Kanal24, Malang – Di tengah meningkatnya penggunaan sapi impor dan persilangan, keberadaan Sapi Peranakan Ongole (PO) sebagai salah satu plasma nutfah asli Indonesia menghadapi tantangan yang tidak ringan. Tanpa upaya pemuliaan yang terarah, kualitas genetik ternak lokal dikhawatirkan terus menurun sehingga mengancam produktivitas sekaligus keberlanjutan sumber daya genetik nasional.
Persoalan tersebut menjadi fokus penelitian kandidat doktor Fakultas Sains dan Teknologi Peternakan Universitas Brawijaya (FAST UB), Doni Herviyanto, S.Pt., M.Pt. Melalui penelitian yang dilakukan di pusat plasma nutfah sapi PO di Desa Napis, Kabupaten Bojonegoro, Doni menyusun parameter genetik yang diharapkan dapat menjadi acuan dalam program seleksi dan pengembangan mutu sapi PO di Indonesia.
Baca juga : Telur Rendah Kolesterol dari Jangkrik? Disertasi FAST UB Temukan Alternatif Pengganti Antibiotik Ternak
Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Peternakan Universitas Brawijaya (FAST UB) , Prof. Dr. Ir. Muhammad Halim Natsir, S.Pt., M.P., ASEAN Eng., menilai penelitian tersebut penting karena perhatian terhadap sapi lokal mulai berkurang seiring meningkatnya minat peternak terhadap sapi impor maupun sapi hasil persilangan.
“Potensi sapi PO asli Indonesia ini perlu diangkat kembali,” ujarnya.

Menurut Halim, pengembangan sapi PO tidak dapat dilakukan secara parsial. Upaya tersebut harus mencakup pemuliaan, perbaikan pakan, reproduksi, hingga sistem pemeliharaan agar pusat plasma nutfah seperti di Desa Napis tetap mampu menghasilkan bibit unggul yang berkelanjutan.
Menyusun “Peta Genetik” Sapi PO
Promotor disertasi, Prof. Dr. Ir. Kuswati, M.S., IPM., ASEAN Eng., menjelaskan penelitian Doni berhasil memenuhi capaian KKNI Level 9 dengan menghasilkan kebaruan ilmiah (novelty), satu publikasi internasional bereputasi Scopus Q4, serta satu prosiding internasional.
Menurutnya, nilai utama penelitian ini terletak pada penyusunan parameter genetik dan analisis Principal Component Analysis (PCA) terhadap karakter morfometrik sapi PO.
Hasil tersebut dapat dimanfaatkan sebagai dasar seleksi bibit unggul sehingga proses pemuliaan tidak lagi hanya mengandalkan pengamatan fisik, tetapi juga didukung data ilmiah yang lebih akurat.
Selain menjadi referensi bagi program pemuliaan sapi PO, hasil penelitian tersebut juga diharapkan menjadi rujukan bagi penelitian genetika ternak lokal di berbagai daerah di Indonesia.
Dari Disertasi Menuju Hilirisasi Riset
Bagi Doni Herviyanto, penelitian ini lahir dari keprihatinan terhadap masih minimnya perhatian terhadap pengembangan sapi PO. Padahal, sebagai plasma nutfah lokal, sapi PO memiliki nilai strategis dalam menjaga kemandirian sektor peternakan nasional.
Ia berharap hasil penelitiannya yang telah dipublikasikan pada jurnal ilmiah internasional tidak berhenti sebagai karya akademik, tetapi dapat dimanfaatkan dalam pengembangan kebijakan maupun program pemuliaan ternak di lapangan.
Sementara itu, Prof. Halim menegaskan bahwa pencapaian gelar doktor seharusnya menjadi awal bagi lahirnya riset-riset lanjutan yang lebih berdampak.
Menurutnya, para doktor didorong untuk terus mengembangkan penelitian melalui berbagai skema hibah nasional maupun internasional, sekaligus menghasilkan publikasi bereputasi hingga jurnal Scopus Q1.
Dengan riset yang berkelanjutan, pengembangan plasma nutfah sapi lokal tidak hanya memperkuat daya saing peternakan Indonesia, tetapi juga menjaga keberlanjutan sumber daya genetik nasional bagi generasi mendatang.(ffn/din)














