembangan berikutnya.
Mitra industri juga berkontribusi dalam proses validasi lapangan untuk memastikan desain implementasi RFID-HTAS sesuai dengan kebutuhan operasional di sektor pangan.

Berpotensi Digunakan Industri Nasional hingga Ekspor
Pengembangan RFID-HTAS tidak hanya ditujukan untuk satu jenis usaha. Teknologi ini memiliki potensi diterapkan pada rumah potong hewan, industri pengolahan pangan, fasilitas penyimpanan, hingga distribusi produk peternakan dan perikanan untuk pasar nasional maupun ekspor.
Sistem ini dinilai mampu memberikan nilai tambah bagi produsen dan konsumen karena memungkinkan pemantauan aspek halal dan thoyyib secara lebih transparan, mendukung kepatuhan terhadap regulasi, serta meningkatkan daya saing usaha di tengah tuntutan pasar yang semakin tinggi terhadap ketertelusuran produk.
Di pasar global, kemampuan melacak asal-usul dan perjalanan produk semakin menjadi syarat penting, terutama untuk produk pangan yang menargetkan pasar ekspor.
Menuju Sistem Ketertelusuran Nasional
Melalui skema pendanaan kompetitif Penelitian Pengembangan Unggulan (PPU) Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains dan Teknologi (DIKST) UB, tim RFID-HTAS juga telah melakukan audiensi dengan pengelola Sistem Ketertelusuran dan Logistik Ikan Nasional (STELINA) di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia untuk menjajaki peluang integrasi data ketertelusuran.
Langkah tersebut membuka peluang agar teknologi yang dikembangkan tidak hanya digunakan pada skala usaha tertentu, tetapi dapat menjadi bagian dari ekosistem ketertelusuran pangan nasional yang lebih luas.
Saat ini RFID-HTAS telah mencapai Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) 7, yang berarti teknologi telah memasuki tahap pengujian pada lingkungan operasional nyata. Capaian tersebut menunjukkan bahwa inovasi yang dikembangkan telah melampaui tahap laboratorium dan mulai memasuki fase implementasi lapangan.
Di tengah meningkatnya tuntutan konsumen terhadap keamanan, transparansi, dan jaminan halal pangan, RFID-HTAS menjadi contoh bagaimana riset perguruan tinggi dapat menjawab kebutuhan industri sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap produk pangan yang mereka konsumsi. (din)














