Kanal24, Malang – Universitas Brawijaya (UB) menegaskan komitmennya dalam mendukung internasionalisasi pendidikan melalui Closing Ceremony Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) Kemitraan Negara Berkembang (KNB) Tahun Akademik 2025/2026 yang digelar di Ruang Rapat Lantai 6 Gedung A Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UB, Senin (22/6/2026). Sebanyak lima mahasiswa internasional asal Timor Leste dan beberapa negara Afrika resmi menyelesaikan program pembelajaran bahasa Indonesia sebagai bekal sebelum memasuki studi pascasarjana di UB. Program ini tidak hanya membangun kompetensi bahasa, tetapi juga memperkuat pemahaman budaya Indonesia sehingga mahasiswa asing lebih siap mengikuti kehidupan akademik di lingkungan kampus.
Wakil Rektor Bidang Akademik UB, Prof. Dr. Ir. Imam Santoso, M.P., menjelaskan bahwa Program BIPA merupakan tahapan strategis bagi mahasiswa penerima beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB). Menurutnya, penguasaan bahasa Indonesia menjadi kunci agar mahasiswa mampu mengikuti proses pembelajaran, berinteraksi dengan dosen maupun mahasiswa lain, hingga menyelesaikan tugas akademik secara optimal.
“Tentu para mahasiswa asing difasilitasi melalui program BIPA ini sehingga mereka memiliki kemampuan berbahasa Indonesia yang akan memberikan dampak signifikan. Pertama, bagi mereka untuk menyelesaikan studinya dengan sangat baik. Kedua, mereka bisa menjadi duta Indonesia dan duta Universitas Brawijaya,” ujarnya.
Baca juga:
Saat Konsumen Sulit Dipahami, Dosen Psikologi UB Gandeng Osaka University Teliti Neuromarketing
Imam menambahkan, UB melalui UPT Global Partnership and Reputation (GPR) akan terus memperkuat layanan bagi mahasiswa internasional, baik dalam aspek akademik maupun adaptasi sosial. Menurutnya, pengalaman belajar yang positif akan membentuk hubungan jangka panjang antara mahasiswa asing dengan Indonesia. Ketika kembali ke negara asal, mereka diharapkan menjadi representasi yang mampu memperkenalkan budaya Indonesia sekaligus meningkatkan reputasi Universitas Brawijaya di tingkat internasional.

Bekal Bahasa dan Budaya Jadi Kunci Sukses Akademik
Dekan FIB UB, Sahiruddin, S.S., M.A., Ph.D., menyebut Program BIPA memiliki fungsi yang serupa dengan program foundation di berbagai perguruan tinggi luar negeri. Selama satu tahun, mahasiswa tidak hanya mempelajari bahasa Indonesia, tetapi juga memahami budaya, karakter masyarakat, hingga pola komunikasi akademik yang akan mereka hadapi saat kuliah nanti.
“Program ini sangat penting karena memberikan persiapan kepada calon mahasiswa luar negeri agar memiliki pengetahuan yang cukup, keterampilan berbahasa, serta pemahaman budaya. Sehingga ketika sudah kuliah di UB, mereka siap secara akademik maupun non-akademik,” jelasnya. Ia juga mengungkapkan bahwa seluruh peserta tahun ini berhasil menunjukkan kompetensi bahasa yang sangat baik sehingga dinilai siap memasuki program studi masing-masing.

Sementara itu, Perwakilan Ketua UPT Global Partnership and Reputation UB, Henny Rosalinda, S.IP., M.A., Ph.D., menilai pelaksanaan Program BIPA tahun 2025/2026 berjalan semakin matang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tantangan terbesar berasal dari perbedaan budaya, terutama bagi mahasiswa asal Afrika yang membutuhkan proses adaptasi lebih panjang dibandingkan peserta dari Timor Leste. Namun, menurutnya seluruh peserta mampu melewati proses tersebut dengan baik. “Alhamdulillah mereka mampu menyelesaikan tantangan tersebut dan sekarang tampak sangat menikmati prosesnya, bahkan merasa dekat dengan Indonesia dan menjadi mahasiswa di Universitas Brawijaya,” ungkapnya.
Keberhasilan lima peserta Program BIPA KNB tahun ini menjadi modal penting bagi Universitas Brawijaya untuk terus memperluas jejaring internasional melalui penerimaan mahasiswa asing pada periode berikutnya. Dengan kualitas pembelajaran bahasa yang semakin baik, UB berharap mampu melahirkan lebih banyak lulusan internasional yang tidak hanya sukses secara akademik, tetapi juga menjadi jembatan kerja sama antara Indonesia dan negara asal mereka. (cay)














