Kanal24, Malang – Kecerdasan buatan (AI), otomasi, dan transformasi digital mengubah lanskap dunia kerja lebih cepat dibanding sebelumnya. Sejumlah pekerjaan mulai tergantikan teknologi, sementara berbagai profesi baru terus bermunculan dengan tuntutan kompetensi yang berbeda.
Di tengah perubahan tersebut, perguruan tinggi vokasi menghadapi tantangan besar: bagaimana memastikan lulusannya tetap relevan dan mampu beradaptasi dengan kebutuhan industri masa depan.
Isu inilah yang menjadi salah satu fokus kolaborasi internasional Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya (UB) melalui program EQUITY (Enhancing Quality Education for International University Impacts and Recognition) – Visiting Top Professor yang menghadirkan Assoc. Prof. Dr. Muhammad Anshari, pakar Business Information Systems dari Universiti Brunei Darussalam (UBD).
Baca juga : Vokasi UB Tawarkan Pendidikan Praktik Berbasis Industri
Kegiatan yang berlangsung sejak akhir Mei hingga pertengahan Juni tersebut tidak hanya menghadirkan kuliah tamu, tetapi juga workshop riset, pendampingan publikasi internasional, serta diskusi penguatan ekosistem riset terapan di lingkungan Vokasi UB.
Ketika Teknologi Menentukan Pemenang
Dalam kuliah tamu yang digelar pada 23 Mei, Prof. Anshari mengangkat topik Fourth Industrial Revolution (4IR) dan Job Matrix Framework.
Ia menyoroti bagaimana persaingan global saat ini semakin ditentukan oleh penguasaan teknologi.
“Di era ‘Techno War’ saat ini, siapa pun yang menguasai tulang punggung teknologi akan menjadi pemenang peradaban.”
Menurutnya, perkembangan teknologi tidak semestinya dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai peluang untuk meningkatkan kapasitas manusia.

Pesan tersebut kembali ia tegaskan saat membahas Knowledge Management (KM) dan model SECI (Socialisation, Externalisation, Combination, Internalisation) dalam sesi berikutnya.
“Teknologi seharusnya membuat manusia lebih gesit (agile), bukan malah menjadi tidak relevan di tempat kerja,” ungkapnya.
Tak Cukup Terampil, Mahasiswa Perlu Mampu Menghasilkan Riset
Selain mahasiswa, para dosen juga mendapatkan pendampingan khusus terkait strategi memenangkan hibah penelitian internasional dan meningkatkan kualitas publikasi ilmiah.
Dalam workshop penelitian yang digelar 26 Mei, Prof. Anshari membahas berbagai strategi memperoleh research grant internasional sekaligus menghindari desk rejection yang kerap menjadi tantangan peneliti.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, diskusi kolaborasi riset dan publikasi pada 18 Juni difokuskan pada pengembangan hasil proyek mahasiswa menjadi luaran riset terapan yang siap dipublikasikan pada jurnal bereputasi internasional dengan target Scopus Q1.
Menyiapkan Pendidikan Vokasi untuk Masa Depan
Dekan Fakultas Vokasi UB, M. Kholid Mawardi, S.Sos., M.A.B., Ph.D., menilai kehadiran profesor internasional menjadi bagian dari strategi jangka panjang fakultas dalam memperkuat daya saing global.
“Kehadiran profesor kelas dunia seperti Prof. Anshari merupakan bagian dari strategi besar kami untuk mengakselerasi reputasi internasional Vokasi UB. Kami tidak hanya ingin mahasiswa kami mahir secara praktis, tetapi juga memiliki wawasan global dan mampu menghasilkan riset terapan yang diakui dunia. Kolaborasi ini adalah bukti nyata komitmen kami dalam membangun ekosistem pendidikan yang relevan dengan kebutuhan industri masa depan,” ujar M. Kholid Mawardi.
Program ini juga menjadi bagian dari upaya internasionalisasi UB melalui penguatan kolaborasi global dan kemitraan akademik. Kehadiran Prof. Anshari yang masuk dalam jajaran Top 2% World Scientists versi Stanford University diharapkan semakin memperkuat langkah Vokasi UB dalam membangun ekosistem pembelajaran dan riset yang terhubung dengan kebutuhan dunia kerja global. (Din)














