Kanal24, Malang – Di tengah konflik yang terus berlangsung di Palestina, jutaan cerita tentang kehidupan warga sipil sering kali tenggelam di balik sorotan politik dan peperangan. Padahal, di balik setiap statistik terdapat pekerja, keluarga, dan masyarakat yang berjuang mempertahankan kehidupan sehari-hari di tengah berbagai keterbatasan.
Pesan inilah yang dibawa Dr. Khalil Al Zayyan, pejabat senior pemerintah Palestina, pemimpin serikat pekerja, dan advokat internasional, saat hadir dalam agenda kerja sama internasional dan diskusi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB), Kamis (18/6/2026). Tokoh asal Gaza tersebut dikenal sebagai salah satu figur yang aktif memperjuangkan hak-hak pekerja Palestina melalui jalur diplomasi, advokasi internasional, dan gerakan serikat pekerja.
Dalam profil yang diperkenalkan kepada peserta kegiatan, Dr. Khalil disebut telah mengabdikan lebih dari 18 tahun kariernya di Kementerian Transportasi dan Komunikasi Palestina di Gaza. Selain menjadi juru bicara pemerintah, ia juga memimpin Union of Government Sector Employees, serikat pekerja sektor pemerintahan yang mewakili lebih dari 60 ribu pegawai publik di Gaza. Ia juga aktif menjembatani berbagai jaringan pekerja Palestina dengan organisasi internasional di Asia dan Eropa.
Baca juga:
FISIP UB Jalin Kerja Sama Internasional untuk Perkuat Dukungan bagi Palestina

Membawa Suara Pekerja Palestina ke Dunia Internasional
Sejak 2023, peran Dr. Khalil semakin meluas di tingkat global. Ia dipercaya menjadi perwakilan Asia Timur dalam International Trade Union Coalition for the Support of Palestine and Jerusalem, sebuah jaringan yang mempertemukan berbagai organisasi pekerja dari sejumlah negara untuk memperjuangkan isu-isu kemanusiaan dan ketenagakerjaan Palestina.
Melalui berbagai forum internasional, ia mengangkat persoalan yang dihadapi para pekerja Palestina, mulai dari tantangan ekonomi, keterbatasan akses layanan publik, hingga perlindungan hak-hak pekerja di tengah situasi konflik yang berkepanjangan.
Dalam dokumen profilnya, Dr. Khalil menegaskan bahwa perjuangannya bukan sekadar menyampaikan angka statistik, melainkan memastikan kisah dan realitas pekerja Palestina mendapat perhatian dunia.
“His mission is to ensure that the reality of Palestinian workers is not a statistic in a report, but a call to action that the international labour movement cannot ignore.”
Pernyataan tersebut menggambarkan visinya untuk menjadikan isu pekerja Palestina sebagai perhatian bersama komunitas internasional.
Mewakili Ratusan Ribu Pekerja
Dalam profil yang sama disebutkan bahwa advokasi internasional yang dilakukan Dr. Khalil berkaitan dengan kepentingan lebih dari 520 ribu pekerja Palestina yang berada di Gaza dan Tepi Barat. Selain itu, ia juga mewakili sekitar 60 ribu pegawai sektor pemerintahan melalui organisasi serikat pekerja yang dipimpinnya.
Pengalaman panjang sebagai juru bicara pemerintah dan pemimpin serikat pekerja membuatnya dikenal sebagai salah satu suara pekerja Palestina yang cukup berpengaruh dalam berbagai forum internasional. Profil tersebut mencatat bahwa selama lebih dari 17 tahun ia aktif menjadi juru bicara resmi pemerintah Palestina di sektor transportasi dan komunikasi.
Membangun Solidaritas Global
Bagi Dr. Khalil, gerakan pekerja memiliki peran strategis dalam membangun solidaritas internasional. Ia meyakini bahwa jaringan organisasi pekerja dapat menjadi kekuatan untuk memengaruhi kebijakan, membentuk opini publik, dan memperjuangkan nilai-nilai keadilan sosial.
Dalam salah satu pernyataan yang tercantum dalam dokumen profilnya, ia menyampaikan:
“The global labour movement has the power to change narratives, shift policy, and stand on the right side of history.”
Pandangan tersebut menjadi dasar berbagai upaya yang dilakukan untuk memperluas kolaborasi antara organisasi pekerja Palestina dengan komunitas internasional.
Dari Gaza ke Malang
Kehadiran Dr. Khalil di FISIP UB menjadi bagian dari upaya memperkuat jejaring internasional sekaligus membuka ruang dialog akademik mengenai isu kemanusiaan, ketenagakerjaan, dan konflik di Timur Tengah.
Bagi dunia akademik, pertemuan semacam ini memberikan kesempatan untuk memahami persoalan Palestina dari perspektif yang lebih luas, termasuk melalui pengalaman mereka yang terlibat langsung dalam advokasi masyarakat sipil dan pekerja.
Menutup profilnya, Dr. Khalil menyampaikan sebuah pesan yang mencerminkan semangat kolaborasi lintas negara dalam memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan.
“Together, we do not simply witness history, we shape it.”
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa solidaritas global tidak hanya lahir dari perhatian terhadap sebuah konflik, tetapi juga dari kemauan untuk mendengar dan memahami suara-suara yang selama ini jarang terdengar di panggung dunia. (nid)














