Kanal24, Malang – Dukungan Indonesia terhadap Palestina selama ini lebih sering dilihat dari perspektif diplomasi dan politik luar negeri. Namun bagi organisasi pekerja internasional yang memperjuangkan hak-hak masyarakat Palestina, Indonesia juga dinilai memiliki peran strategis dalam membangun solidaritas global dan memperkuat suara kemanusiaan di tingkat internasional.
Pandangan tersebut menjadi salah satu alasan di balik kunjungan delegasi The Global Workers Coalition for Support of Al-Quds and Palestine ke Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) pada Juni 2026. Melalui kunjungan tersebut, koalisi pekerja internasional asal Palestina berupaya membangun kemitraan akademik sekaligus memperluas jaringan advokasi di Indonesia.
Dalam surat resmi yang dikirimkan kepada Dekan FISIP UB, Dr. Ahmad Imron Rozuli, koalisi tersebut menegaskan bahwa Indonesia memiliki posisi penting dalam upaya membangun solidaritas internasional bagi rakyat Palestina.
Baca juga:
Dari Gaza ke Malang, Dr. Khalil Bawa Suara 520 Ribu Pekerja Palestina ke Forum Internasional
“Indonesia’s voice carries enormous weight regionally and internationally.”
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia dipandang sebagai salah satu negara yang memiliki pengaruh besar dalam membentuk opini dan dukungan global terhadap isu Palestina.
Soroti Kondisi Pekerja Palestina
Selain membangun kemitraan, delegasi tersebut juga membawa perhatian dunia terhadap kondisi para pekerja Palestina yang terdampak konflik berkepanjangan.
Dalam surat yang ditandatangani Dr. Khalil Mosbah Al Zayyan, disebutkan bahwa lebih dari 520 ribu pekerja Palestina di Gaza dan Tepi Barat menghadapi berbagai tantangan berat, mulai dari keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar hingga menurunnya kesempatan kerja akibat situasi yang terus berlangsung.
Dokumen tersebut juga menyebut tingkat pengangguran di Gaza telah melampaui 90 persen dan mendorong ratusan ribu pekerja ke bawah garis kemiskinan. Kondisi tersebut dinilai tidak hanya menjadi persoalan lokal, melainkan isu kemanusiaan yang membutuhkan perhatian komunitas internasional.
“Today, more than 520,000 Palestinian workers across Gaza and the West Bank are facing unprecedented hardship.”
Pernyataan itu menggambarkan besarnya tantangan yang dihadapi pekerja Palestina di tengah kondisi yang tidak menentu.
Membangun Jaringan Solidaritas Global
Koalisi pekerja Palestina menilai bahwa organisasi pekerja, perguruan tinggi, dan masyarakat sipil memiliki peran penting dalam membangun kesadaran global mengenai isu kemanusiaan. Karena itu, kunjungan ke Indonesia tidak hanya bertujuan memperkenalkan kondisi yang dihadapi pekerja Palestina, tetapi juga membuka peluang kolaborasi jangka panjang.
Dalam surat tersebut, delegasi Palestina menyampaikan tiga tujuan utama kunjungan mereka, yakni memperkuat suara bersama dalam forum-forum internasional, menyelaraskan narasi mengenai kondisi pekerja Palestina, serta membangun kemitraan advokasi yang berkelanjutan.
“This is not a distant crisis. It is a test of whether the global labour movement will use its collective voice to shape the narrative, hold the powerful accountable, and stand in solidarity when it matters most.”
Pesan tersebut menjadi ajakan bagi berbagai organisasi di dunia untuk mengambil peran lebih aktif dalam menyuarakan isu kemanusiaan dan hak-hak pekerja Palestina.
FISIP UB Jadi Ruang Dialog Internasional
Kunjungan delegasi Palestina ke FISIP Universitas Brawijaya menjadi salah satu bentuk upaya mempertemukan dunia akademik dengan berbagai isu global yang berkembang. Selain memperkuat kerja sama internasional, forum tersebut membuka ruang diskusi mengenai kemanusiaan, ketenagakerjaan, diplomasi, dan peran masyarakat sipil dalam merespons berbagai tantangan global.
Di tengah dinamika dunia yang semakin kompleks, kolaborasi lintas negara seperti ini menunjukkan bahwa kampus tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan dan penelitian, tetapi juga menjadi ruang dialog yang mempertemukan berbagai perspektif dalam mencari solusi atas persoalan kemanusiaan yang dihadapi masyarakat dunia.














