Kanal24, Malang – Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak lagi sekadar menjadi teknologi masa depan. AI kini hadir di ruang kelas, laboratorium penelitian, hingga dunia industri, mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan menghasilkan pengetahuan.
Di tengah percepatan transformasi digital tersebut, perguruan tinggi dituntut tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu melahirkan inovasi dan riset yang relevan dengan kebutuhan global.
Tantangan itulah yang mendorong Program Studi D3 Teknologi Informasi Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya (UB) memperkuat kolaborasi internasional dengan menggandeng pakar kecerdasan buatan dari Sejong University, Korea Selatan, Dr. Muhammad Syafrudin.
Baca juga : Kuliah Umum NVIDIA, Vokasi UB Tancap Gas Kolaborasi AI dengan Industri Global
Kolaborasi yang didukung melalui Program EQUITY tersebut memasuki tahap akhir pada (18/6/2026) melalui diskusi daring mengenai skema penelitian bersama (joint research) serta finalisasi artikel ilmiah yang ditargetkan terbit pada jurnal internasional bereputasi Scopus Q1.
Lebih dari sekadar publikasi ilmiah, kerja sama ini juga diarahkan untuk mendukung pembentukan Center of Excellence on AI and Learning Innovation di Universitas Brawijaya.

Dari AI hingga Peluang Studi ke Korea
Kolaborasi antara akademisi UB dan Sejong University telah berlangsung sejak awal 2026 melalui berbagai program peningkatan kapasitas bagi dosen dan mahasiswa.
Dalam workshop penelitian dan publikasi pada Februari lalu, Dr. Syafrudin membagikan strategi menembus jurnal internasional bereputasi sekaligus memperkenalkan pemanfaatan AI untuk mendukung pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
Tak hanya menyasar dosen, kegiatan tersebut juga membuka ruang pembelajaran bagi mahasiswa. Dalam sesi khusus, mahasiswa Teknologi Informasi Vokasi UB mendapatkan pembekalan mengenai penyusunan portofolio akademik, teknik penulisan ilmiah, hingga peluang melanjutkan studi melalui program beasiswa Global Korea Scholarship (GKS).
Mereka juga memperoleh pelatihan teknis visualisasi data menggunakan Apache Superset dan sistem Docker, keterampilan yang kini semakin dibutuhkan dalam pengelolaan data dan pengembangan teknologi berbasis AI.
Menyiapkan Pembelajaran yang Adaptif
Ketua pengusul program, Eka Ratri Noor W., menilai keterlibatan akademisi internasional menjadi langkah penting dalam mempercepat transformasi pendidikan vokasi.
Menurutnya, kolaborasi dengan Dr. Syafrudin tidak hanya berorientasi pada peningkatan kapasitas individu dosen, tetapi juga mendorong pengembangan model pembelajaran yang lebih adaptif dan berbasis proyek.
“Keterlibatan mitra internasional bereputasi seperti Dr. Syafrudin sangat krusial dalam mentransformasi kurikulum menuju model pembelajaran adaptif berbasis proyek (project-based learning),” ujarnya.
Ia menambahkan, program tersebut juga berkontribusi langsung terhadap pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) universitas, khususnya pada aspek kerja sama riset dan kelas kolaboratif internasional.
Terhubung dengan Jaringan Riset Dunia
Dr. Muhammad Syafrudin sendiri merupakan Assistant Professor pada Department of Artificial Intelligence and Data Science Sejong University, Seoul, sekaligus Direktur Applied INTelligence Lab (AINTLab). Dengan lebih dari 5.400 sitasi ilmiah, ia dikenal sebagai salah satu akademisi yang aktif mengembangkan riset di bidang kecerdasan buatan dan sains data.
Bagi Vokasi UB, kehadiran akademisi dengan jejaring internasional tersebut tidak hanya membuka peluang kolaborasi riset, tetapi juga memperluas akses mahasiswa dan dosen terhadap perkembangan terbaru di bidang AI yang kini menjadi salah satu teknologi paling berpengaruh dalam berbagai sektor kehidupan.














